Jember, Kabarpas.com – Ketua Fraksi NasDem DPRD Jember, David Handoko Seto turut angkat bicara terkait kebijakan Pemkab Jember yang mengerahkan puluhan ribu ASN untuk melakukan verifikasi dan validasi (verval) data warga miskin kategori Desil 1. Di tengah ramainya perbincangan publik soal kesiapan ASN menjalankan tugas di luar tupoksi, David justru melihat kebijakan ini sebagai wujud nyata pengabdian abdi negara.
Menurutnya, meski diakui ada tantangan di lapangan, terutama kesiapan fisik ASN untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil, hal tersebut tidak boleh mengaburkan esensi utama dari tugas sebagai aparatur negara.
“Memang ada sisi kelemahan, secara fisik para ASN belum tentu siap terjun ke daerah-daerah kritis di desa-desa pinggiran yang secara riil sulit dijangkau. Tapi saya melihat ini dari sisi positif, mereka sedang melaksanakan tugas pengabdian,” ujarnya.
David menegaskan, dalam sumpah jabatan, ASN telah menyatakan kesiapan untuk mengabdi kepada negara di mana pun dibutuhkan. Momentum verval ini, menurutnya, menjadi kesempatan bagi ASN untuk benar-benar memahami kondisi riil masyarakat, khususnya di wilayah yang selama ini jarang tersentuh.
“Dengan turun langsung, mereka akan tahu persis peta kemiskinan yang sebenarnya, kondisi jalan di desa terpencil, bahkan rumah-rumah yang kadang listrik pun tidak ada. Selama ini banyak yang hanya jadi objek pendataan, tapi jarang tersentuh bantuan karena sulit dijangkau oleh petugas survei baik itu BPS atau lembaga lainnya,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti potensi ketidaktepatan data yang selama ini terjadi. Berdasarkan temuannya di lapangan, masih ada kasus warga yang tergolong mampu justru terdata sebagai penerima bantuan, sementara warga yang benar-benar membutuhkan malah terlewat.
“Biasanya memang survei-survei seperti itu yang dilakukan, lembaga survei ini banyak dilakukan hanya di atas meja sehingga kemarin banyak sekali terjadi kesalahan data,” ucapnya.
“Ada warga yang terdata miskin, tapi di rumahnya ada motor besar, Ninja dan dua motor matic baru. Sementara yang benar-benar tidak mampu justru tidak masuk data dan tidak pernah dapat bantuan,” katanya menambahkan.
David menilai, pelibatan ASN secara langsung dalam verval dapat meminimalkan kesalahan tersebut, karena proses pendataan dilakukan dengan melihat kondisi nyata, bukan sekadar berbasis laporan atau data administratif.
Terkait adanya keluhan dari sebagian ASN yang sempat viral di media sosial, ia menilai hal itu hanya sebagian kecil. Ia optimistis mayoritas ASN memahami tugas tersebut sebagai bagian dari pengabdian.
“Memang ada penolakan dari ASN, tadi saya sempat lihat videonya, tapi ini hanya sebagian kecil. Kita sedang mengetuk hati nurani ASN. Saya yakin mereka yang punya kepedulian akan memahami kondisi kemiskinan di Jember yang sebenarnya,” tegasnya.
Bahkan, ia menyebut para ASN seharusnya dapat melihat tugas ini sebagai kesempatan berharga untuk memperluas perspektif dan pengalaman.
“Harusnya ASN berterima kasih kepada Bupati Gus Fawait dengan adanya tugas ini, karena mereka jadi tahu daerah-daerah yang selama ini tidak pernah dibayangkan untuk dikunjungi, daerah dengan kemiskinan ekstrem,” imbuhnya.
David juga menekankan bahwa pelaksanaan tugas ini bersifat fleksibel dan tidak harus memberatkan ASN. Jika terdapat kendala, ASN tetap dapat mengajukan izin atau mendelegasikan tugas sesuai mekanisme yang ada.
Sebagai penutup, ia menyatakan dukungan penuh Fraksi NasDem terhadap program tersebut, dengan harapan data kemiskinan di Kabupaten Jember ke depan menjadi lebih valid dan tepat sasaran.
“Saya selaku Ketua Fraksi NasDem mendukung program ini agar tetap dijalankan. Harapannya, data kemiskinan di Jember menjadi lebih valid, tidak lagi salah sasaran. Ini program yang patut diapresiasi,” pungkasnya. (dan/ian).

















