Ngaku Punya Saudara Polisi, Pemuda Ini Menolak Diamankan Petugas Gabungan

Pasuruan (Kabarpas.com) – Seorang pemuda berinisial AH, warga Lecari, Kota Pasuruan menolak diamankan petugas gabungan, saat kepergok pacaran dengan kekasihnya di hutan kota Sekargadung, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, kota setempat.

“Tunggu dulu saya mau nelpon saudara yang jadi polisi,” ucap AH kepada seorang petugas Satpol PP yang saat itu hendak membawa AH ke Mako Satpol PP Kota Pasuruan, Senin (20/06/2016) malam.

Mendapati hal tersebut, Kasat Binmas Polres Pasuruan Kota, H Ahmad yang saat itu memimpin operasi penyakit masyarakat (Pekat), langsung mendekati pemuda itu dan memberikan pengarahan kepadanya. Namun, ternyata AH justru bertambah blagu dan mengatur petugas yang akan membawanya ke Mako Satpol PP Kota Pasuruan.

“Kamu kok malah mengatur petugas. Ayo sekarang ikut kami ke Mako biar nanti diproses di sana,” ujar H, Ahmad dengan nada kesal kepada pemuda tersebut.

Selanjutnya, pemuda tersebut bersama sang kekasihnya dinaikkan ke mobil patroli yang dibawa petugas. Untuk kemudian langsung digelandang Markas Komando (Mako) Satpol PP setempat, yang berada di Jalan Gajah Mada Kota Pasuruan.

Untuk diketahui, saat itu puluhan petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Polres Pasuruan Kota, TNI, melakukan razia Pekat di sejumlah hotel dan hutan kota yang ada di beberapa tempat. Dari operasi pekat tersebut, berhasil diamankan lima pasangan muda-mudi yang sedang asyik berpacaran di hutan kota pada waktu malam.

Kelima pasangan itu, terjaring di lokasi taman Lansia, Purut, taman Sekargadung. Selanjutnya mereka langsung digelandang ke Mako Satpol PP guna didata dan diberikan sanksi untuk tidak mengulangi perbuatannya berduaan di taman-taman di atas pukul 22.00 WIB.

“Mereka didata indentitasnya agar tak mengulangi perbuatannya lagi. Razia ini akan terus kami lanjutkan selama bulan Ramadan. Sebab razia pekat ini dilakukan untuk menjaga kekhusukan warga yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramada. Jangan sampai terusik dengan adanya kemaksiatan yang terjadi. Apalagi Pasuruan dikenal sebagai kota santri,” pungkasnya. (ajo/gus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *