Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 15 Okt 2025

Watu Ulo Jember, Pesona Alam dalam Balutan Cerita Mistis Sang Naga


Watu Ulo Jember, Pesona Alam dalam Balutan Cerita Mistis Sang Naga Perbesar

JIKA kamu berkunjung ke Pantai Watu Ulo di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, bersiaplah menyelami tempat di mana laut dan legenda bertemu.


Oleh: Hirna Ramadhanianto, Jurnalis Kabarpas Biro Jember


Watu Ulo kini menjadi salah satu destinasi wisata paling eksotis dan spiritual di Jember. Tempat di mana panorama pantai, kisah legenda, dan budaya lokal berpadu menciptakan pengalaman yang tak terlupakan. Seperti apa kisah mistisnya? Berikut liputannya.

KABARPAS.COM – SAAT angin berhembus membawa aroma asin dari samudra, matamu akan tertuju pada deretan batu panjang yang meliuk seperti tubuh ular raksasa.

Konon, batu itu bukan sekadar keajaiban alam, melainkan sisa tubuh seekor naga penjaga laut selatan yang membatu ribuan tahun lalu.

Namun jangan salah, di balik cerita mistisnya, Watu Ulo kini menjadi salah satu destinasi wisata paling eksotis dan spiritual di Jember. Tempat di mana panorama pantai, kisah legenda, dan budaya lokal berpadu menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

“Konon, dulu di tempat ini hidup seekor Nogo Rojo yang datang dari laut selatan. Ia naik ke darat untuk beristirahat, lalu tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi batu,” tutur Ansori (57), penjaga pantai yang telah mengabdikan diri lebih dari dua dekade menjaga kawasan ini.

Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, tubuh naga besar itu terbelah menjadi tiga bagian. Kepalanya jatuh di Pantai Grajagan (Banyuwangi), tubuhnya membujur di Watu Ulo (Jember), dan ekornya dipercaya sampai ke Pacitan.

Bagi masyarakat Sumberejo dan Ambulu, kisah itu bukan sekadar dongeng, melainkan simbol keseimbangan antara manusia dan alam.

“Ia bukan hewan biasa, tapi makhluk gaib yang menjaga batas darat dan laut. Kalau laut marah, itu tanda sang naga bergerak,” ujar Ansori dengan yakin.

Kini, legenda yang dulu hanya berbisik di telinga para nelayan, justru menjadi identitas budaya sekaligus daya tarik wisata Kabupaten Jember. Setiap tahun, masyarakat setempat menggelar Upacara Larung Sesaji di Pantai Watu Ulo, tradisi spiritual untuk menghormati penguasa laut dan menjaga harmoni alam.

“Kita tidak menyembah naga, tapi menghormati maknanya. Ia simbol bahwa alam harus dijaga. Kalau manusia serakah, laut bisa murka,” kata Ansori menegaskan.

Di sela ombak yang menggulung, pengunjung kini bisa menikmati panorama eksotis batu berliuk panjang yang tampak seolah tubuh naga membentang dari laut ke daratan.

Bagi sebagian orang, tempat ini memberi sensasi spiritual yang lembut, seolah alam masih menyimpan bisikan kuno dari masa silam.

Siti, koordinator kawasan wisata Watu Ulo mengatakan bahwa mitos lama seperti larangan memakai baju berwarna merah atau hijau kini tak lagi dipercaya sepenuhnya.

“Itu dulu hanya pantangan. Sekarang masyarakat lebih terbuka. Wisatawan datang untuk menikmati keindahan alam, bukan takut pada mitos,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia menjelaskan, batu panjang yang menjadi ikon Watu Ulo dulunya terlihat sangat jelas hingga ke tepi jalan. Namun kini, sebagian tertutup pasir karena terpaan angin dan ombak selama bertahun-tahun.

Meski begitu, pesonanya tak pudar, justru memunculkan rasa penasaran wisatawan yang ingin menyaksikan langsung “ular batu” legendaris itu.

Salah satu pengunjung, Yayuk Yohanes dari Desa Balung Lor, mengaku sering datang bersama suaminya untuk menikmati suasana pantai.

“Sebulan bisa dua sampai tiga kali ke sini. Suasananya tenang, ombaknya indah, dan hawanya seperti membawa ketenangan,” katanya.

Di sekitar kawasan pantai, warga setempat kini mengembangkan kios suvenir, warung makan, hingga spot foto bertema legenda naga.

Bagi wisatawan, Watu Ulo bukan hanya tempat bersantai, tapi juga ruang untuk merenungi hubungan manusia dengan alam dan mitos yang merangkai sejarah lokal.

Bagi Ansori, yang telah menjaga pantai ini selama 26 tahun, Watu Ulo bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang spiritual. Ia percaya bahwa “entitas penjaga” masih ada pelindung yang menjaga pantai dari marabahaya.

“Selama saya di sini, tidak pernah ada kecelakaan besar. Alam Watu Ulo punya kekuatan sendiri untuk melindungi,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa di salah satu sudut pantai terdapat sumur tua yang disebut-sebut sebagai pintu menuju keraton Nyi Roro Kidul. Bahkan, pada tahun 1999 dia mengaku pernah melihat struktur batu tersusun rapi di bawah pasir, yang disebutnya sebagai “bangunan gaib”.

Bagi sebagian pengunjung, kisah naga hanyalah legenda. Bagi yang lain, itu bagian dari spiritualitas lokal yang memperkaya warisan budaya Jember.

Dilansir dari berbagai sumber, pesona wisata Watu Ulo bisa dinikmati pada jam-jam berikut:

Waktu terbaik bisa dicoba pada pagi (05.30–09.00) untuk menikmati sunrise dan sore menjelang senja (15.30–17.30) untuk panorama langit keemasan.

Akses sekitar 40 menit dari pusat Kota Jember melalui jalur Ambulu–Sumberejo. Jalan sudah beraspal dan bisa dilalui mobil pribadi maupun bus wisata.

Aktivitas seru, bisa hunting foto di “batu naga”, piknik keluarga, kuliner laut, hingga mengikuti upacara adat jika bertepatan dengan waktu pelaksanaan.

Sedangkan, spot favorit wisatawan adalah tebing timur saat matahari terbit, area batu berliuk di tengah pantai, dan pasir lembut di sisi barat. (***/ian arieshandy).

Artikel ini telah dibaca 44 kali

Baca Lainnya

Jago #Cari_Aman Biar Happy, Edukasi Berkendara Aman Terus Digencarkan di Malang Raya

19 Januari 2026 - 10:34

Izinkan Aku Meminjam Dadamu

18 Januari 2026 - 22:42

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan Bekali Mahasiswa Skill Menjadi Jurnalis Profesional

18 Januari 2026 - 19:21

Ketua Komisariat PMII Universitas Islam Depok: Sutan Akhyar Rajabi, Dinobatkan Menjadi Wisudawan Terbaik UID ke-19

18 Januari 2026 - 15:09

Beli Motor Honda di Jember, Kesempatan Menangkan PCX160 Lewat Program Untukmu Konsumen Honda

18 Januari 2026 - 09:52

Women Ride New Honda ADV160, Lady Bikers Jelajahi Pesona Heritage Kota Surabaya

18 Januari 2026 - 09:48

Trending di Kabar Otomotif