Jember, Kabarpas.com – Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa maraknya banner bergambar dirinya yang berisi informasi berbagai program pemerintah daerah bukan bagian dari kampanye, melainkan strategi untuk memperluas sosialisasi. Penjelasan ini disampaikan Fawait menanggapi sorotan masyarakat di media sosial yang menilai pemasangan banner tersebut membuang anggaran, sementara sebagian warga lainnya menilai banner itu justru membantu penyebaran informasi publik.
“Dari survei, banyak yang belum tahu soal program UHC. Karena itu, selain lewat media sosial, kami turun langsung menyosialisasikan, bahkan lewat banner agar program itu tersampaikan secara maksimal,” ujar Fawait di sela-sela Apel Sholawat Kebangsaan, Minggu (7/12/2025).
Menurutnya, kebutuhan informasi dasar mengenai layanan pemerintah masih belum merata, sehingga format sosialisasi yang mudah dilihat masyarakat perlu diperbanyak. Banner dianggap sebagai salah satu media paling cepat menjangkau warga di tingkat desa hingga kecamatan.
Fawait juga menegaskan bahwa program prioritas pemerintah tidak hanya berfokus pada UHC. Tahun depan, penurunan kemiskinan tetap menjadi target utama melalui dua jalur: jangka pendek melalui bantuan sosial, jangka menengah lewat percepatan pembangunan infrastruktur termasuk sektor kesehatan, dan melalui peningkatan kualitas pendidikan.
(Makanya kuota beasiswa di era saya ditambah. Pendidikan juga kita dorong lewat program kejar paket untuk memperbaiki IPM (Indeks Pembangunan Manusia),” jelasnya.
Selain banner, Pemkab Jember juga menggunakan beberapa kanal lain untuk menyampaikan program, seperti Gus’e Menyapa dan Bunga Desaku, yang disebut Fawait sebagai upaya memperpendek jarak komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dengan penjelasan ini, Fawait berharap kontroversi di media sosial dapat dilihat dalam konteks kebutuhan perluasan informasi publik, terutama untuk program yang menyentuh layanan dasar masyarakat. (dan/ian).



















