Reporter: Albar
Editor : Memey Mega
Malang, kabarpas.com – Menyongsong pemilu 2019 semakin ramai dengan berbagai gagasan untuk memenangkan figur politik yang dijagokan. Kali ini persembahan karya ilmiah lahir dari mantan aktivis mahasiswa Malang yang dulu pernah mewarnai gerakan jalanan Kota Malang.
Buku ini lebih mengedepankan aspek akademik bukan kampanye, karena lebih mengulas antar program yang dicanangkan oleh kedua Paslon Presiden Republik Indonesia secara akademik.
Setelah dari Jakarta, buku Prabowo Sandi di Mata Millenial juga hadir untuk dibedah di Kota Malang yang bertempat di kopitalizm caffe pada Kamis 4/4/19
Tiga orang yang menyatukan gagasan mereka antara lain Riyanda Barmawi, Haris Samsuddin dan M. Jusrianto yang masing-masing adalah alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ke tiga penulis ini juga adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang dari asal komisaris Ilmu sosial dan Ilmu politik (ISIP UMM)
Karya “Prabowo Sandi di Mata Millenial” menyangkut gagasan besar antar kedua Paslon bukan hanya pada satu Paslon karena ini adalah karya ilmiah yang siap di kritisi dan diberi masukan. Ungkapan Haris Samsuddin (salah satu penulis buku ini)
Riyan yang juga salah satu penulis dan juga aktif jalanan Kota Malang saat masih mahasiswa. Dahulunya aktif Malang ini sering mengkritik Prabowo dijalanan karena menilai Prabowo adalah pelaku korban kekerasan 1998 namun setelah mendalami lewat kajian dan bertemu langsung dengan Prabowo, alhasil Prabowo sebagai korban orde baru.
“Sampai saat ini Prabowo masih menunggu panggilan dari pengadilan internasional untuk bersaksi” lanjutannya hasil pembicaraannya dengan Prabowo
Begitu juga Jusrianto. Sebagai sarjana Hubungan internasional dia memandang bahwa Indonesia harus tetap eksis di dunia internasional terutama pada potensi wilayah ekonomi eksklusif terkhusus pada konfil laut Cina Selatan.
“kerjasama internasional Indonesia seperti China dan Indonesia, yang dirugikan adalah Indonesia hal ini dapat terlihat dari material dan tenaga kerja kebanyakan berasal dari China, Indonesia seharusnya diuntungkan bukan sebaliknya” tutup demisioner ketua umum Komisaris ISIP UMM itu.
Diskusi bedah buku ini dihadiri hampir 100 mahasiswa dan aktif dari berbagai organisasi ekstra dan intra kampus yang menuai pro kontra namun berlandaskan pada data dan mengedepankan nilai-nilai akademik bukan politik. (bar/mey)















