Buah Krai Jadi Menu Khas Berbuka Puasa Bagi Warga Banyuwangi

Banyuwangi (Kabarpas.com) – Salah satu yang menjadi ciri khas kuliner Ramadan di Kabupaten Banyuwangi adalah buah Krai. Krai yang masuk rumpun buah mentimun ini daging buahnya tebal dan beraroma harum yang khas. Sehingga tak heran bila Ramadan tiba, banyak warga Banyuwangi yang berburu buah satu ini untuk dijadikan suguhan ta’jil.

Daging buahnya yang tebal dan manis bisa disajikan dengan berbagai menu. Biasanya, krai yang hampir serupa dengan blewah tersebut dijadikan campuran minuman dingin nan manis. Bisa pula di-mix dengan bahan lain seperti buah jeruk, sirup atau dengan gula pasir saja sudah menyuguhkan kesegaran.

Meski memiliki rasa yang nikmat, namun para petani di Banyuwangi tak menanamnya di sepanjang tahun. Hanya menjelang bulan Ramadan saja buah tersebut ditanam. Bukan karena tidak tumbuh, namun karena sengaja menjaga kekhasannya.

Tohairi (71) adalah salah satu petani yang menanam buah krai tersebut. Petani asal Dusun Cungkingan, Desa Badean, Kecamatan Kabat, Banyuwangi tersebut sengaja menanam buah krai dua bulan sebelum Ramadan.

“Awal bulan Rajab sudah mulai menanam. Tepat 60 hari pas awal Ramadan sudah bisa panen,” aku Tohairi kepada Kabarpas.com saat ditemui di ladang krai-nya, Rabu (15/06/2016).

Buah krai sendiri, menurut Tohairi, merupakan jenis tanaman yang mudah dalam perawatannya. Tak terlalu banyak treatment yang dilakukan. Selain itu, juga tidak membutuhkan banyak air. “Malah, kalau hujan bisa tidak panen,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Tohairi, krai cocok ditanam di daerah pinggir pantai seperti di Desa Badean ketimbang di daerah tinggi seperti halnya di daerah Songgon. Untuk menanam krai seluas satu Hektar, hanya memerlukan satu cangkir bibit. “Per cangkirnya bibit dijual Rp. 50.000,” ungkap Tohairi.

Setiap hektarnya, setiap hari bisa dipanen antara 500 hingga 600 buah berukuran sedang. Para petani menjual dengan per paket yang terdiri dari ukuran besar, sedang dan kecil. Terdiri dari 5-8 buah dengan harga Rp. 12.500. Sekali tanam, para petani bisa memanen buahnya hingga 20 hari ke depan. “Kalau puasanya selesai, ya panennya selesai,” ucapnya seraya tersenyum.

Petani buah krai tidak kebingungan untuk menjual hasil panennya. Karena setiap pagi usai memanen, para pembeli telah berdatangan ke ladangnya untuk memborong buah krai-nya. “Kadang sampai berebut,” akunya.

Para pembeli sendiri, usai membelinya di petani langsung membawanya ke pasar atau bidak-bidak di pinggir jalan yang banyak dijumpai selama bulan Ramadan. Wati (65), salah satu penjual dadakan buah krai yang mangkal di jalan besar di Desa Pakistaji, Kabat, mengaku menjual krai dengan harga antara Rp.5.000 – 7.500 per buah.

“Sehari saya menjual antara 50 – 70 buah dengan ukuran yang variatif. Lumayan untuk bisa menambah penghasilan suami yang petani. Saya pun jualannya kalau pas puasa saja,” ujar Wati kepada Kabarpas.com.

Buah krai ini memang banyak ditemukan di daerah Kabat, Banywuangi. Di daerah tersebut, terdapat belasan penjual buah yang mangkal setiap harinya. Namun, buah ini juga mudah didapatkan di sejumlah pasar Banyuwangi. (dik/tin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *