Titipan Tuhan – Part 4

Oleh: Egie

KABARPAS.COM – “Maafin Hanni kak… maaf… Senja Harry, sungguh bukan anak kandung kakak. Maaf….” Suara Hanni hilang seketika, digantikan suara teriakan histeris Khanin.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!”

Khanin berlari menuju ke ruang Alamanda, tempat Harry dirawat. Sesampainya di depan pintu ruangan Alamanda, kakinya tiba-tiba terasa lemas tak bertenaga. Ingin rasanya dia kembali ke ruang operasi dan menyangkal semua pengakuan Hanni. Hatinya bimbang dan bergejolak. Namun akhirnya dia tetap masuk, menguatkan hatinya, seraya menatap ke arah Harry yang terlihat pucat dan sedang tertidur pulas. Tidak terasa air matanya menetes. “Apa benar yang ibumu katakan, Nak?” bisiknya lirih.

Aku terkejut melihat Khanin yang tiba-tiba di samping tempat tidur Harry sambil menangis. Dia terlihat sangat sedih memandangi putra kesayangannya. Seketika dia menghapus air matanya ketika menyadari kehadiranku, kemudian berkata, “Mbak Ar, makasih banyak ya sudah jagain Harry. Maaf karena sering merepotkan.”

“Sama-sama, Nin. Santai aja kali! Kayak sama siapa aja kamu. Hehe,” jawabku sedikit mencairkan suasana.

Khanin hanya tersenyum simpul, terlihat seperti memaksakan diri. Kemudian dia bercerita singkat tentang kondisi Hanni dan bayinya yang memburuk di ruang persalinan. Kemudian, dia memintaku untuk menggantikannya menjaga Hanni di depan ruang operasi. Aku mengiyakan tanpa berani bertanya alasannya.

Aku pergi ke depan ruang operasi. Rupanya ada perawat yang sudah menunggu keluarga Hanni, seperti ingin memberitahukan sesuatu. Aku langsung menghampirinya dan bertanya tentang kondisi Hanni dan bayinya.

Perawat itu menjelaskan bahwa bayi Hanni tidak dapat diselamatkan dan meninggal di dalam kandungan karena keracunan air ketuban dan sangat sulit dikeluarkan. Beratnya yang hampir mencapai 5 kg membuat dokter kesulitan mengeluarkannya. Ditambah lagi kondisi Hanni yang belum sadarkan diri karena terlambat mendapat transfusi darah. Meskipun sudah ada pendonor, namun darah yang dibutuhkan Hanni masih belum terpenuhi, hemoglobinnya masih rendah.

Mendengar kabar tersebut, aku tak kuasa menahan kesedihan. Betapa berat cobaan yang dihadapi Khanin dan keluarganya. Aku bingung harus mengatakan berita buruk ini dengan cara apa pada Khanin. Aku memutuskan untuk mengurus segala keperluan pemakaman bayi Hanni sendiri. Setelah selesai, barulah aku memberitahukan hal ini pada Khanin dan Hanni.

Setelah aku memberitahukan berita duka tersebut pada Khanin, dia menanggapi dengan raut wajah yang menakutkan. Dia menanggapi dengan nada datar tanpa ekspresi di wajahnya. Dia berpesan, setelah pemakaman selesai, aku tidak diizinkan memberitahukan pada Hanni soal kabar meninggalnya bayi mereka. Dia juga berpesan padaku untuk menjaga Hanni di rumah sakit, karena setelah si kecil Harry pulih, dia ingin pergi ke suatu tempat bersamanya.

Aku semakin sulit mencerna jalan pikiran Khanin. Dia seperti sedang marah dalam diam, serta menyimpan luka dalam tenangnya.

===to be continue===

___________________________________________________________________________________

*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com.