Sempat Diperiksa Polisi, 4 Pegawai PT Timas Suplindo Akhirnya Kembali Bekerja

Pasuruan (Kabarpas.com) – PT Timas Suplindo mengakui 4 pegawai mereka sempat diperiksa aparat kepolisian gara-gara tidak bisa menunjukkan paspor. Empat pegawai itu satu orang berasal dari Malaysia dan 3 (tiga) lainnya dari Thailand.

“Paspor pegawai itu tidak bisa ditunjukkan karena sedang dibawa agennya. Kemarin malam paspor mereka sudah ditunjukkan pada aparat kepolisian. Jadi sudah tidak ada masalah lagi. Mereka hari ini sudah kembali beketja,” kata Slamat Ismanto, pimpinan PT Timas Suplindo, Kamis (26/05/2016).

Slamat menjelaskan, 4 (empat) warga negara asing itu diperkerjakan PT Timas Suplindo untuk mendukung proyek pemasangan gas pipa yang sedang dilakukan oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).

“Jadi yang diperiksa polisi bukan pekerja HCML, tetapi pekerja perusahaan PT Timas Suplindo sebagai salah satu rekanan atau vendor. Dalam proyek pemasangan pipa ini, total tenaga kerja yang akan kami libatkan nantinya sekitar 100 sampai 200 orang. Komposisinya 80 persen tenaga kerja Indonesia dan sisanya berkewarganegaraan asing,” katanya.

Seperti diberitakan, Rabu (25/5/2016), aparat kepolisian dari Polda Jatim mengamankan 4 pekerja asing yang sedang ada di atas kapal di perairan Pasuruan. Setelah diamankan mereka dibawa ke Polda Jatim.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. R. Prabowo Argomengatakan, pengamanan empat pekerja itu terkait dengan adanya pekerja asing pada perusahaan gas yang diduga tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah.

“Kami belum tahu identitas mereka. Karena masih dalam proses pemeriksaan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Slamat menegaskan, PT Timas Suplindo menghargai kewaspadaan aparat kepolisian dalam mencegah kehadiran tenaga kerja asing ilegal. Slamat memastikan, seluruh pekerja asing yang mereka pekerjakan memiliki dokumen keimigrasian dan izin kerja yang lengkap.

“Dokumen mereka sudah ditunjukkan. Alhamdulillah tidak ada masalah lagi,” kata Slamat.

Ditambahkan, 4 tenaga kerja yang sempat diperiksa polisi itu memang diperlukan karena memiliki keahlian khusus yang memang dibutuhkan dalam pemasangan pipa gas bawah laut. Satu orang dari Malyasia pada posisi field engineer, sementara tiga lainnya setingkat supervisor dan foreman.

Dijelaskan, dalam jasa penopang kegiatan industri hulu migas yang membutuhkan banyak keahlian khusus, lazim menggunakan tenaga kerja dari berbagai negara bergantung jenis pekerjaannya. Khusus dalam proyek pemasangan pipa bawah laut ini, pihak PT Timas Suplindo harus bisa menjamin pemasangan pipa gas bawah laut itu benar-benar bisa memenuhi standar yang ditentukan pemerintah dan standar migas.

Untuk diketahi, pada bulan Mei 2016 ini HCML mulai melakukan pengembangan lapangan gas BD yang berlokasi di Selat Madura. Karena itu mereka harus mempersiapkan infrastruktur, termasuk menggelar pipa dari lokasi pengeboran gas ke Pasuruan sebelum dialirkan ke konsumen.

“Kami sebenarnya ingin semua tenaga kerja dalam proyek ini adalah tenaga kerja Indonesia. Karena jelas lebih efisien, misalnya kami tidak harus menerbangkan dari negara asal dan mengurus berbagai jenis perizinan yang membutuhkan tambahan biaya. Tapi karena tenaga ahli seperti ini bertebaran di banyak proyek di seluruh dunia, kami akhirnya bisa mendapatkan yang dari Malyasia dan Thailand itu,” tambahnya.

Ditambahkan, dalam pengerjaaan proyek di luar negeri, sebagai perusahaan nasional yang berbasis di Jakarta, PT Timas Suplindo sebenarnya lebih suka menggunakan tenaga kerja Indonesia. Namun terkadang, tenaga kerja Indonesia yang punya keahlian sejenis, sudah bekerja di tempat lain, misalnya proyek sejenis di Timur Tengah dan negara lainnya.

“Karena itu kami harus juga mencari penggantinya. Namun dalam proyek di luar negeri pun, kami lebih suka menggunakan pegawai Indonesia. Komposisinya sekitar 70 persen tenaga Indonesia, 30 persen lainnya asing. Kalau tidak terpaksa kami lebih suka menggunakan tenaga kerja dari Indonesia,” pungkasnya. (ajo/gus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *