Oleh : Pujo Wahono, Wartawan Kabarpas.com biro Probolinggo.
KABARPAS.COM – PULAU Gili Ketapang dikenal oleh masyarakat pantura sebagai kawasan penghasil lobster kualitas pilihan. Perairan yang jernih dan tenang membuat hasil budidaya lobster asal Gili Ketapang banyak dipesan.
Pulau Gili Ketapang merupakan pulau kecil yang berada di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo dengan memiliki luas sekitar 68 hektar dan berpenduduk 12 ribu jiwa. Mayoritas masyarakat setempat berprofesi sebagai nelayan dan salah satunya adalah budidaya ikan dan lobster.
Salah satu pembudidaya lobster pulau Gili Ketapang, Rohadi Hasyim mengatakan awal mula dirinya terjun menjadi budidaya di pulau ini sejak 5 tahun silam, dan kini anggotanya sudah mencapai sekitar 100 orang.
“Untuk hasil budidayanya sudah dikirim ke berbagai daerah, seperti Malang, Surabaya. Dan mayoritas dikirim ke pulau Dewata Bali,“ ujar Rohadi kepada wartawan Kabarpas.com biro Probolinggo. Rabu, (27/10/2021).
Namun, sejak pandemi Covid-19 usaha budidaya warga pulau GIli Ketapang ini sedikit meredup, karena sepi pesanan, dan harga lobsternya pun turun dari harga normal Rp 350 ribu perkilo gram kini hanya berkisar Rp 250 ribu saja. Belum lagi mereka mengaku kesulitan mencari baby lobster pasca sejak diberlakukanya Permen KP no 17 Tahun 2021.
Ketua Koalisi Pembudidaya Lobster Indonesia, Holilur Rohman menyebut kawasan pulau Gili Ketapang terkenal dengan hasil lobsternya.
“Kualitas lobster asal Gili Ketapang terkenal kualitas terbaik, hal tersebut karena kawasan perairanya jernih, dan tingkat pencemaran lautnya rendah,” ujar Holilur.
Holilur juga menyebut, sejak pandemi dan diberlakukanya permen KP para pembudidaya mengalami kendala, di antaranya pemasaran yang lesu, harga lobster siap jual yang murah, dan dampak dari permen KP mereka kesulitan mencari baby lobster.
“Dalam Permen KP ada aturan teritori tentang pembibitan dan budidaya, sedangkan untuk saat ini pembibitan (baby lobster ) berada di kawasan Bali, sedangkan budidaya berada di kawasan pantura. Sehingga dengan adanya terotori ini mereka kesulitan mendapatkan baby lobster,” tambahnya.
Dampaknya lanjut Holili, pembudidaya Gili Ketapang harus berjuang keras mendapatkan baby lobster tersebut.
“Berharap pemerintah harus hadir dalam permasalahan ini, dan segera diberikan solusi agar mereka tidak terus meredup dan berujung gulung tikar,” pungkasnya. (***/Ardiansyah Wirawan).



















