Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Serba-serbi Ramadan · 26 Jun 2016

Perajin Songkok Banyuwangi Kebanjiran Order Selama Ramadan


Perajin Songkok Banyuwangi Kebanjiran Order Selama Ramadan Perbesar

Banyuwangi (Kabarpas.com) – Ramadan dan Lebaran seringkali menjadi momen bagi para pengusaha untuk meningkatkan omsetnya. Namun, tidak halnya dengan pengusaha songkok kalbut asal Banyuwangi. Ali Gufron (45), justru menahan produksinya sekadar untuk menghormati karyawannya yang tengah berpuasa.

Warga ‎Dusun Kembiritan, Desa Krajan, Genteng Banyuwangi ini mengatakan, khusus di bulan Ramadan, dia sengaja membatasi produksi pecinya. Ali tak peduli meski pesanan terus berdatangan di bulan puasa ini. Dia justru menyemangati para pekerjanya untuk meningkatkan ibadah selama bulan suci.

Pada hari biasa produksi songkok di UD Alya Collection milik Ali mencapai 1500 buah perhari. Namun, khusus di bulan Ramadan ini, Ali tidak menarget berapa songkok yang harus diselesaikan oleh pegawainya.

“Sebenarnya permintaan songkok ini membanjir saat Ramadan, berapa ribupun kita produksi, pasar siap menampung. Namun,saya justru membatasi produksi selama Ramadan. Karena produksi kita menggunakan tenaga manusia, dan karyawan saya yang Muslim ini tengah berpuasa, saya merasa bertanggung jawab juga menjaga puasanya dengan mengurangi produksi,” ujar Ali kepada Kabarpas.com, Minggu (26/06/16).

Ali pun membebaskan jam kerja karyawannya. Mereka diperbolehkan memilih waktu kerjanya sendiri, bisa siang atau malam hari selepas berbuka.

“Di bulan puasa seperti ini, tenaga kita kan tidak seperti hari-hari biasa. Mereka bebas. Mau kerja siang, atau malam hari silahkan. Kita buka 24 jam. Mereka datang, ada yang setelah buka puasa, ada yang setelah Salat Tarawih. Mereka kerja sampai sahur, baru pulang. Dan lagi, bulan Ramadan waktunya kita perbanyak ibadah, bukan justru ubud dunia (utamakan dunia),” lanjutnya.

Songkok produksi Ali ada empat merek yakni Ad-Dawam, Adz-Dzikro, Al Mukarrom dan Al-musthofa. Khusus untuk merek Adz-Zikro diproduksi eksklusif memenuhi pasar khusus. Produksinya pun tidak terbatas. Berapapun songkok yang diproduksi akan terserap pasar. “Kalau ada orang yang datang kesini dan mau membeli songkok kami memberikan merek yang lain,” cetus Ali.

Setiap minggunya, Ali bisa mengirim songkok kalbut buatannya itu antara 6 sampai 10 ribu songkok. Bahkan saat meningkat, Ali pernah mengirim 20 ribu kopiah atau peci (nama lain songkok) per minggunya.

Untuk memenuhi kapasitas tersebut, Ali mempekerjakan 80 karyawan di dua bengkel kerjanya dari pagi hingga sore hari. “Pekerja pria ada 50 orang kami pekerjakan di Genteng sini, sementara sisanya putri kami tempatkan di Kecamatan Sempu. Sengaja kami pisah biar semua nyaman,” ujar Ali.

Khusus di bulan puasa, karyawan yang bekerja siang hari sekitar 10 – 30 orang. Justru malam hari yang ramai mencapai 50 orang. Pola kerja seperti ini sangat dimungkinkan, karena Ali menerapkan kerja borongan, di mana semakin banyak songkok yang diproduksi oleh pekerja maka semakin banyak upahnya.

Upah terendah di pabrik Ali ini sebesar RP. 450 per songkok sedangkan yang paling tinggi Rp. 650 per buah. Karena sistem borongan, pendapatannya jadi bervariasi. Semakin banyak menghasilkan songkok maka semakin banyak upahnya dan sebaliknya.

“Mereka bisa mengais rezeki antara Rp 90 ribu sampai 100 ribu rupiah per hari. Per bulannya penghasilan yang didapat antara Rp. 2 – 3 juta. Prinsip saya, gaji mereka harus lebih besar dari yang diterima tukang per harinya,” terang Ali kepada Kabarpas.com.

Sementara itu, salah satu karyawan Ali bagian setrika, Muhsin (27) mengungkapkan, rata-rata setiap harinya dia bisa menyetrika 200 songkok.

“Tiap hari saya bisa terima upah Rp 450 dikali 200 biji. Rp 90 ribu. Kadang saya juga bisa terima Rp 100 – 110 ribu rupiah,” aku pegawai asal Cangaan, Kecamatan Genteng tersebut.

Dengan perolehan tersebut, per bulannya, Muhsin bisa terima upah dari majikannya sekitar Rp 2,5 juta sampai 3 juta rupiah. “Rata-rata perbulan saya terima Rp 2 juta lebih, kalau tiap hari Minggu libur. Kalau masuk kerja terus ya bisa lebih,” tandasnya.

Harga songkok yang dibanderol Ali per kodinya (1 kodi = 20 songkok)‎ adalah Rp 210 ribu untuk merk Ad-Dawam dan Adz-Dzikro. Sedangkan brand Al Mukarrom dan Al-musthofa, dihargai Rp 150 ribu per kodi. Songkok-songkok ini dikirimkan ke berbagai daerah di Indonesia.

“Pesanan kita banyak. Ada dari Surabaya, Jakarta, ada yang dari Aceh, Kalimantan dan daerah-daerah lain. (Pasar) kita me‎rata seluruh Indonesia. Kita juga pernah kirim barang ke Malaysia,” pungkas Ali (dik/gus).

Artikel ini telah dibaca 29 kali

Baca Lainnya

MPM Honda Jatim Aksi Sosial di Momen Ramadan, Wujud Semangat Sinergi Bagi Negeri

8 April 2024 - 15:35

Muspika Rejoso Kenalkan Produk UMKM Lewat Event Ramadan

3 April 2024 - 20:38

1.500 Paket Takjil Ludes Dibagikan Komunitas Soundman Pastim kepada Pengguna Jalan

31 Maret 2024 - 21:34

Honda Community Bikers Sholeh: Nyantri Ala Federasi Supra Indonesia Regional Jawa Timur

31 Maret 2024 - 09:23

Malam Ini Jangan Lewatkan Konser Penuh Faedah, GTV Love Music!

29 Maret 2024 - 13:13

Pengurus Kelenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan Ajak Bukber Ratusan Masyarakat Umum

26 Maret 2024 - 22:59

Trending di Kabar Terkini