Inilah Lima Hal Seputar Novel “Mahar Jingga” yang Bikin Orang Gregetan

Pasuruan (Kabarpas.com) – “Mahar Jingga” sebuah novel karya Syarif Hade, yang merupakan warga asal Kota Pasuruan ini, sempat bikin gregetan para kaum hawa di dunia maya. Bahkan, tak sedikit dari para kaum hawa itu yang terprovokasi untuk mencibir penulis novel tersebut melalui akun facebook.

Ya, tentunya bukan dari diksi yang jelek atau kata-kata tidak bermutu di postingan facebook milik si penulis novel tersebut. Melainkan tema yang diangkat oleh si penulis novel ini ialah seputar percintaan dan poligami. Hal inilah yang membuat para kaum hawa sensitif.

Nah, bagi Anda yang belum sempat membaca novel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tersebut. Berikut ini lima hal seputar novel “Mahar Jingga” yang bikin orang penasaran dan gregetan, sebagaimana dikutip dari datdut.com

1. Cinta Kedua Nizam

Novel ini menceritakan tiga sosok tokoh utama yakni Nizam, Sabria, dan Nadya. Nizam adalah salah seorang penulis terkenal yang menjadi suami Sabria. Sabria sendiri adalah sosok wanita cantik dan cerdas yang kemudian lebih memilih jadi ibu rumah tangga murni setelah menikah dengan Nizam.

Dari dunia kepenulisan yang digeluti Nizam, akhirnya ia bertemu dengan Nadya yang juga berprofesi sebagai seorang penulis muda produktif. Perkenalan itu kemudian berlanjut sehingga menimbulkan getar-getar cinta di antara keduanya. Karena tidak ingin terjerat pada cinta yang syubhat (remang-remang), dengan gentle akhirnya Nizam memutuskan untuk berencana mempersunting Nadya menjadi istri mudanya (istri ke-dua).

Walaupun awalnya ragu untuk menerima pinangan laki-laki beristri, tapi keyakinan, kemantapan, dan kejujuran Nizam, membuat Nadya akhirnya siap jadi istri kedua walaupun ia sadar bahwa status istri kedua selalu identik dengan istilah penghancur rumah tangga dan perebut suami orang.

2. Kepahitan Sabrina dan Dilime Nadya

Di sinilah awal polemik novel ini. Keputusan Nizam untuk berpoligami yang ia sampaikan pada Sabria, istri pertamanya, benar-benar membuat hati Sabria lulu lantak dan hancur berkeping-keping. Tapi hebatnya sosok Sabria yang cerdas itu mencoba untuk selalu berusaha mengendalikan emosinya dan mencari jalan keluar dengan berdiskusi dan bicara dari hati ke hati dengan suaminya akan keputusan rencana poligami tersebut. Bahkan ia juga kuat untuk bertemu dan bertatap muka langsung dengan calon maru-nya (saingan).

Walaupun pada akhirnya, dalam banyak hal Sabria juga kalah dengan emosinya yang lebih besar. Cemburu dan rasa tidak mau membagi suami dengan wanita lain benar-benar melelahkan fisik, psikis dan batinnya.


3. Nizam Inginkan Sabria dan Nadya

Akhirnya ia sampai pada keputusan agar Nizam memilih salah satu, tetap bertahan dengannya dan membatalkan rencana poligami tersebut atau memilih Nadya dan menceraikannya. Lalu, semuanya ia serahkan pada takdir Tuhan. Tentu saja berharap bahwa takdir Tuhan akan berpihak sesuai dengan keinginannya.

Bagi Nizam sendiri, bukan itu pilihan terbaiknya. Nizam ingin kedua-duanya, Sabria dan Nadya. Cintanya terhadap kedua wanita tersebut sama-sama merasuki hatinya. Dan ia tidak ingin melepaskan salah satunya. Sedangkan Nadya yang awalnya ingin mundur setelah bertemu Sabria, ternyata tidak kuat melepas jerat-jerat cinta yang sudah ditanamkan Nizam di relung hatinya.


