Sajen dan Toleransi Antar Kosmos

Oleh: Abdur Rozaq, Kolomnis Kabarpas.com

KABARPAS.COM – MELETUSNYA Semeru, secara ilmiah memang merupakan fenomena alam semata. Namun dalam kearifan masyarakat Jawa yang sejak ratusan, atau bahkan ribuan tahun lalu sudah menjalin komunikasi dengan penghuni kosmos lain, bisa jadi merupakan sebuah “kode keras” yang memerlukan diplomasi antar diplomat dari kedua alam. Allah memang Maha Kuasa untuk membuat sebuah gunung meletus kapan saja, namun secara “demokratis”, Allah juga seringkali “menitipkan” sebuah mahluk kepada mahluk lainnya. Misalnya Allah “menitipkan” pengelolaan hujan kepada malaikat Mikail. Dan dalam pemahaman saudara-saudara kita di luar Islam sana, Mikail bisa saja disebut dewa hujan atau semacamnya.

Pasca meletusnya Semeru kemarin, segenap bangsa ini berdoa memohon keselamatan dengan bahasa mereka masing-masing. Maka pada suatu malam Jumat Kliwon, Wak Takrip juga berdoa. Membakar menyan, menabur bunga tujuh rupa, menaruh sajen dan nampak komat-kamit bernegoisasi dengan para diplomat dari “negeri kahyangan” sana.

Kira-kira, Wak Takrip berharap agar para diplomat tidak terlalu ambil hati karena perilaku manusia sekarang, sering kali lebih kebablasan daripada demit. Maka, Mas Bambang yang ahir-ahir ini suka ikut kajian entah dimana dan konon sudah mulai belajar memanjangkan tujuh helai jenggotnya, meng-karate sajen tersebut seraya –sayang sekali—bertakbir.

“Ini syirik, gus,” dampratnya kepada Gus Hasyim, seakan kiai muda itu inisiator ritual Wak Takrip. “Ini malah akan membuat adzab Allah semakin dahsyat di negeri ini,” lanjutnya. Gus Hasyim senyum-senyum seraya menuang kopi pada lepeknya. Setelah disruput dan menyalakan rokok Dji Sam Soe refill, Gus Hasyim baru buka suara.

“Konon, lumayan banyak budaya Arab jahiliyyah yang dilestarikan Nabi, bahkan dilegalisir oleh Al Qur’an. Dulu orang jahilyyah menyembelih kambing dalam rangka merayakan kelahiran anak laki-laki, kemudian Nabi merubahnya menjadi aqiqah. Dulu mereka mengelilingi Kakbah dengan telanjang bulat, bercampur baur antara lelaki dan perempuan, Nabi merubahnya menjadi thawaf.

Budaya menyandarkan nama anak kepada ayahnya pun, adalah budaya jahiliyyah yang dibiarkan oleh Nabi bahkan berkembang hingga kini. Bahkan, beberapa binatang yang dianggap layak konsumsi oleh masyarakat jahiliyyah, oleh Al Qur’an dikategorikan sebagai binatang halal. Maka tak heran jika beliau memerintahkan agar kita mengubah kebudayaan belum islami, bukan memberantasnya. “Man raa minkum munkaran, fal yughayyirhu”, barang siapa yang melihat kemunkaran, maka rubahlah. Bukan berantaslah. Hanya saja, hingga kiamat begitu mepet seperti sekarang, dan para ulama salaf telah menjelentrehkan dengan gamblang makna serta maksud hadits tersebut, masih ada saja umat Kanjeng Nabi yang salah atau gagal paham seperti sampeyan,” ujar Gus Hasyim kepada Mas Bambang.
“Apa sampeyan yakin kalau ingkung sajen itu tidak disembelih dengan membaca bismillah? Apa sampeyan yakin sajen tidak dibacakan fatihah dan yang diberi hadiah fatihah adalah para malaikat atau para auliya di sekitar puncak Semeru?

Dan bagaimana jika sajen itu dimaksud sebagai sedekah kepada binatang, para jin muslim atau semacamnya? Andai pun sajen itu dibuat oleh saudara-saudara kita di luar Islam sana, bukankah Rasulullah hidup rukun dengan komunitas Yahudi-Nasrani di Madinah saat itu? Bukankah sampeyan sudah pernah searching terjemah surat Al Kafirun di Google?” cecar Gus Hasyim.
“Lha ini membakar menyan, memberi persembahan kepada para dedemit, tidak ada kaitanya dengan apa yang dicontohkan Nabi saat itu,” Mas Bambang mulai ngotot.
“Siapa bilang memberi persembahan? Itu hanya negoisasi, kok. Hanya diplomasi seperti yang dilakukan presiden Gus Dur agar Israel tidak mengirim agen Mossad untuk menyadap pembicaraan kita di warung-warung kopi.”
“Sejak kapan kita dibenarkan bekerja sama dengan dedemit, Gus?” Mas Bambang ngotot, meniru gaya ustadznya saat mengisi pengajian.
“Ini bukan kerja sama. Hanya menunjukkan jika kita bangsa manusia, punya tata karma bahkan kepada mereka. Ini adalah toleransi antar mahluk Tuhan meski beda kosmos. Barangkali saja mereka terkesan dengan ahlak kita, lalu ikut berdoa agar Allah menunda adzabnya.”. (***).