Tulungagung, Kabarpas.com — Guna memperteguh DNA kelembagaan serta menajamkan distingsi Program Studi (Prodi) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN Tahun 2026 menggelar Sharing Session Penguatan Distingsi Prodi melalui webinar daring.
Kegiatan diikuti Panitia Pusat PMB PTKIN 2026 dan seluruh Ketua Program Studi jenjang S1 PTKIN se-Indonesia.
Partisipasi aktif para Ketua Prodi menunjukkan komitmen institusional dalam mendukung penguatan identitas akademik sekaligus penyusunan strategi promosi program studi yang sejalan dengan kebijakan nasional PMB PTKIN 2026.
Forum menjadi ruang strategis konsolidasi nasional dalam merespons tantangan pendidikan tinggi, terutama terkait tren penurunan jumlah pendaftar PTKIN serta meningkatnya persaingan antarperguruan tinggi dengan program studi serumpun, baik di lingkungan PTKIN maupun dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN 2026, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I., dalam sambutan pembukaan menegaskan bahwa penguatan distingsi program studi merupakan kunci keberlangsungan PTKIN di masa mendatang.
Ia menjelaskan bahwa ragam program studi yang tergabung dalam PMB PTKIN sejatinya relatif terbatas, sekitar 85 jenis. Namun, hampir seluruh PTKIN memiliki program studi yang sama, bahkan kini harus berhadapan dengan PTN yang juga membuka program studi keagamaan.
Menurutnya, tantangan utama PTKIN terletak pada kemampuan menjelaskan perbedaan substantif antarprogram studi sejenis kepada masyarakat. Oleh karena itu, peran Ketua dan Wakil Ketua Program Studi menjadi sangat krusial.
“Kaprodi dan Waprodi adalah pihak yang paling memahami sekaligus mampu menjelaskan keunikan program studi PTKIN kepada publik. Mereka merupakan garda terdepan dalam memperjuangkan eksistensi PTKIN,” tegasnya, Selasa (28/01/26).
Prof. Abd. Aziz juga menyoroti besarnya potensi PTKIN yang bersumber dari ekosistem madrasah, pesantren, PKBM, hingga Mu’allimin. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola secara terarah agar menjadi kekuatan institusional dan tidak kehilangan calon mahasiswa potensial.
Penguatan DNA dan Distingsi Prodi Menjawab Tantangan Pendidikan Tinggi
Pada sesi pemaparan utama, Prof. H. Zulfahmi Alwi, M.Ag., Ph.D., selaku Pokja Penjaminan Mutu PMB PTKIN, mengulas secara reflektif urgensi penguatan DNA dan distingsi program studi PTKIN di tengah dinamika pendidikan tinggi nasional.
Ia mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir muncul indikasi penurunan minat pendaftar PTKIN, dengan komposisi pendaftar yang kini didominasi lulusan SMA, sementara lulusan MAN justru menunjukkan kecenderungan menurun.
“Keputusan memilih perguruan tinggi sepenuhnya berada di tangan peserta didik. Pertanyaannya, apakah PTKIN telah cukup meyakinkan dalam membangun minat, kepercayaan, dan keberanian mereka untuk menjadikan PTKIN sebagai ruang pengembangan akademik dan masa depan?” ujarnya.
Prof. Zulfahmi mengajak seluruh program studi, termasuk di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, untuk melakukan refleksi dan penguatan internal melalui peneguhan identitas serta kebanggaan kelembagaan, etos kerja berbasis amanah, relevansi historis dengan cita-cita pendiri PTKIN, serta penguatan integritas akademik yang terimplementasi secara nyata dalam kurikulum dan proses pembelajaran.
Ia juga menekankan pentingnya keselarasan strategi program studi dengan visi universitas, serta menjadikan budaya mutu dan disiplin proses sebagai praktik riil, bukan sekadar pemenuhan administratif akreditasi.
Integrasi Keilmuan sebagai Ciri Khas PTKIN
Pada sesi selanjutnya, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., memaparkan arah pengembangan integrasi keilmuan sebagai basis utama distingsi PTKIN.
Ia menjelaskan tiga pendekatan integrasi yang dapat dikembangkan, yakni integrasi metodologis, integrasi substantif, dan integrasi spiritual-etis, yang dapat menjadi fondasi pembentukan karakter akademik sekaligus penguatan daya saing program studi PTKIN.
Sharing Session Penguatan Distingsi Prodi PMB PTKIN 2026 ditutup dengan diskusi interaktif yang menjadi wadah pertukaran gagasan dan praktik baik antar Ketua Program Studi dari berbagai PTKIN di Indonesia. (np/ian).



















