Reporter : Moch Wildanov
Editor : Titin Sukmawati
Proboliggo, Kabarpas.com, – Dalam kurun waktu sebulan, sebanyak 3 warga di Kabupaten Probolinggo mengalami luka bakar akibat terperosok limbah Abu Ketel Uap dari Pabrik Gula yang memiliki kedalaman sekitar 2 meter. Warga tidak menduga abu limbah pabrik gula yang betahun tahun menumpuk di dalamnya terjadi pembakaran dan terdapat bara api karena proses fermentasi dan teriknya matahari.
Rahmad, (35), warga Desa Parsean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, terluka bakar pada bagian kaki dan tanganya akibat terperosok di timbunan abu ketel uap, diduga dari Parik Gula Wonolangan, yang dibuang di Area Gunung Bentar.
Lukanya yang serius, memaksa pria yang hendak memancing ikan ini, yang sebelumnya dirawat di rumah sakit Dr Mohamad Saleh terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Waluyo Jati Kraksaan.
Selain Rahmad ada rekanya yang bernama Ko’ol, Warga Krucil, yang menolong korban ketika terperosok juga mengalami luka bakar, namun tidak parah sehingga hanya menjalani rawat jalan saja.
Sarip warga setempat menuturkan, dalam sebulan ini total sudah ada 3 korban terperosok dan luka bakar.
“Bahkan, ada seekor kambing tewas terpanggang di area limbah ini,” ucapnya kepada Kabarpas.com biro Probolinggo, Senin (29/10/2018).
Korban tidak mengira tumpukan limbah abu ketel tersebut di dalamnya ada bara api, sehingga setiap ada orang atau hewan melintas pasti terperosok, beruntung saat kejadian selalu ada orang yang menonolongnya, hanya saja saat kambing terperosok warga yang mengetahui telat menolong, sehingga kambing tersebut tewas di dalam tumpukan abu tersebut.
Terkait kejadian ini, warga berharap PG Wonolangan bertanggung jawab dan memberi pagar pembatas atau mengatasi Limbah ini agar tidak memakan korban yang lain.
Sementara itu, Yus Asmoro, manager Pengolahan PG Wonolangan membetulkan kalau itu limbah abu ketel pabrik gula.
“Namun, harus dipastikan dulu limbah abu ketel itu dari PG wonolangan atau pabrik gula sebelah. Sebab, ada pabrik gula tetangga yang membuang limbah di kawasan gunung bentar itu,” ucapnya.
Untuk PG Wonolangan sendiri , mengakui ada pembuangan limbah ke daerah sekitar itu antara tahun 2005 hingga 2010, dan pembuangan di area itu atas permintaan warga dibuat tanah urug, dan pembuangan itu dilakukan oleh pihak CV, bukan dari PG Wonolangan sendiri.
Sedangkan di atas tahun 2010 PG Wonolangan tidak melayani permintaan warga dan limbah tersebut diolah menjadi pupuk.
PG Wonolangan akan mengecek langsung terkait kejadian ini, dan kalau memang benar korban terluka akibat limbahnya, perusahaan akan bertanggung jawa bahkan akan menanggung semua biaya pengobatan dan akan menguruk serta mencampur limbah ketel tersebut dengan tanah agar tidak berbahaya bagi masyarakat.
Kandungan Carbon dan Proses Fermentasi Serta ketebalan abu ketel yang seharusnya maksimal 30 centimeter, memaksa Abu yang bertahun tahun tersebut bisa terbakar oleh teriknya Sinar Matahari.
“Karena kalau dilihat di kawasan Gunung Bentar yang curam, pengurukan Abu Ketel Uap tersebut bisa mencapai 2 hingga 3 meter ketebalanya, “ tutupnya. (wil/tin).



















