Oleh: Pendik, Wartawan Kabarpas.com Banyuwangi
(Kabarpas.com) – KEINGINAN kuat untuk berdaya dan mandiri secara ekonomi menjadi pemicu bagi sekumpulan mantan TKI Banyuwangi hingga sukses menjalankan usaha produksi kue kering. Pasar yang disasar untuk memasarkan kue-kue tersebut pun istimewa, yakni para rekan-rekan mereka yang masih aktif bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di berbagai negara.
Salah satu pelaku usaha kue kering eks buruh migran adalah pasangan suami istri Krisna Adi (43) dan Ani Sugianti (28). Mereka berdua merupakan eks buruh migran yang pernah berkerja di Taiwan. Kenyang merasakan pengalaman menjadi buruh di negeri orang membulatkan tekad keduanya untuk tidak kembali lagi bekerja di luar negeri.
Merekapun membangun usaha kue kering di tempat tinggalnya di Dusun Jatisari, Desa Wringin Agung Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.
“Saya bagian pemasaran, sedangkan untuk produksi ditangani oleh istri saya,” kata Krisna saat ditemui Kabarpas.com di kediamannya, Selasa (27/06/2016).
Menurut Krisna, tantangan terberat yang dihadapi oleh para mantan TKI justru ketika telah kembali ke tanah air. Jika tidak punya ide kreatif untuk membuka usaha maka sebagian besar akan memilih untuk pergi lagi keluar negeri. Krisna dan Ani pun sempat menuturkan membangun usaha ini.
Dituturkan Krisna, usai pulang dari Taiwan untuk kedua kalinya dia langsung mengawali usaha penjemputan TKI di Indonesia. Sementara istrinya, Ani hanya ibu rumah tangga.
“Ani merasakan kebosanan di rumah, sementara dia terbiasa bekerja. Akhirnya dia ada ide mencoba membuat kue. Belajarnya ya dari ibunya dan youtube,” ujar Krisna kepada Kabarpas.com.
Krisna menjadi TKI sejak tahun 2006, sementara Ani sejak 2007 menginjak usia 18 tahun. Mereka berdua sama-sama pernah dua kali bekerja sebagai TKI di Taiwan.
Kue kering yang diproduksi oleh Krisna dan istri beraneka macam. Yakni, seperti Carang Mas, Kuping Gajah, stik coklat, stik gurih, akar kelapa, pastel abon, dan aneka kacang-kacangan seperti kacang telur, kacang bawang, dan kacang tolo.
“Produksi kue kering kami memang khusus yang melalui proses goreng, kalau untuk kue kering khas lebaran seperti nastar, kastengel itu diproduksi oleh rekan kami sesama eks buruh migran yang tergabung dalam Keluarga Migran Indonesia (KAMI). Tapi untuk pemasarannya kami saling bersinergi, lewat KAMI juga,” ujar Krisna yang juga ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Taiwan ini.
Untuk pemasaran kue-kue yang diproduksinya, lanjut Krisna, dia memanfaatkan media sosial Facebook, karena sebagain besar teman di Facebooknya adalah rekannya yang masih aktif bekerja diluar negeri. Mereka inilah yang menjadi konsumen militan produksi kuenya.
“Teman-teman TNI di facebook kan jumlahnya ribuan dan dari berbagai negara. Awalnya saya juga hanya iseng saja mengunggah gambar kue-kue kering yang dibuat oleh istri saya. Ternyata sambutan teman-teman di luar dugaan, mereka ingin mencicipi kue produksi istri. Mungkin mereka kangen ingin merasakan makanan khas daerah, seperti carang mas yang paling banyak dipesan keluarga TKI. Ada juga keciput, kuping gajah,” pungkas Krisna. (***/tin).














