Semarang, Kabarpas.com – Daun kelor yang selama ini tumbuh subur di pekarangan warga Desa Karangtengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, kini menemukan makna baru. Melalui inisiatif Aulya Indah Purwanty, mahasiswa KKN Pendidikan Biologi Universitas Negeri Semarang (UNNES), tanaman sederhana tersebut diolah secara inovatif menjadi puding sehat yang menarik, lezat, dan berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan ekonomi kreatif desa.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 7 Februari 2026 di Posyandu Flamboyan, Dusun Kuren, ini menyasar ibu-ibu posyandu serta kader posyandu sebagai peserta utama. Program tersebut merupakan bagian dari UNNES GIAT Angkatan 15 yang mengusung tema “Mahasiswa Berdampak Ngopeni Jateng”. Di Kecamatan Tuntang, fokus kegiatan diarahkan pada pengabdian masyarakat berbasis potensi lokal, khususnya penguatan ekonomi kreatif. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) LPPM UNNES bekerja sama dengan Pemerintah Desa Karangtengah dan masyarakat setempat, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Prof. Dr. F. Widhi Mahatmanti, M.Si.
Selama kurang lebih 1 jam, suasana Posyandu Flamboyan berubah menjadi ruang belajar yang interaktif dan penuh antusiasme. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berdampak pada perkembangan fisik dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dalam pemaparannya, Aulya menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting dapat dimulai dari pemanfaatan sumber pangan bergizi yang tersedia di sekitar lingkungan masyarakat.
“Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan, tetapi menyangkut masa depan anak-anak. Padahal, sumber gizi itu ada di pekarangan rumah warga. Daun kelor kaya akan zat besi, protein, vitamin A, vitamin C, dan kalsium yang sangat dibutuhkan dalam masa pertumbuhan,” jelasnya di hadapan para peserta.
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan puding daun kelor. Dengan bahan sederhana seperti agar-agar plain, daun kelor segar, gula pasir, santan atau susu cair, serta air, peserta diajak menyaksikan proses pengolahan hingga menghasilkan puding berwarna hijau alami yang lembut dan menggugah selera. Suasana semakin hidup ketika ibu-ibu dan kader posyandu turut praktik langsung, mulai dari menghaluskan daun kelor menggunakan blender hingga menuangkan adonan ke dalam cetakan. Aroma pandan yang harum dan tampilan puding yang menarik perlahan mengubah persepsi bahwa kelor hanya cocok diolah menjadi sayur bening.
Salah satu kader posyandu Dusun Kuren mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut. “Biasanya anak-anak kurang suka kalau kelor dibuat sayur. Tapi kalau diolah jadi puding seperti ini, tampilannya menarik dan rasanya enak. Ini juga bisa menjadi peluang usaha rumahan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Aulya membagikan puding hasil kreasi bersama serta leaflet resep praktis agar para peserta dapat mempraktikkannya kembali di rumah, bahkan mengembangkannya sebagai produk bernilai jual. Harapannya, inovasi ini tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan tumbuh menjadi gerakan kolektif dalam memanfaatkan potensi kelor secara kreatif, sehat, dan berkelanjutan.
Dari Posyandu Flamboyan, Dusun Kuren, tersirat pesan bahwa perubahan besar dapat berawal dari langkah sederhana yang dilakukan dengan kepedulian dan kolaborasi. Inilah wujud nyata semangat pengabdian mahasiswa yang berdampak: Bersama UNNES GIAT, membangun Indonesia dari Desa. (***/ian).



















