Jember, Kabarpas.com – Suasana Balai Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, pada Senin (6/4/2026) sore itu jauh dari kesan formal yang kaku. Kursi-kursi ditata sederhana, warga duduk berbaur, dan percakapan mengalir tanpa jarak. Di ruang itulah Bupati Jember Muhammad Fawait berdialog langsung dengan masyarakat dalam rangkaian program Bunga Desaku yang digelar selama dua hari, 6–7 April.
Salah satu suara yang mencuri perhatian datang dari Amiruddin, Ketua RW 01 Dusun Krajan, Desa Lengkong. Ia berbicara tanpa basa-basi. Memuji, lalu mengkritik. Dalam satu tarikan napas, ia mengapresiasi arah pembangunan, sekaligus menyodorkan sejumlah persoalan yang dirasakan warga.
Sorotannya pertama-tama tertuju pada bandara di Jember, sebuah infrastruktur yang bagi Amiruddin, belum sepenuhnya berfungsi sebagai pengungkit ekonomi. Masalahnya bukan pada landasan pacu atau jadwal penerbangan, melainkan hal yang lebih mendasar. Yakni, akses dan ekosistem di sekitarnya.
“Bandara itu tolok ukur kemajuan ekonomi. Tapi sarana penunjangnya masih kurang,” kata Amiruddin. Ia menyinggung kondisi jembatan sebagai akses utama menuju kawasan bandara yang dinilai belum memadai, serta minimnya aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.
Dari isu besar itu, pembicaraan bergeser ke persoalan yang lebih dekat dengan keseharian warga, yaitu sertifikasi tanah. Program seperti PTSL dan Prona, menurut Amiruddin, masih menyisakan kendala di lapangan, terutama terkait target bidang tanah yang ditetapkan Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Alih-alih mempermudah, target tersebut kerap menjadi beban administratif bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Ia mengusulkan agar skema itu dievaluasi, atau setidaknya dibuat lebih fleksibel.
Tak berhenti di situ, Amiruddin juga membawa isu yang sering luput dari perhatian, adalah kesejahteraan pengurus lingkungan. Ia mengusulkan pengadaan seragam dan sepatu baru bagi RT dan RW. Hal yang mungkin terdengar sepele, tetapi menurutnya penting untuk membangun rasa percaya diri sekaligus kekompakan dalam melayani warga.
Di sektor ekonomi, ia mendorong keberlanjutan program “Gerobak Cinta”, sebuah bantuan bagi pelaku usaha kecil dengan penambahan kuota pada 2026. Program ini, kata dia, terbukti membantu warga di lapisan bawah untuk tetap bertahan.
Di hadapan berbagai usulan itu, Fawait tidak hanya mencatat. Ia merespons dengan gaya yang cair, sesekali menyelipkan humor. Saat menanggapi usulan seragam, ia berkelakar agar sekalian ditambahkan kopiah agar para ketua RW terlihat lebih berwibawa.
Di balik suasana santai itu, Fawait menegaskan bahwa forum semacam ini bukan sekadar ajang seremonial. Ia menyebut masukan dari tingkat RW sebagai fondasi penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.
Dialog pun ditutup dengan gestur sederhana. Fawait memberikan cokelat kepada Amiruddin. Hadiah kecil itu mungkin tak mengubah isi kebijakan, tetapi cukup untuk menandai sesuatu bahwa relasi antara pemimpin dan warga, setidaknya di ruang itu, dibangun lewat percakapan, bukan sekadar prosedur.
Di tengah perdebatan publik tentang efektivitas Bunga Desaku, forum di Lampeji menunjukkan satu hal. Aspirasi tidak selalu datang dalam format laporan resmi. Kadang, ia hadir lewat suara warga yang memilih berbicara langsung dan didengar. (dan/ian).

















