Probolinggo, kabarpas.com – Keberhasilan percepatan vaksinasi sasaran lansia, ODGJ dan kaum disabilitas di Kota Probolinggo, salah satunya adalah berkat peran dari tim medis yang ramah, sabar untuk terus memberi edukasi ke masyarakat tentang manfaat vaksin.
Sebut saja dr Ike Yuliana, dia merupakan salah satu vaksinator Puskesmas Kanigaran, yang selalu telaten dan sabar terjun ke masyarakat untuk memberi pemahaman kepada masyarakat bertapa pentingnya mengikuti serbuan vaksin.
“Menghadapi Masyrakat khusunya ODGJ, Lansia , dan berkebutuhan khusus , memang harus telaten dan sabar,” ujar Ike kepada Kabarpas.com. Selasa, (28/9/2021).
Ike menambahkan, menghadapi mereka (ODGJ, Lansia, dan bekebutuhan Khusus) diperlukan pemahaman dan pengertian dilakukan berkali-kali, khusunya dalam serbuan vaksin ini.
“Sesering mungkin diberikan pemahaman, bukan merayu lho ya, agar masyarakat mengerti pentingya vaksin di masa pandemi covid-19 ini,” tambahnya.
Selain memberi pemahaman pentingnya vaksin, dr Ike juga terus mengkampanyekan pentingnya disiplin Protokol Kesehatan atau 5 M. Sudah tervaksin dan disiplin 5 M seperti selalu memakai masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan , dan membatasi aktivitas di luar rumah merupakan cara efektif melawan covid-19.
“Karena kesabaran dan ketelatenanya. Capaian vaksin sasaran ODGJ, lansia, dan berkebutuhan Khsusus di Kota Probolinggo mencapai 70 persen, dari 113 ODGJ. Lansia, dan berketbutuhan khusus terget vaksin,” terangnya.
Wali Kota Probolinggo Habib hadi Zainal Abidin, mengapresiasi upaya tim vaksinator di Kota Probolinggo yang hingga kini terus terjun ke lapangan.
“Saya mengapresiasi kerja tim vaksinator, yang terus turun ke lapangan, masuk ke gang-gang untuk melakukan percepatan vaksinasi. Pemerintah Kota Probolinggo terus melakukan upaya percepatan vaksinasi agar Herd Immunity segera tercapai,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu peserta vaksin, Maryam (55) menuturkan, petugas vaksin ramah-ramah dan sabar.
“Sebelumnya saya takut, kemudian diberikan pengertian oleh bu dokter, akhirnya berani, ehh, ternyata divaksin tidak sakit,” ujar Maryam.
Selain itu, lanjut Maryam bu dokter juga berkeliling melalaukan vaksin, sehingga dirinya yang dalam keseharianya harus menggunakan krek (alat bantu Jalan) tanpa susah-susah mendatangi posko serbuan vaksin. (pj/tin).



















