Titipan Tuhan – Part 5


Oleh : Egie

KABARPAS.COM – AKU semakin sulit mencerna jalan pikiran Khanin. Dia seperti sedang marah dalam diam, serta menyimpan luka dalam tenangnya.

Keesokan harinya, tibalah saat pemakaman baby Fajar. Akhirnya setelah sekian lama, keluarga besar Khanin dan Hanni pun datang ke Jakarta. Mereka tiba di waktu yang hampir bersamaan. Aku lega karena setidaknya, Hanni tidak akan kesepian sepeninggal Fajar. Dengan datangnya keluarga Hanni, proses transfusi darah untuknya akan semakin mudah dan berjalan lancar. Hanni masih belum siuman, namun prosesi pemakaman harus segera dilaksanakan. Semua keluarga besar pun sudah berkumpul dan sepakat untuk melaksanakan pemakaman Fajar tanpa Hanni.

Setelah proses pemakaman selesai, Khanin mengumpulkan seluruh anggota keluarga di ruang perawatan Harry. Aku yang merasa menjadi orang asing yang menyelinap di tengah-tengah keluarga besar mereka pun pamit keluar kepada Khanin. Ekspresi Khanin yang menakutkan sejak kemarin, membuatku semakin takut dan ingin segera pergi. Dia mengiyakan dan memintaku menunggu di luar.

Khanin membuka pembicaraan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Tanpa basa-basi dia berkata, “Mama, Papa, Om, Tante dan semuanya, Khanin ingin memperkenalkan seseorang yang sangat Khanin sayang dan sangat berarti dalam hidup Khanin, selain Hanni.”

Sontak seluruh anggota keluarga tercengang dan terperanjat. Mereka kompak menunjukkan ekspresi kemarahan di wajah mereka.

“Siapa orang yang kamu maksud itu, Nak?” kata ibu Khanin.

“Jangan-jangan perempuan yang di luar itu, kakak?” tanya tante Khanin menambahkan.

Namun Ibu Hanni yang seharusnya menjadi orang paling marah dalam situasi ini, beliau justru dengan bijak menanggapi dengan tenang, “Tolong semua tenang, jangan menyela. Biar Khanin melanjutkan kata-katanya sampai selesai.”

Mereka pun menahan amarahnya dan terpaksa mendengar penjelasan Khanin sampai tuntas.

Khanin melanjutkan ceritanya dan mengatakan bahwa orang yang ia maksud adalah Senja Harry. Anak laki-laki tampan kesayangannya yang sedang terbaring di ranjang, ruang perawatan anak, tempat mereka berkumpul.

Dia menceritakan bahwa Harry adalah putra sulungnya bersama Hanni, yang lahir satu minggu sebelum mereka melaksanakan akad nikah di Pontianak.

Dengan wajah penuh penyesalan dan kesedihan, dia berlutut memohon pengampunan. Dia rela dipukul atau bahkan dicaci maki oleh seluruh anggota keluarga dan menanggung akibat dari perbuatan salahnya. Dia meminta kepada seluruh anggota keluarga untuk dapat menerima Harry sebagai anggota keluarga mereka, meskipun dia dilahirkan sebelum Hanni dan Khanin menikah.

Khanin berkata bahwa kelahiran Harry kedunia bukanlah salah Hanni, terlebih lagi Harry. Dia menjelaskan bahwa seperti yang mereka tahu, Hanni awalnya sangat menolak perjodohan mereka. Namun, karena Hanni adalah gadis yang patuh, dia tidak berani membantah keinginan kedua orang tuanya. Dia pun bersedia dijodohkan dengan Khanin meski dengan hati terpaksa.

Khanin mengakui kekhilafannya yang telah merenggut mahkota berharga milik Hanni, dan membuat Hanni tidak punya alasan untuk menolak perjodohan mereka. Dia sengaja ingin Hanni hamil agar dia tidak punya alasan lagi untuk menolak.

Sebagian anggota keluarga yang hadir merasa kecewa dengan sikap Khanin yang tidak dewasa dan menghalalkan segala cara demi tercapai keinginannya. Keluarga juga menyayangkan kejujuran Khanin yang sedikit terlambat. Namun, orang tua Hanni tetap memaafkannya dan berharap jika Khanin bisa lebih menyayangi Hanni dan lebih sabar agar kelak Hanni bisa sepenuh hati membuka hatinya untuk Khanin.

Kedua keluarga juga merasa bersalah karena merasa menjadi orang tua yang egois, yang memaksakan kehendak mereka tanpa mempertimbangkan perasaan anak-anak mereka. Mereka semua merasa terharu dan memeluk Harry yang masih tertidur pulas karena efek samping obat yang dia minum.

Setelah kedua keluarga tahu tentang Harry, setidaknya aura Khanin berubah menjadi lebih bersinar dibanding sebelumnya. Setelah Harry pulih total, Khanin mengajaknya bertemu Hanni yang baru saja siuman.

Khanin bercerita kepada putra kesayangannya tentang kakek nenek yang selama ini belum pernah dia temui. Harry sungguh gembira bisa bertemu kakek nenek serta keluarga besar yang lain. Ditambah lagi Hanni, ibunya telah siuman dan dalam tahap pemulihan. Harry berharap bisa bermain dan berkumpul bersama ibu dan ayahnya lagi, serta bermain bersama kakek dan neneknya.

Rombongan keluarga Khanin berpamitan untuk kembali ke Pontianak bersama anggota keluarga Hanni. Namun, ibu Hanni ingin tetap tinggal dan menemani putri semata wayangnya hingga dia sehat serta bisa pulang ke rumah. Khanin tidak merasa keberatan. Sebelum mereka bersiap berangkat ke bandara, Khanin menyempatkan diri untuk menemani Harry bercengkrama bersama kakek dan nenek yang telah lama ia dambakan.

Saat siuman, sontak Hanni merasa terkejut melihat Harry berlarian dan bercanda bersama keluarganya. Ibu Hanni yang melihat mimik wajah Hanni yang terkejut, seketika menjelaskan tentang semua pengakuan Khanin tentang jagoan kecilnya, Harry. Beliau menceritakan betapa kesatrianya Khanin yang dengan berani mengakui kesalahannya di depan kedua keluarga.

Mendengar cerita dari ibunya, Hanni seketika meneteskan air mata. Dalam hati dia merasa, bahwa Khanin terlalu baik untuk mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya serta menutupi kebenaran demi melindungi Hanni.

Ibunya ikut menangis dan memeluknya seraya berkata, “Kamu sangat beruntung sayang, karena memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintaimu sepenuh hati. Jangan sia-siakan pria langka seperti dia, Nak!”.

===to be continue===

______________________________________________________

*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com.