Jember, Kabarpas.com – Jarak ribuan kilometer antara Makkah dan Jember tak lantas membuat kendali pemerintahan terlepas dari tangan Bupati Muhammad Fawait. Di tengah cuti ibadah umrah, ia justru menunjukkan bahwa roda birokrasi, terutama program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap bergerak di bawah arahannya.
Senin (2/3/2026) malam, Fawait muncul di layar rapat koordinasi Satgas MBG Kabupaten Jember melalui sambungan daring di Pendopo Wahyawibawagraha. Dia memimpin langsung jalannya evaluasi, memberi peringatan keras soal kualitas menu, hingga menegaskan standar pengelolaan dapur program nasional tersebut.
“Ini fondasi menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Jangan dipandang sebagai proyek bagi-bagi makanan saja,” tegasnya.
Pernyataan itu menyiratkan bahwa meski sedang menjalankan ibadah, fokusnya pada agenda strategis daerah tidak berkurang. Bahkan, nada bupati mengeras saat menyinggung dugaan pengurangan anggaran menu di lapangan.
“Tidak boleh ada pengurangan sedikit pun. Kalau ada yang melanggar, konsekuensinya jelas,” ujarnya.
Fawait juga menyoroti dapur yang belum memenuhi standar perizinan, termasuk ketiadaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Baginya, program berskala besar seperti MBG harus berjalan dengan tata kelola ketat karena menyangkut keselamatan penerima manfaat.
Kehadiran virtual itu sekaligus menjawab perdebatan internal yang sempat mengemuka selama bupati cuti. Wakil Bupati Djoko Susanto sebelumnya mengambil sejumlah langkah administratif, mulai dari berkirim surat ke Gubernur Jawa Timur hingga menggelar konsolidasi internal pemerintahan.
Namun rapat MBG yang dipimpin langsung Fawait dari Makkah menunjukkan bahwa kendali strategis tetap berada di tangan kepala daerah. Teknologi komunikasi memungkinkan keputusan diambil lintas negara, menjadikan jarak bukan lagi penghalang dalam tata kelola pemerintahan modern.
Kuasa hukum bupati, Moh. Husni Thamrin bahkan menegaskan kepala daerah tetap dapat menjalankan tugas selama masih mampu berkomunikasi dan mengambil keputusan dari mana pun berada.
Sikap Fawait juga terlihat dalam visinya terhadap MBG sebagai motor ekonomi baru daerah. Ia memperkirakan ratusan dapur akan beroperasi dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga puluhan ribu orang dan perputaran dana yang signifikan bagi ekonomi lokal.
“Perputaran ekonomi akan terasa sampai ke desa-desa,” katanya.
Untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan, Pemkab Jember menyiapkan pengawasan berlapis, mulai dari evaluasi rutin, pelaporan harian, hingga integrasi CCTV dapur dengan sistem pemantauan pemerintah daerah.
Di tengah dinamika dua pucuk pimpinan daerah, momen ini memperlihatkan model kepemimpinan jarak jauh yang semakin relevan di era digital.
Dari Makkah, Fawait memberi pesan bahwa cuti ibadah bukan jeda dari tanggung jawab pemerintahan. Setidaknya untuk saat ini, kendali Jember masih berada dalam genggamannya meski dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer. (dan/ian).



