4. Dalam Kisah Cinta yang Rumit

Tidak sampai pada cerita cinta segitiga antara Sabria—Nizam—Nadya saja, dalam lanjutannya bumbu-bumbu cabang percintaan juga diramaikan dengan kehadiran Tharik dan Fikri yang membuat novel ini makin terasa complicated (rumit).

Tharik adalah mantan calon suami Sabria yang datang di saat prahara rumah tangganya dengan Nizam sedang memanas. Tharik datang menawarkan cinta lamanya dan bersedia menerima Sabria apa adanya. Sabria seakan diuji untuk tetap setia dan mencintai suaminya, padahal suaminya sendiri sudah tidak setia dengan meminta ijin poligami.

Fikri sendiri adalah teman Nadya yang kemudian hari menjadi pengobat hati Nadya. Dia mencintai Nadya dan siap membantu Nadya untuk memalingkan hatinya dari Nizam. Setelah mbulet-mbulet jalan cinta segilima yang terjadi di antara mereka, pada akhirnya walaupun pahit dan memilukan, Nizam memutuskan untuk melepas Nadya. Nizam tetap memilih Sabria sebagai satu-satunya ratu di dalam istana pernikahannya. Nadya dengan luka yang menganga di hatinya mencoba menerima Fikri dalam kehidupannya. Sedangkan Tharik, ia lebih memilih menjauh dari Sabria dan suaminya.

Ending yang menyedihkan bagi Nadya dan Tharik tapi menjadi happy ending bagi Sabria, Nizam dan pembacanya. Kenapa ikut ber-happy ending? Karena pembaca sempat dibikin suudzan terhadap jalan cerita novel ini tidak terbukti. Awalnya banyak yang mengira bahwa novel ini adalah pembela dan pendukung “poligamer” (pelaku poligami). Ternyata TIDAK saudara-saudara!!!

Novel ini adalah pembuka tabir fakta dan realitas sulitnya keputusan poligami itu sendiri. Poligami itu tidak mudah. Baru pada tataran planning(rencana) saja sudah makan hati berulam jantung, apalagi kalau sudah dilaksanakan dan dijalankan. Ini versi manusia biasa loh ya. Bukan seperti poligami versi Nabi Muhammad yang sudah jelas ke-luarbiasa-annya.


5. Kekuatan dan Kekurangan

Kekuatan novel ini sendiri ada pada percakapan-percakapan cerdas yang terus mengurai di tiap halamanya. Hujjah, dalil, dan dalih tentang pro dan kontra poligami begitu mempesona dituangkan oleh penulis. Selain itu, uraian psikis pelaku antara yang memadu, yang dimadu, dan yang termadu, juga sangat proposional. Sehingga pembaca seakan digiring untuk bisatasamuh, teposliro alias tenggang rasa memahami perasaan ketiganya. Sehingga jika melihat kasus poligami maka jangan ada penilaian bahwa laki-laki pelaku poligami itu jahat, istri pertama terdzalimi dan istri muda gak tahu diri. Karena pada hakikatnya, mereka bertiga sama-sama merasa sakit.

Pada halaman 22 tertulis “mahar jingga itu mahar kedua. Ia diberikan dalam posisi kuning menuju merah”. Lagi-lagi ini cara penulis untuk membuat judul novelnya terkesan lebih menarik dan unik. Mahar Jingga seperti judul novel tahun 80-an: Mawar Jingga.

Lepas dari kekurangannya, novel ini sangat dianjurkan dibaca oleh pasangan yang rumah tangganya sedang dijangkiti demam poligami. Biasanya terjadi pada masa puber ke dua. Dengan membaca novel ini, diharapkan supaya laki-laki yang ingin berpoligami bisa mendapatkan bayangan dan gambaran sehingga tidak grusa-grusu dan terburu-buru memutuskan.

Dan, bagi istri pertama agar bisa tetap elegan dan tidak terbawa emosi yang meledak-ledak saat mengetahui rencana suaminya untuk poligami. Sedangkan untuk wanita yang ditawari jadi istri muda agar benar-benar pasang hati, jiwa dan raga untuk mempersiapkan dan menata diri. Wallahua’lam bisshawab…. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *