Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Peristiwa · 9 Mar 2026

Musrenbang RKPD 2027 Jember: Ekonomi Tumbuh, Tantangan Kemiskinan dan Stunting Masih Membayangi


Musrenbang RKPD 2027 Jember: Ekonomi Tumbuh, Tantangan Kemiskinan dan Stunting Masih Membayangi Perbesar

Senin, 09 Maret 2026 – 19.33 | 741 kali dilihat

 

Jember, Kabarpas.com – Pendopo Wahyawibawagraha, Senin (9/3/2026), menjadi titik temu berbagai kepentingan pembangunan di Kabupaten Jember. Pemerintah daerah menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, forum tahunan yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, hingga perwakilan masyarakat untuk merumuskan arah pembangunan daerah.

Forum ini digelar secara luring dan daring, menandai upaya memperluas partisipasi dalam penyusunan kebijakan pembangunan. Musrenbang bukan sekadar agenda formal, melainkan ruang untuk memastikan bahwa prioritas pembangunan daerah tetap selaras dengan arah pembangunan provinsi dan nasional.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Imam Hidayat menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat berjalan sendiri.

“Pembangunan itu tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Apa yang dicapai di daerah juga menjadi bagian dari keberhasilan provinsi dan nasional. Semua harus saling mendukung dan saling terkait,” kata Imam dalam forum tersebut.

Pemerintah pusat, menurut Imam, telah menetapkan fokus pembangunan tahun 2027 pada akselerasi pertumbuhan ekonomi berkualitas, terutama melalui peningkatan produktivitas investasi dan sektor industri.

Sejalan dengan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menguatkan pelayanan dasar untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kerangka kebijakan tersebut dirumuskan dalam sembilan program prioritas Nawabakti Satya Jawa Timur.

Program tersebut meliputi Jatim Sejahtera untuk percepatan pengentasan kemiskinan, Jatim Kerja untuk perluasan lapangan kerja berkualitas, Jatim Akses untuk penguatan konektivitas infrastruktur, Jatim Agro untuk peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan, Jatim Cerdas dalam penguatan pendidikan, Jatim Sehat untuk peningkatan layanan kesehatan, Jatim Berkah terkait tata kelola pemerintahan yang bersih, Jatim Harmoni untuk menjaga kehidupan sosial yang inklusif, serta Jatim Lestari yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan hidup.

Keselarasan program daerah dengan kerangka provinsi dan nasional dinilai penting agar pembangunan tidak berjalan terfragmentasi.

Dalam paparannya, Imam Hidayat juga menyoroti sejumlah indikator makro Kabupaten Jember yang menunjukkan tren positif.

Pertumbuhan ekonomi Jember tercatat mencapai 5,47 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 5,33 persen, sekaligus melampaui rata-rata nasional.

Capaian tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa aktivitas ekonomi daerah bergerak ke arah yang lebih baik.

Tidak hanya itu, tingkat pengangguran terbuka di Jember berada di angka 3,07 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat pengangguran Jawa Timur yang mencapai 3,71 persen, serta jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 4,74 persen.

“Ini menunjukkan strategi pembangunan yang dijalankan sudah mulai berdampak pada peningkatan kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujar Imam.

Meski sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif, tantangan pembangunan di Jember masih cukup besar.

Salah satunya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tercatat di angka 71,57. Menurut Imam, peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan menjadi faktor penting untuk mendorong kenaikan IPM di masa mendatang.

Selain itu, stunting masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia menegaskan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial lain seperti pendidikan orang tua, kesiapan membangun keluarga, hingga tingginya angka pernikahan usia dini.

“Stunting tidak hanya soal gizi, tetapi juga pola asuh dan kesiapan orang tua. Jika pasangan belum siap membangun keluarga, dampaknya bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Dalam forum Musrenbang tersebut, Imam juga mendorong pengembangan wilayah selatan Jember sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Wilayah ini dinilai memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah jika dikelola secara terpadu.

Selain itu, ia menyoroti komoditas unggulan Jember yang telah lama dikenal di pasar internasional, yaitu tembakau cerutu.

“Tembakau Jember ini salah satu yang bertahan hingga sekarang di pasar dunia. Dulu pesaingnya adalah Deli di Sumatera Utara, tetapi kini Jember menjadi salah satu pemain utama,” kata Imam.

Sementara itu, Bupati Jember Muhamad Fawait menegaskan bahwa proses perencanaan pembangunan tidak boleh hanya berlangsung di ruang rapat.

Melalui program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan), pemerintah daerah akan turun langsung ke desa-desa untuk menyerap aspirasi masyarakat.

“Kita akan bertanya langsung kepada masyarakat apa yang mereka butuhkan. Jadi bukan hanya melalui perwakilan, tetapi masyarakat sendiri yang menyampaikan usulan pembangunan,” ujar Fawait.

Program tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi program pemerintah, termasuk layanan kesehatan gratis melalui Universal Health Coverage (UHC) hingga ke tingkat desa.

Dalam beberapa kegiatan, masyarakat yang hadir juga diberikan paket sembako sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga serta daya beli warga.

Dalam Musrenbang RKPD 2027 ini, Gus Fawait menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan akan menjadi fokus utama pembangunan Kabupaten Jember pada periode 2026–2027.

Untuk memperkuat upaya tersebut, pemerintah daerah akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengentasan Kemiskinan.

Satgas ini akan bekerja menggunakan data terpadu dari Badan Pusat Statistik (BPS) agar program bantuan dapat disalurkan secara lebih tepat sasaran, terutama kepada kelompok masyarakat desil satu hingga desil empat, yakni lapisan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Bagi pemerintah daerah, keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari sejauh mana angka kemiskinan dapat ditekan dan kesejahteraan masyarakat meningkat.(dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Jember Jadi Percontohan Nasional, BGN Targetkan 400 SPPG dengan Perputaran Rp400 Miliar per Bulan

17 April 2026 - 07:28

KBIHU Safara Qolby Gelar Walimatus Safar, Bekali Jamaah Raih Haji Mabrur

13 April 2026 - 23:31

Tinjau Puskesmas Mumbulsari, Bupati Fawait Soroti Pelayanan hingga Fasilitas

8 April 2026 - 08:38

Dari Rumah Bocor ke Hunian Layak, Sumiati Rasakan Manfaat Program RTLH di Mumbulsari Jember

8 April 2026 - 08:35

Sholawat Kampung Jadi Ruang Aspirasi, Fawait Tambah Insentif Ketua Pengajian di Jember

8 April 2026 - 08:33

Puluhan Peserta Ikuti Technical Meeting Lomba dan Kirab Budaya Pasoeroean Tempo Doeloe

3 April 2026 - 16:40

Trending di Berita Pasuruan