Pasuruan, Kabarpas.com – Pemerintah Kabupaten Pasuruan tak ingin kecolongan menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Antisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok sudah disiapkan sejak dini. Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Auditorium Mpu Sindok.
Forum tersebut menjadi langkah awal penguatan strategi pengendalian inflasi jelang hari besar keagamaan. Seluruh pemangku kepentingan dikumpulkan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga tetap terjaga.
Rusdi menegaskan, TPID tak boleh bekerja normatif. Ia meminta langkah konkret dan responsif di lapangan. Menurutnya, pengendalian inflasi harus dimulai dari hulu hingga hilir. Mulai peningkatan produktivitas, kelancaran distribusi, hingga penguatan daya beli masyarakat.
“Pasokan harus aman, baik antarwaktu maupun antarwilayah. Produktivitas ditingkatkan, akses pembiayaan diperluas, termasuk untuk mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan suplai pangan stabil,” tegas Rusdi.
Distribusi menjadi perhatian serius. Ia mengingatkan agar tidak terjadi disparitas ketersediaan komoditas antarwilayah. Pemkab akan memfasilitasi kelancaran logistik agar tidak ada daerah yang surplus berlebihan sementara wilayah lain mengalami kekurangan.
Selain itu, komunikasi publik diminta diperkuat. Pemerintah ingin mengelola ekspektasi masyarakat agar tidak terjadi aksi borong atau panic buying yang berpotensi mendongkrak harga.
“Informasi harus tersampaikan dengan baik. Jangan sampai masyarakat panik lalu justru memicu inflasi,” imbuhnya.
Sejumlah instrumen pengendalian tetap dioptimalkan. Operasi pasar, pasar murah, hingga monitoring harga harian di pasar tradisional akan terus digelar. Pemkab memastikan intervensi cepat jika ditemukan gejolak harga yang tak wajar.
Sekretaris Daerah Yudha Triwidya Sasongko menyebut kondisi harga di Kabupaten Pasuruan relatif terkendali. Bahkan, sejak Januari hingga pekan pertama Februari 2026, Pasuruan mencatat deflasi selama lima minggu berturut-turut.
Penurunan harga terutama terjadi pada komponen volatile food atau bahan pangan bergejolak. Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, beras, bawang merah, hingga telur ayam ras mengalami koreksi harga.
“Deflasi dipicu musim panen di sejumlah sentra produksi. Stok di pasar melimpah sehingga harga cenderung turun,” jelas Yudha. (dis/ian).



















