Rabu, 08 April 2026 – 08.33 | 1153 kali dilihat
Jember, Kabarpas.com – Rangkaian program Bunga Desaku hari kedua di Kecamatan Mumbulsari menjadi ruang interaksi langsung antara pemerintah daerah dan masyarakat bawah. Salah satunya melalui kegiatan Sholawat Kampung yang digelar di Balai Desa Mumbulsari, yang mempertemukan Bupati Jember Muhammad Fawait dengan ratusan guru ngaji.
Di forum tersebut, Fawait tidak sekadar menyampaikan sambutan, tetapi juga membuka dialog dengan para guru ngaji terkait program insentif yang selama ini menjadi perhatian. Ia bahkan mengajukan pertanyaan langsung kepada peserta mengenai penyaluran insentif, baik untuk guru ngaji muslim maupun non muslim, sebagai bentuk evaluasi terbuka di hadapan publik.
Program insentif guru ngaji sendiri telah menjadi salah satu kebijakan sosial yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Jember sejak 2025. Pada tahun pertama pelaksanaannya, jumlah penerima mencapai sekitar 22 ribu orang. Sementara pada 2026, jumlah tersebut tercatat lebih dari 20 ribu penerima.
Dalam kesempatan itu, Fawait juga menyampaikan kabar baru yang disambut antusias peserta. Pemerintah daerah, kata dia, akan memperluas cakupan penerima manfaat dengan memberikan insentif kepada ketua pengajian.
“Tahun ini kita juga akan memberikan insentif kepada ketua pengajian, tidak hanya guru ngaji. Ini bentuk apresiasi dari Pemkab Jember dan akan direalisasikan di 2026,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penerima bantuan tidak diperkenankan menerima lebih dari satu jenis insentif. Artinya, guru ngaji yang sekaligus menjabat sebagai ketua pengajian harus memilih salah satu bantuan.
“Kalau ada yang merangkap, harus memilih. Tidak boleh dobel,” tegasnya.
Berdasarkan data Bagian Kesejahteraan Sekretariat Daerah Kabupaten Jember, hingga saat ini sebanyak 20.007 guru ngaji telah menerima insentif sebesar Rp1,5 juta per orang. Menariknya, pencairan dilakukan sebelum Hari Raya Idulfitri, sesuatu yang menurut Fawait belum pernah terjadi pada periode sebelumnya.
“Alhamdulillah bisa dicairkan sebelum lebaran. Saya tahu sebelumnya belum pernah ada,” kata Fawait, yang disambut tepuk tangan para guru ngaji.
Meski demikian, masih terdapat 692 penerima yang belum menerima pencairan. Pemerintah daerah menargetkan sisa tersebut dapat diselesaikan dalam waktu dekat.
“Minimal minggu depan sudah bisa cair,” ujarnya.
Momentum Sholawat Kampung ini menunjukkan bagaimana pendekatan pemerintah daerah mulai mengarah pada pola komunikasi yang lebih partisipatif. Di satu sisi, pemerintah menyampaikan program dan capaian, namun di sisi lain juga membuka ruang umpan balik langsung dari masyarakat.
Bagi kelompok guru ngaji, insentif tersebut tidak hanya dipandang sebagai bantuan finansial, tetapi juga bentuk pengakuan terhadap peran mereka dalam membangun pendidikan keagamaan di tingkat lokal. Sementara bagi pemerintah, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan program kesejahteraan sosial.
Di tengah berbagai keterbatasan fiskal daerah, langkah memperluas penerima insentif termasuk kepada ketua pengajian menjadi penanda bahwa sektor sosial-keagamaan tetap mendapat perhatian. (dan/ian).

















