Kementan Jadikan Banyuwangi Percontohan Pengembangan Kedelai VUB

Banyuwangi (Kabarpas.com) – Kementrian Pertanian (Kementan) menjadikan Banyuwangi sabagai salah satu daerah pengembangan kedelai varietas unggul baru (VUB). Itu dikarenakan hasil produktivitasnya, telah mencapai 3 ton per hektar atau melampaui rata-rata produktivitas kedelai nasional, yaitu  1,5 ton per hektar.

“Kami pilih karena memang di sini sangat berpotensi untuk pengembangan kedelai. Dan hasilnya pun juga memuaskan, serta produktivitasnya tinggi. Kesuksesan ini harus bisa diaplikasikan di daerah lain, dalam rangka perluasan areal tanam (PAT),” kata Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi (Buakabi) Kementan RI, Maman Suherman saat panen raya kedelai di Desa Tapanrejo, Muncar, Banyuwangi.

Untuk diketahui, Banyuwangi menjadi salah satu daerah pengembangan kedelai VUB oleh Kementan sejak pertengahan 2015 lalu, dengan luas lahan awal sebesar 100 hektar yang dipusatkan di Muncar.

Di lahan tersebut, jenis kedelai VUB yang ditanam ada 10 jenis seperti Burangrang, Dega 1, Dena 1, Devon 1,  GH toleran genangan 8, Anjasmoro. Sepuluh VUB kedelai ini mampu menghasilkan rata-rata 3 ton/ha. Bahkan varietas Dena 1 mampu menghasilkan 3,55 t/ha.

Sementara itu Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Kementan, Didik Hernowo, yang saat itu turut hadir dalam acara panen raya juga menyatakan kegembiraannya, mengingat produktivitas yang dihasilkan tinggi. “Alhamdulillah tantangan pak Menteri bisa kami realisasikan di Banyuwangi,” kata Didik usai panen raya.

Didik membeberkan, bibit kedelai VUB memiliki beberapa keunggulan dari bibit kedelai pada umumnya. VUB cocok ditanam pada lahan dengan intensitas panas matahari yang lama, tahan terhadap penyakit karat daun dan hama pengerek polong yang selama ini menjadi momok petani kedelai.

“Agar didapatkan hasil panen yang baik, kami juga memberikan pendampingan secara intensif kepada para petani. Seperti melakukan pelatihan teknologi dan secara rutin mengingatkan mereka agar melakukan pemupukan tidak sampai terlambat,” ucap Didik.

Lebih lanjut, Didik menambahkan, kalau Bibit VUB ini merupakan bibit pokok dan bukan bibit hibrida, jadi biji kedelai hasil panen bisa ditanam kembali sebagi bibit baru. Dari sisi produktivitas, bibit ini tidak kalah dari produktivitas panen bibit pokok. “Untuk saat ini, memang kami konsentrasikan di Muncar. Namun, mulai tahun depan akan kami sebar di sejumlah sentra kedelai di Banyuwangi,” pungkasnya. (dik/abu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *