Oleh: Samsul Hidayat, Wartawan Kabarpas.com Probolinggo
Probolinggo (Kabarpas.com)- DILUAR kesibukannya sebagai orang nomor satu di Kabupaten Probolinggo. Ternyata, tak membuat Bupati Probolinggo ingin ketinggalan untuk mengantarkan putranya berangkat ke sekolah.
Ya, itu dilakukan oleh Bupati perempuan pertama di Kabupaten Probolinggo tersebut, yaitu Puput Tantriana Sari. Pagi itu, Bupati berparas cantik itu mengantarkan putranya, Daffa Taajmulkail Akbar untuk mengikuti seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (P2DB) di SDN Sukabumi, Kota Probolinggo.
Tak hanya mengantar, bupati yang hobi fotografer itu juga rela menunggu putranya mengikuti seleksi hingga usai, di SDN yang berlokasi di Jalan dr.Muhammad Saleh. Daffa sendiri memperoleh nomor pendaftaran 138.
Kendati anak seorang bupati, panitia seleksi P2DB memperlakukan Daffa sama seperti peserta lain. Ia harus antri di nomor 138 sesuai nomor pendaftaran sebelum dipersilahkan masuk ke ruang seleksi yang disediakan oleh panitia.
Sedangkan Bupati Tantri, rela menunggu anaknya hingga masuk ke ruang seleksi dan berbaur dengan orang tua dan wali murid calon siswa Sdn sukabumi 2.
Setelah seluruh peserta P2DB masuk ke ruang seleksi, orang tuanya dipersilahkan memasuki ruangan di sisi selatan. Sambil menunggu anaknya selesai seleksi, oleh pihak sekolah para orang tua pun dinterview seputar kesiapan dan dukungan orang tua jika putra-putrinya diterima. Termasuk Bupati Hj Puput Tantriana Hasan Aminuddin.
Disela-sela menunggui putra pertamanya, bupati mengaku menyekolahkan Daffa di SDN Sukabumi 2 karena faktor jarak. Dari pendapa kabupaten, rumah dinas bupati jaraknya kurang dari 1 kilometer.
“Kalau TK-nya di barat pendapa. Tinggal nyeberang sudah sampai. SD-nya kami sekolahkan di sini, pertimbangannya karena dekat,”tandasnya.
Selain dekat, juga karena Daffa sendiri meminta sekolah di SDN Sukabumi 2. Sejak TK menurut bupati, anaknya meminta sekolah di SDN tersebut. Daffa kenal dan tahu kalau SDN yang kini dipimpin oleh Agus Lithanta itu, dari kaka-kakanya. “Kakak-kakaknya kan sekolah di sini. Jadi ia dari kecil sudah tahu dan meminta sekolah di sini,”tambahnya.
Antara bupati dengan Daffa, bak gayung bersambut. Tantri juga berkeinginan putra pertamanya sekolah di SDN yang memiliki karakter. Dan sekolah yang memiliki karakter lanjutnya, adalah SDN Sukabumi 2.
Ia juga menegaskan terkait alasannya untuk menyekolahkan anaknya itu di SDN Kota Probolinggo. Menurutnya, bukan berarti SD yang ada di wilayahnya (Kabupaten) tidak memiliki sekolah favorit dan berkarakter. “Kami juga memiliki sekolah seperti SD ini. Tapi kan pertimbangannya, jarak,” imbuhnya.
Menurutnya, Kabupaten Probolinggo juga memiliki SD seperti SDN Sukabumi 2 yang tersebar diberbagai Kecamatan. Bahkan, tak hanya berkarakter, tetapi sudah Go Internasional dan menjadi percontohan.
“Tidak sedikit sekolah di Indonesia, sebab sekolah luar negeri yang datang untuk belajar ke SD yang go internasional tersebut. Seperti SDN di Kecamatan Kraksaan, Maron dan Banyuanyar,” terangnya kepada Kabarpas.com.
Sementara itu, di tempat yang sama, kepala SDN Sukabumi 2, Agus Lithanta menjamin tidak ada perlakuan istimewa terhadap anak pejabat, termasuk putra seorang bupati.
“Seluruh peserta P2DB harus menjalani seleksi satu hari penuh. Bukan test, tetapi seleksi. Panitia yang menyeleksi sebayak 162 pendaftar P2DB. Kami saring hingga 128 anak jumlahnya. Sesuai dengan kuota dari diknas,”katanya kepada Kabarpas.com.
Panitia terpaksa membuang atau tidak meloloskan 40 siswa. Caranya, mereka akan dijaring dengan cara seleksi. Diantaranya, usia, jarak tempat tinggal ke sekolah, kemandirian, kebahasaan atau pengusaan bahasa. Selain itu mereka juga disuruh mewarna, untuk mengetahui motorik halus peserta P2DB.
“Panittia juga akan menanyakan nama anak, nama orang tua, alamat dan pejkerjaannya, juga asal TK-nya. Begitu metode seleksinya,”pungkas Agus. (***/tin).

















