Pasuruan, Kabarpas.com – Pagi di depan Stasiun Bangil itu berjalan seperti biasa. Lalu lintas mulai menggeliat, kendaraan datang dan pergi, orang-orang bergegas mengejar waktu. Tapi ada yang berbeda: aroma masakan tiba lebih dulu, menguar pelan di antara deru mesin dan langkah kaki.
Di trotoar yang biasanya hanya jadi tempat singgah sesaat, sejumlah perempuan berdiri berjejer. Seragam mereka tak sama. ada polisi, petugas perhubungan, hingga pengemudi ojek online. Namun pagi itu, mereka berada dalam satu irama. Memasak bersama.
Polres Pasuruan memilih cara yang tak lazim untuk memperingati Hari Kartini. Tak ada upacara, tak ada panggung. Yang ada justru kompor portabel, wajan, dan bahan masakan yang disiapkan di ruang terbuka. Kegiatan itu diberi nama sederhana: “Kartini Memasak”.
Di sana, Polwan Satlantas Polres Pasuruan berbaur dengan anggota Dinas Perhubungan Kabupaten Pasuruan dan para pengemudi ojek online perempuan, yang akrab disebut Srikandi Ojol. Tanpa sekat pangkat maupun profesi, mereka berbagi peran. Ada yang mengiris bumbu, mengaduk masakan, hingga menyiapkan nasi bungkus.
Suasananya cair. Tak ada jarak yang terasa.
Kasat Lantas Polres Pasuruan, AKP Derie Fradesca, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk refleksi atas semangat Kartini yang terus hidup dalam konteks kekinian.
“Perempuan hari ini punya peran besar di berbagai sektor, termasuk di jalan raya. Dari polisi, Dishub, sampai ojol perempuan,” ujarnya.
Pemilihan lokasi di depan stasiun bukan tanpa alasan. Tempat itu adalah simpul mobilitas, di mana berbagai latar belakang bertemu. Di titik itulah, pesan ingin disampaikan secara langsung, tanpa sekat.
Tak butuh waktu lama, masakan pun siap. Nasi bungkus hangat mulai dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas. Namun ada satu syarat sederhana: tertib berlalu lintas.
Pengendara yang mengenakan helm, membawa kelengkapan surat, dan mematuhi aturan menjadi prioritas penerima. Sebuah pendekatan yang halus—menyampaikan pesan keselamatan tanpa harus menghadirkan razia yang kaku.
Respons masyarakat pun hangat. Ada yang tersenyum, ada yang berhenti sejenak untuk berbincang. Sebagian tampak terkejut, mendadak terasa berbeda karena sebuah pemberian sederhana di tengah perjalanan.
Bagi para Srikandi Ojol, momen ini punya makna tersendiri. Jalanan yang biasanya menjadi ruang mencari nafkah, pagi itu berubah menjadi ruang berbagi.
“Kami biasanya di jalan untuk cari penumpang. Hari ini bisa berbagi,” ujar salah satu pengemudi.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menunjukkan wajah berbeda dari institusi lalu lintas. Tidak melulu soal penindakan, tetapi juga pendekatan yang lebih humanis, hadir langsung, menyapa, dan berbagi.
Selama dua jam, sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, suasana di depan Stasiun Bangil terasa lebih hangat. Lebih akrab. Lebih manusiawi.
Hanya aktivitas sederhana yang mengalir, namun meninggalkan kesan yang tak mudah hilang. (dis/ian).

















