Titipan Tuhan

Oleh: Egie

KABARPAS.COM – MALAS rasanya aku beranjak dari ranjang ku yang nyaman. Hari Jumat yang selalu sama. Rutinitas harian yang melelahkan di akhir minggu. Ya… bukan hari Jumat yang salah, tapi aku yang gila kerja akan merasa kesepian di setiap libur akhir pekan. Ditambah lagi akan ada tanggal merah berturut-turut di hari Senin dan Selasa. Lengkaplah sudah kesepianku.

Aku mulai hari ini dengan setengah hati. Berangkat ngantor seperti biasa. Sampai di kantor, tidak ada yang istimewa. Semua orang sibuk bersiap.

Namun ada yang menarik perhatianku, di pantry. Khanin, si manajer dan gerombolannya, sedang berdiskusi. Seperti membicarakan hal yang penting dan rahasia. Samar-samar terdengar olehku tanpa sengaja.
“Gimana nih, Da? Gua bingung. Siapa nih yang bisa bantu? Lu bisa nggak, Di?” kata Khanin berbisik.

Didi pun menimpali dengan nada terkejut, “Mana ngarti gua ngurus begituan, Nin? Ngurus diri sendiri aja kagak beres. Hahahaha….”
Didi tertawa kelepasan, sampai-sampai Ida dan Khanin melotot karena menyadari kedatanganku.

Seketika mereka kompak menatap ke arahku dengan tatapan penuh harap. Mereka pun menarik tangan ku dengan paksa menuju ke pantry. Mereka mengunci pintu sambil menatapku kompak. Rasanya seperti adegan drama korea dengan genre crime. Tatapan mereka yang tajam seperti ingin mencekik dan menerkamku.

“Mbak… Arine… boleh nggak? Kita.. nitip sesuatu? Yaaaa….. boleh ya, mbak…?” ucap Ida memberanikan diri, sembari mengedipkan mata pada Khanin, memberi isyarat.
“Iya nih mbak sekretaris yang cantik… baik hati.. dan suka menolong.. Please…. Bantu kita ya..?” Didi menimpali.

“Huft… lega rasanya. Kirain kalian mau makan gua. Muka pada seram begitu,” ucapku.
“Sebenernya ada apa sih ini? Asal bukan narkoba atau barang curian, okelah gua mau dititipin. Kalau hewan peliharaan kayak kucing mah gua mau. Biar liburan gua nggak bete.”

“Alhamdulillah……….,” kompak mereka menjawab sambil lompat kegirangan.
Si Khanin mulai serius, “Gua beneran minta tolong ya, mbak Ar. Lu kan tau besok gua terbang ke Pontianak sampai satu minggu-an. Nggak papa deh kalian nggak bisa dateng di acara nikahan gua. Nggak perlu mikirin amplop deh, asal kalian bantu gua, gua udah makasih banget.”
Pembicaraan jadi semakin serius.

“Udah… gitu aja kok heboh, yang penting jangan lupa komisi plus oleh-olehnya ya, Pak Manajer!”.
“Pada balik ke meja kerja masing-masing sana! Mister Kim ntar keburu dateng lho!” kataku mengakhiri.

Tanpa mengindahkan ucapanku, mereka tetap duduk sambil berbisik.
Ida berkata, “Dasar Mbak Arine yang polos, dipepet sedikit langsung iya. Padahal dia kan belum tau apaan yang mau dititipin.”
Dengan senyum meledek, Khanin menambahkan, “Ssssttt…. Yang penting kan dia mau. Kalian sih tinggal sama ortu. Jadi kan nambah orang lagi yang tau aib gua.”
“Kalian saksinya lho ya?” tambahnya menegaskan.
Merekapun bubar dan kembali bekerja seperti biasa.

Hari Jumat pun berlalu begitu cepat. Aku sempat berpikir harus berbuat apa saat libur panjang besok, hingga tak terasa mataku pun terpejam.

Keesokan harinya, Sabtu pagi, setelah selesai sholat Subuh, aku ingin kembali tidur sebelum mulai berbenah. Mungkin karena hari libur, rasa bosan mulai menggangguku. Namun tetap aku paksakan mataku terpejam.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk dari depan kontrakan, “tok.. tok…”
Suaranya terdengar pelan dan perlahan. Aku tidak yakin akan membukakan pintu atau tidak, karena waktu masih menunjukkan pukul 05.10 pagi.
“Orang iseng,” pikirku sambil menggerutu.

Tak lama kemudian terdengar suara lagi dari luar. Kali ini terlihat ada bayangan pula di balik jendela kaca depan.
“Assalamu’alaikum… Mbak Arine. Mbak…,” terdengar suara seseorang yang tidak asing mengucap salam.
Akhirnya, ku bukakan pintu kontrakan perlahan sambil mengintip ke arah luar.
“Mbak Arine! Lama banget bukanya!” kata Khanin sedikit kesal.
“Ooooo…. Kamu toh. Ada apa pagi-pagi buta ke sini? Kayak orang nagih hutang aja,” kataku sambil membuka pintu lebar.
Ternyata Khanin datang bersama seorang wanita yang samar-samar terlihat tidak asing dimataku. Tapi siapa, aku lupa.

Khanin terlihat tergesa-gesa, “Mbak, gua minta tolong titip yang kemarin gua ceritain di kantor ya. Sudah gua siapkan semua lengkap dengan uang cash-nya. Kali aja ada yang habis, tolong mbak beliin dulu ya.”
“Kami nggak ada waktu lagi mbak, takut ketinggalan pesawat. Maaf ya mbak ngerepotin. Nanti tolong kabar-kabarin ya?”
Dengan terburu-buru, Khanin menyerahkan seorang bayi laki-laki lengkap dengan tas perlengkapan bayi. Ya, bayi! Seorang bayi laki-laki.

Betapa terkejutnya aku bagai tersambar petir di pagi buta, aku menerima bayi itu di tanganku. Tanpa mampu berkata-kata. Khanin berlalu bersama perempuan itu, tanpa memberiku kesempatan untuk menolak.

Bingung bercampur sedih, ku pandangi bayi mungil yang tak berdosa ini, sembari berkata dalam hati, “Bayi siapa ini….?!”

===to be continue===