Bupati Probolinggo Desak Presiden Keluarkan Perpu Tentang Perlindungan Anak

Probolinggo (Kabarpas.com) – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak menjadi perhatian tersendiri bagi Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari. Dirinya mendesak agar Presiden Jokowi segera mengeluarkan Perpu tentang perlindungan anak.

“Atas nama anak-anak generasi penerus bangsa dan Kabupaten Probolinggo. Kami bersedia mendukung pencegahan kekerasan pada anak,” kata Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari kepada Kabarpas.com saat ditemui di sela-sela dirinya memimpin aksi simpatik untuk Yuyun, korban pemerkosaan kejam di Bengkulu, Senin (09/05/2016).

Dalam aksi yang digelar di Jalur Pantura Kraksaan ini, dilakukan penggalangan dana kemanusiaan, penanda tangananan petisi nyala untuk Yuyun, serta pembagian bunga dan penyematan brosur anti kekerasan seksual terhadap anak.

Aksi tersebut, dilakukan bersama seluruh stake holder terkait. Di antaranya Diskominfo, Satpol PP, dan care foundation yang merupakan lembaga non pemerintah bidang sosial. Terutama, korban kekerasan terhadap anak. Dana yang terkumpul dari aksi ini, rencananya akan diberikan kepada anak-anak korban kekerasan.

“Salah satu akar permasalahan tersebut, adalah pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang,” sebut perempuan yang akrab disapa Bu Tantri tersebut.

Dijelaskan, ada beberapa langkah yang akan ditempuh oleh pihak Pemkab Probolinggo dalam rangka mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap anak. Di antaranya yaitu mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga ke masyarakat luas.

Ikhtiar tersebut, tak mungkin membuahkan hasil, tanpa ada sinergi yang apik. Yaitu antara pemkab Probolinggo, Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat dan TNI. Seluruh elemen masyarakat pun, dilibatkan dalam upaya pencegahan tersebut. Sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan seperti Yuyun.

Sementara itu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo mengaku, mendapat laporan persetubuhan gadis berusia 13 tahun. Hal itu terjadi, karena pelaku yang juga masih SMA adalah pacar korban. Terkait hal ini, Bupati menyampaikan, kasus tersebut perlu peran serta seluruh masyarakat. “Seperti yang saya katakan tadi, utamakan pencegahan, dari pada kejadian,” tandasnya.

Menurutnya, kasus-kasus semacam ini, seharusnya tidak fokus pada hukuman untuk pelaku. Namun, harus dipikirkan juga, langkah penanganan pemerintah terhadap korban. Sejauh mana pendampingannya, hingga penyembuhan trauma pasca kejadian. “Hal tersebut, menjadi penting untuk mengembalikan kepercayaan diri korban. Sehingga korban mampu kembali berbaur secara normal ditengah-tengah masyarakat,” pungkasnya, (sam/gus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *