Jakarta, Kabarpas.com – Hari Ibu Ke-97 tahun 2025 berlangsung tidak meriah di bandingkan Hari Ibu pada tahun-tahun sebelumnya, Hari Ibu diperingati secara serentak dalam rangkaian kegiatan di Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, mulai dari giat Seminar dan Webinar bertema pemberdayaan Perempuan, kegiatan kampanye melalui media sosial dan konten digital, Bhakti Sosial kepada kelompok rentan, kegiatan pameran karya seni, foto, dan produk UMKM.
Hari Ibu juga menjadi momen penting bagi pemimpin organisasi Perempuan melakukan giat Ziarah ke pemakaman pahlawan dan anjangsana ke veteran Perempuan, upacara bendera dan acara Puncak Hari Ibu tanggal 22 Desember 2025. Hingar bingar Hari Ibu tahun 2025 berlangsung senyap, seiring dengan konflik yang mendera organisasi Kowani.
Konflik internal Kowani secara terbuka mengemuka ke publik saat 19 Dewan Pimpinan Kowani (hasil Kongres Tahun 2024) melakukan mosi tidak percaya kepada Ketua Umum pada 18 November 2025. Dalam satu bulan pasca mosi tidak percaya, Konflik internal Kowani telah menyulut munculnya 4 kubu yang mengancam eksistensi federasi organisasi Perempuan terbesar di Indonesia.
Pertama, Kubu Ketumbar. Istilah Ketumbar sering disematkan pada Nani Hadi Tjahjanto. Ketumbar adalah singkatan dari Ketua Umum Baru (Ketumbar). Dalam kubu ini konon berisi hanya 4 Dewan Pimpinan hasil Kongres (di luar Ketua Umum), yakni dua Ketua, satu Wakil Sekjen dan Ketua Bidang Ekonomi. Kebijakan Ketua Umum yang melakukan pemecatan kepada 19 Dewan Pimpinan sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Nomor : Skep-42/Kowani/XI/2025 tanggal 19 November 2025 dinilai banyak pihak cacat hukum. Dewan Pimpinan di pilih Kongres dan Ketua Umum tidak punya dasar hukum melakukan pemecatan.
Kedua, Kubu 19 Dewan Pimpinan. Kubu ini beranggotakan mayoritas Dewan Pimpinan hasil Kongres 2024. Selain 19 Orang Dewan Pimpinan, terdapat empat orang Dewan Pimpinan yang tidak aktif dengan latar belakang yang berbeda telah tersingkir dalam organisasi tertua tersebut. Dua orang Dewan Pimpinan telah ditarik oleh Organisasi asal. Pertama Pengurus Pusat Persit Kartika Chandra Kirana melakukan penarikan pengurus dalam jajaran Dewan Pimpinan melalui surat nomor : B/593/XII/2024/Org tanggal 11 Desember 2024. Kedua, Persatuan Istri Purnawirawan (Perip) melalui surat nomor : B/87/V/2025/Org tanggal 7 Mei 2025 menarik Ibu Dr. Iin Nurulhuda, SH, M.Si sebagai Ketua Bidang Hukum dan Ham Kowani. Adapun dua orang Dewan Pimpinan lain yakni Wakil Sekjen atas nama Maya Muizatul Lutfiyah dan Ketua Bidang Humas Wahyuni Refi tersingkir karena diberhentikan oleh Ketua Umum. Jadi terdapat 23 Dewan Pimpinan tersingkir dari Kowani.
Ketiga, Kubu Pendiri Kowani. Kowani mengacu pada Kongres Perempuan Pertama tahun 1928 didirikan oleh 7 organisasi Perempuan, di mana yang masih eksis 3 organisasi sedangkan 4 organisasi lainnya telah melebur dalam organisasi pasca kemerdekaan. Ketiga organisasi tersebut adalah Aisyiyah, Wanita Katolik Republik Indonesia dan Taman Siswa.
Kubu ini merasa prihatin dengan konflik yang terjadi di dalam Kowani. Selama perjalanan Panjang 97 tahun, kepemimpinan Kowani berjalan rukun saling asah-asih dan asuh. Pada Maklumat Hari Ibu Ke-97, Sesepuh organisasi pendiri mengungkapkan bahwa : “Kowani periode 2024-2029 telah gagal menggerakkan kepemimpinan kolektif-kolegial. Ketua Umum di bawah pengaruh pihak-pihak tertentu, selama ini salah menafsirkan kepemimpinan organisasi federasi. Jargon bahwa “Kowani milik organisasi anggota” adalah benar.
Namun jargon tersebut tidak dibenarkan untuk menjadi alat adu domba antara organisasi anggota dengan internal pengurus yang masuk dalam Dewan Pimpinan. Kowani lalai bahwa Organisasi Anggota memiliki kepanjang tanganan dalam kepengurusan Kowani. Atas nama jargon di atas, Kowani selama satu tahun ini telah gagal menggerakkan partisipasi pengurus lengkap yang merupakan representasi dari organisasi anggota.
Keempat, Kubu Organisasi Anggota. Kubu ini merasa dirugikan dengan adanya konflik internal yang terjadi di dalam tubuh Kowani. Apalagi dalam pusaran Konflik para pihak yang berseteru (kubu pertama dan kedua) giat menebar hoax dan hate speech. Kubu keempat menilai bahwa Kowani kini tidak memiliki manfaat yang berarti mengingat semua anggota federasi dapat menjalankan organisasi secara mandiri dan tidak bergantung pada Kowani.
“Kami sampaikan, kalau konfliknya berkepanjangan bisa mengakibatkan kami-kami akan keluar dari anggota federasi Kowani. Dan Kami bisa membuat Federasi Perempuan yang baru”. Ujar Marlinda Irwanti, Ketua Umum FPPI yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Korp Perempuan MDI.
Marlinda mengungkapkan “Sebenarnya perempuan (adalah) kekuatan besar kalau bisa kolaborasi dan saling mendukung bukan saling menjatuhkan. Kongres Kowani kemarin adalah bukti nyata, perempuan sulit maju karena hobbynya tetap saling menjatuhkan, apakah itu Kodrat Perempuan???”.
Konflik antar kubu pertama dan kedua menurut Marlinda murni konflik internal dan tidak ditunggangi oleh pihak lain sebagaimana ujaran kebencian yang telah tersebar. Bahwa dibangun narasi konflik terjadi karena pihak yang kalah Kongres tidak legowo. Padahal, dua pihak yang berkonflik saat Kongres adalah satu kubu, satu paket dukungan kepada Nani Hadi Tjahjanto.
Di tengah konspirasi 4 kubu konflik internal Kowani, pihak-pihak Kubu Ketumbar dinilai paling rajin menghubungi Ketua Umum dan Pimpinan Organisasi Anggota untuk melakukan provokasi, menebar hoax dan hatespeech dan ancaman jika mereka bergabung dengan kubu kedua untuk melakukan KLB.
“Kami Ketua Umum Organisasi seperti tidak punya harga diri, diintimidasi, di tekan dan diprovokasi. Padahal kami punya AD/ART sendiri dan seolah-olah Ketumbar jadi Ketua Umum di semua Organisasi Perempuan sehingga rajin kirim WA dan telpon. Kami diminta alamat, katanya mau didatangi dan akan diberi kain,” ujar Ketua Umum Organisasi yang enggan disebut Namanya. (rls/ian).



















