Jember, Kabarpas.com – Kejuaraan Pencak Silat Jember Championship 3 bukan sekadar ajang perebutan piala. Bagi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Jember, turnamen ini menjadi titik awal membangun kembali kejayaan Jember sebagai “kota pendekar”.
Ketua Umum IPSI Jember Ahmad Halim mengakui, prestasi silat Jember dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, bahkan belum mampu menyumbang medali emas di ajang besar. Salah satu kendalanya adalah masih banyak perguruan yang belum memiliki fasilitas latihan memadai, termasuk matras.
“Ini tantangan bagi kami sejak saya mendapat amanah sebagai Ketua Umum IPSI,” ujarnya di sela kejuaraan di GOR PKPSO.
Halim mengenang masa 2010–2015 ketika Jember dikenal sebagai daerah penghasil pendekar yang rutin menyumbang medali di tingkat provinsi maupun nasional. Ia bertekad mengembalikan reputasi tersebut melalui pembinaan atlet sejak dini.
Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Dispora agar pencak silat prestasi masuk dalam kegiatan sekolah. Menurutnya, sekolah menjadi tempat paling efektif untuk menjaring bibit atlet.
“Dari SD sampai SMP kita seleksi. Targetnya dua tahun ke depan saat Porprov di Surabaya, kita sudah punya fondasi atlet yang kuat,” katanya.
Kejuaraan Jember Championship 3 sendiri disebut sebagai bagian dari proses inventarisasi dan seleksi atlet yang akan dipersiapkan menuju Popda dan Porprov mendatang.
Selain masalah prestasi, IPSI Jember juga menghadapi kekurangan pelatih di nomor seni. Selama ini, pencapaian Jember lebih banyak bertumpu pada nomor tanding, bahkan pada Porprov sebelumnya dibina oleh pihak luar daerah.
Halim mengaku baru tiga bulan menjabat dan masih memetakan potensi yang dimiliki. Ia optimistis Jember sebenarnya memiliki sumber daya pelatih dan wasit berkualitas, termasuk yang bersertifikat nasional hingga internasional.
“Kita petakan dulu peluang dari total medali yang diperebutkan. Setelah itu baru melangkah dengan roadmap yang jelas,” ujarnya.
Untuk target Porprov 2027, Halim memasang ambisi realistis. Jika KONI Jember menargetkan masuk 10 besar, IPSI berharap bisa berada di posisi lebih tinggi.
“Minimal mengikuti target KONI, tapi kalau bisa naik dua strip, di peringkat lima. Kalau keinginan tentu setinggi langit, juara satu,” katanya.
Ia menilai penyelenggaraan kejuaraan seperti Jember Championship perlu terus dilakukan untuk menambah jam terbang atlet sekaligus menjaga regenerasi.
“Event seperti ini penting untuk menyeleksi dan membentuk mental tanding,” ujarnya.
Dengan langkah pembinaan dari sekolah, peningkatan kualitas pelatih, serta rutin menggelar kejuaraan, IPSI Jember berharap kejayaan silat Jember kembali bangkit, dan julukan “kota pendekar” bukan lagi sekadar kenangan, melainkan target yang kembali nyata. (dan/ian).



















