Titipan Tuhan – Part.3

Oleh : Egie

KABARPAS.COM – TAK ada jawaban di seberang telepon. Kemudian terdengar suara “Brakk” sangat keras. Seperti suara benda terjatuh. Aku sangat panik dan bingung.
“Halo….. Nin. Halo…… Lu kenapa, Nin?”
“Khaniiiiiiin…. Halo…..!!!”.

Aku semakin panik karena tidak ada jawaban dari Khanin setelah itu. Aku berusaha untuk tetap tenang. Entah apa yang ada dalam benak Khanin. Mungkinkah tentang golongan darah Harry? Ataukah Hanni ada masalah dalam proses persalinannya? Semoga saja tidak.

Aku terus berusaha menghubungi petugas laboratorium, berharap distribusi darah dari PMI pusat segera tiba.

“Mbak, apa sudah ada kabar dari PMI? Apa tidak ada cara lain yang lebih cepat untuk dapat donor darah selain mencari pendonor langsung atau PMI?” tanyaku.

“Tidak ada cara lain, Mbak. Sembari menunggu, Mbak bisa bantu dengan doa,” jawab Mbak Ella, nama petugas laboratorium.

Dengan tatapan kecewa, aku menghela nafas panjang. Aku merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mulai melangkah keluar dari ruang laboratorium menuju Masjid Rumah Sakit, berharap Tuhan bersedia mengabulkan doaku. Namun sebelum sempat aku membuka pintu keluar, Mbak Ella tiba-tiba berteriak memanggilku, “Mbak Arine, wali anak Harry!”.

Aku berbalik badan dengan langkah penuh harap, “Ya Mbak Ella, apa PMI sudah datang?” tanyaku tidak sabar.

“PMI belum datang. Tapi seharusnya hari ini waktu nya distribusi. Mbak Arine isi formulir pernyataan, data pasien, wali, butuh berapa cc darah. Nanti setelah ada kabar dari PMI, kami sisihkan untuk Mbak Arine, bagaimana? Nanti kita masukkan di daftar tunggu, seperti Bu Hanni pasien dari ruang operasi barusan,” jelas Mbak Ella.

“Baik Mbak. Terimakasih banyak ya”.

Aku mengisi formulir pernyataan dengan perasaan bahagia. Ada harapan tersirat dalam tulisanku. Namun seketika, rasa bahagia itu berubah menjadi rasa penasaran. Siapakah ibu Hanni yang dimaksud Mbak Ella? Apa Hanni yang ku kenal?

Di ruangan berbeda, Khanin yang masih syok dengan kabar dariku, kembali mendapat pukulan bersamaan dengan kabar dari ruang operasi.

“Suami ibu Hanni!” seorang perawat berteriak dan berlari keluar dari ruang operasi.

“Ya saya. Ada apa Sus?” Khanin menjawab cepat.

Perawat menjelaskan kondisi Hanni di ruang operasi. Hanni mengalami perdarahan postpartum. Penyebabnya dikarenakan berat bayi yang Hanni kandung lebih dari 4 kg, selain itu Hanni juga mengalami anemia. Hanni mengeluarkan banyak darah sehingga dia membutuhkan transfusi segera. Namun persediaan golongan darah A positif hanya tersisa 250cc. Dia masih membutuhkan donor setidaknya 800cc lagi. Sedangkan golongan darah Khanin adalah O positif.

Khanin bingung harus berbuat apa. Dia berusaha mencari bantuan kepada teman serta kerabat untuk menjadi pendonor, namun belum berhasil. Seketika dia mengingat bahwa golongan darahku sama dengan Hanni. Namun, saat dia mencoba menghubungiku, perawat kembali menghampirinya seraya berkata, “Bapak, tadi sebelum pingsan karena perdarahan postpartum, bu Hanni sempat meminta saya menyerahkan Hp nya ke bapak. Selama di ruang operasi, bu Hanni sempat voice recorder untuk mengabadikan proses persalinannya, karena dokter tidak mengizinkan untuk mengambil video. Ini ya, Pak.”

Perawat berlalu setelah menjelaskan dan menyerahkan Hp Hanni.

Khanin mengurungkan niatnya menghubungiku seraya membuka file recorder istrinya selama persalinan. Dia terharu dan sedih karena tidak bisa menemaninya di ruang operasi. Di akhir rekaman, terdengar suara Hanni meminta maaf.

“Kak, maafin Hanni ya? Maaf karena menyusahkan kakak.”

Khanin menggelengkan kepala sambil terus mendengarkan rekaman suara Hanni.

“Hanni minta maaf karena baru bisa terus terang sekarang. Senja Harry, jagoan kesayangan kakak, bukanlah darah daging kakak. Dia bukan anak kakak, jadi tolong jangan merasa bersalah padaku kak. Seharusnya, Hanni yang merasa bersalah.”

Betapa terkejutnya Khanin mendengar rekaman tersebut. Dia pun menjauhkan Hp Hanni dari tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak percaya. Dia tidak ingin melanjutkan rekaman itu, namun suara Hanni masih jelas terdengar melanjutkan.

“Maafin Hanni kak… maaf… Senja Harry, sungguh bukan anak kandung kakak. Maaf….”

Suara Hanni hilang seketika, digantikan suara teriakan histeris Khanin.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!”

=== to be continue===