Jember, Kabarpas.com – Stigma terhadap penderita tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penghambat utama keberhasilan pengobatan dan pengendalian penyakit menular tersebut di masyarakat. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra sekaligus Ketua Dharma Wanita RSD dr. Soebandi, Dr. dr. Ni Njoman Juliasih, M.Kes, di Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember.
Penelitian yang dilakukan pada 12 Februari 2026 sampai 10 Maret 2026 itu, melibatkan 388 penderita TB yang diwawancarai secara mendalam untuk mengetahui tingkat kepatuhan mereka dalam menjalani Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Hasil studi awal menunjukkan bahwa selain faktor tenaga kesehatan dan pengetahuan pasien, stigma sosial masih menjadi faktor kuat yang memengaruhi keberhasilan pengobatan.
Stigma membuat sebagian pasien enggan terbuka mengenai penyakitnya, bahkan ada yang memilih menghentikan pengobatan karena takut dikucilkan oleh lingkungan. Padahal, ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat berisiko menyebabkan kegagalan terapi.
“Pasien yang tidak patuh berisiko drop out dari pengobatan. Kondisi ini tidak hanya membahayakan dirinya, tetapi juga dapat menyebabkan kuman menjadi kebal atau Multi-Drug Resistant, serta meningkatkan potensi penularan di masyarakat,” ujar dr. Juliasih.
Dalam penelitian tersebut, faktor tenaga kesehatan tetap menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi kepatuhan pasien, terutama dalam hal komunikasi, pemberian informasi, dan edukasi. Namun, faktor budaya seperti stigma dan kepercayaan masyarakat terbukti memperkuat hambatan psikologis pasien untuk menjalani terapi secara konsisten.
Pengobatan TB yang tidak tuntas membuat kuman tetap hidup di dalam tubuh pasien. Akibatnya, risiko penularan kepada anggota keluarga dan lingkungan sekitar semakin tinggi, sekaligus memperbesar beban kesehatan masyarakat.
Penelitian ini melibatkan kerja sama berbagai pihak, termasuk Tim Penggerak PKK Kecamatan Jombang, kader kesehatan, Puskesmas Jombang, Ikatan Bidan Indonesia Cabang Jember, serta Poli TB RSD dr. Soebandi Jember. Kolaborasi tersebut memungkinkan pengumpulan data secara langsung dari pasien melalui wawancara mendalam.
Sebagai peneliti di bidang kesehatan masyarakat dan kedokteran komunitas, dr. Ni Njoman Juliasih menilai upaya penanggulangan TB tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga harus menyasar perubahan persepsi masyarakat.
Ia berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk memperkuat edukasi publik serta mengurangi stigma terhadap penderita TB, sehingga keberhasilan terapi dan pengendalian penularan dapat meningkat.
“Semoga hasil penelitian awal ini dapat membantu menurunkan prevalensi TB di Kabupaten Jember dan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan kesehatan ke depan,” tandasnya. (dan/ian).



















