Sinergitas Teori Behavioristik pada Pendidikan Karakter Paripurna Anak Usia Dini

Oleh : Nurul Mawaridah
(Mahasiswa Magister PAI Universitas Muhammadiyah Malang)

KABARPAS.COM – PENDIDIKAN adalah proses internalisasi budaya kedalam diri seseorang dan masyarakat sehingga menjadikannya lebih beradab. Pendidikan merupakan sarana strategis dalam pembentukan karakter. Membangun karakter bangsa membutuhkan waktu yang lama dan harus dilakukan secara berkesinambungan.

Karakter yang melekat pada bangsa kita akhir-akhir ini tentu tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang begitu panjang. Potret kekerasan, kebrutalan, dan ketidakjujuran anak-anak bangsa yang ditampilkan oleh media baik cetak maupun elektronik sekarang ini sudah melewati proses panjang. Budaya seperti itu tidak hanya melanda rakyat umum yang kurang pendidikan, tetapi sudah sampai pada masyarakat yang terdidik, seperti pelajar dan mahasiswa, bahkan juga melanda para elite bangsa ini.

Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk menanamkan nilai-nilai prilaku seseorang yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat dalam berbagai dimensi kehidupan yang bertujuan menjadikan manusia menjadi sosok manusia yang paripurna.

Pendidikan karakter menjadi isu utama di bidang pendidikan. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia,dalam prosesnya sendiri fitrah yang alamiah ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.

Oleh karena itu setiap lembaga pendidikan dan masyarakat harus memiliki pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Para pemimpin dan tokoh masyarakat juga harus mampu memberikan suri teladan mengenai karakter yang akan dibentuk tersebut. Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) masa kini tentu sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda negeri ini.

Krisis moral tersebut merambah para pelajar, elite politik, bahkan berbagai kalangan masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan agama dan moral yang didapat di bangku pendidikan tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia. Bahkan yang terlihat adalah begitu banyak manusia Indonesia yang tidak koheren antara ucapan dan tindakannya.

Kondisi demikian, diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Salah satu faktor pemantiknya adalah proses pembelajaran yang cenderung mengajarkan hanya pada dimensi kecerdasan intelektual atau kognitif semata, sehingga menimbulkan kesan bahwa dimensi kecerdasan emosional dan dimensi kecerdasan spiritual sedikit terabaikan. Oleh karena itu pendidikan karakter telah menjadi sebuah keniscayaan dalam mencetak generasi paripurna sebagai harapan dan dambaan semua pihak, bangsa dan negara.

Dalam hal ini lembaga pendidikan sebagai institusi formal sangatlah berperan penting untuk membentuk anak bangsa yang berkarakter yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan dimensi kecerdasan intelektual akan tetapi juga pengembangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Tentunya pendidikan karakter paripurna ini harus mulai ditanamkan sejak usia dini.

Menyikapi problematika tersebut, maka teori behavioristik dapat dihadirkan dalam proses pembelajaran sehingga dapat terwujud sinergitas dalam rangka menyukseskan pendidikan karakter paripurna anak usia dini. Teori behavioristik menekankan bahwa belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.

Pembelajaran dengan menerapkan teori behavioristik secara drilling/ berulang-ulang untuk mendapatkan perubahan sikap yang konsisten sangat sesuai dalam pembelajaran terutama bagi pelajar usia dini. Adapun bidang pengajaran yang relevan meliputi pengajaran aspek intelektual, emosional dan spiritual. Dalam hal ini dapat berupa pengajaran secara matematis, membaca, menulis, menari, berolahraga, pengembangan bakat minat serta penanaman kaidah-kaidah dasar berperilaku yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, dan daya tahan.

Teori behavioristik tersebut menjadikan anak usia dini akan terbiasa menerima input dari pengajar (stimulus) sehingga kecakapan ataupun perubahan sikapnya (respon) dapat diamati dan diukur. Untuk meningkatkan performa belajarnya, penghargaan/rewards perlu diberikan, begitu pula sebaliknya penghargaan negative/punishment juga perlu diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan kejadian/perilaku yang kurang sesuai/ tidak diharapkan.

Stimulus yang diberikan secara berulang pada anak usia dini dengan melibatkan secara aktif dalam pembelajaran akan memberikan dampak yang positif. Hal ini bertujuan agar materi pelajaran dapat diserap dengan baik dan memberikan pengalaman berharga dan melekat dalam ingatan anak sehingga akan lebih mudah diterima oleh anak.

Implikasi pembelajaran dengan menggunakan teori behavioristik yang bersifat otomatis mekanis dalam menerapkan stimulus dan respon ini menempatkan pengajar maupun pembelajar pada aturan yang ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi hal yang sangat esensial sehingga kontrol belajar harus benar-benar ditegakkan oleh sistem di luar pembelajar. Ketika ketaatan pada aturan dapat ditegakkan maka pembelajaran dengan teori behavioristik ini akan mampu mewujudkan goal positif bagi anak usia dini.

Adapun langkah-langkah penerapan teori behavioristik pada pendidikan karakter paripurna anak usia dini yaitu: (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal anak, (4) menentukan indikator-indikator keberhasilan belajar, (5) mengembangkan bahan ajar (pokok bahasan, topik, dll), (6) mengembangkan strategi pembelajaran (kegiatan, metode, media dan waktu), (7) mengamati stimulus yang mungkin dapat diberikan (latihan, tugas, tes dan sejenisnya), (8) mengamati dan menganalisis respons pembelajar, (9) memberikan penguatan (reinforcement) baik positif maupun negatif, dan (10) merevisi kegiatan pembelajaran.

Langkah-langkah tersebut tentulah harus didukung oleh berbagai komponen terkait sehingga dapat tercapai tujuan yang optimal. Hal ini dikarenakan oleh pendidikan karakter paripurna anak usia dini merupakan pendidikan yang bersifat universal dan holistic, sehingga semua pihak dan stakeholder pendidikan memiliki tanggung jawab dalam mendukung pengembangannya di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. (***).