Wow, Pria Asal Probolinggo Mampu Cetak Burung Juara dengan Omzet Puluhan Juta 

Reporter : Moch Wildanov

Editor : Agus Hariyanto

 

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Sosok Lukmanul Hakim, pria asal Desa Sumbersuko, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, di mata teman-temanya mendapat julukan pawang burung.

Kepiawaianya merawat dan mencetak burung juara, membuat pria umur 36 tahun ini mendapat predikat tersebut.

Karena prestasinya mencetak burung juara yang ditekuninya sejak tahun 2010 ini, di etalase ruang tamu rumahnya banyak tersimpan rapi piala juara lomba berbagai daerah baik tingkat regional maupun nasional.

Tiap hari selalu saja ada pecinta burung yang datang ke rumahnya, baik itu menanyakan kondisi atau konsultasi burung idolanya yang dititipkan kepadanya.

Di rumahnya, terdapat 8 burung murai batu jadi dan siap lomba hasil perawatanya.

Sedangkan di kandang karantinanya masih terdapat 8 pasang lagi burung murai dalam proses pemulihan.

Tidak hanya menerima merawat burung saja, pria yang keseharian bekerja di Bank swasta ini juga membeli burung stres untuk dirawatnya dan bila kondisinya maksimal akan dijual lagi.

Dirinya memilih burung murai, karena harganya stabil, bisa dibayangkan satu ekor murai yang kondisinya tidak sehat (stres) biasanya seharga Rp 1 hingga Rp1,5 juta per ekor. Dan setelah dirawat sekitar 2 atau 3 minggu dan kondisinya membaik harganya bisa mencapai Rp 5 hingga 6 juta per ekornya, itu kalau sudah juara harganyapun lain juga.

“Tidak mesti dalam sebulan bisa laku 8 hingga 10 ekor, tinggal mengkalikan saja ya, kalau dirata-rata sekitar Rp 25 juta,” ujar Lukman kepada wartawan Kabarpas biro Probolinggo. Selasa (13/10/2020)

Lukman menambahkan, di saat pandemi Covid-19 ini justru banyak burung murai yang tidak terawat dan dijual murah, dan banyak yang ditawarkan kepada dirinya.

“Alhamdulillah, peminat burung siap jadi juga meningkat. Yakni, meningkat sekitar 20 persen. Dan peningkatan ini juga berdampak pada penghasilan pundi-pundi rupiah saya,” tambahnya.

Dirinya belajar merawat burung secara otodidak, dan diperdalam sharing dengan komunitas pecinta burung lainya.

“Yang terpenting telaten, sabar, dan paham dan mengerti karakter burung mental juara,” tandasnya.

Sementara itu, Mahfud salah satu pecinta burung menceritakan, Lukman memang memiliki keterampilan khusus dalam merawat burung, khususnya jenis murai.

“Dia pintar merawat burung, baik itu burung rusak, stres, yang tidak mau ngoceh akhirnya bisa ngoceh kembali. Soal biaya menitipkan burung untuk dirawat, Lukmanul tidak mematok biaya, dan seiklasnya (harga pertemanan) dan saya sendiri menyebutnya (Lukmanul Hakim) pawang burung,” tutupnya. (wil/gus).