Sabda Jalan Sunyi (Bag. 2)

Oleh: Fajar Dwi Putra

(Kabarpas.com)- AKU hanya mengangguk saja, tanpa bisa berkata apa-apa. Seakan hatiku sudah tidak sanggup lagi untuk berkata apa-apa. Tangan Ibu menggenggam erat tanganku, Ibu mengusap kepalaku.

“Aira anakku, jika kamu mengharapkan dunia untuk bersikap adil denganmu karena kamu adil, kamu membodohi diri sendiri. Itu seperti mengharapkan singa tidak makan kamu, karena kamu tidak makan dia. Dan Kadang-kadang kamu perlu menjauhkan diri untuk melihat sesuatu dengan jelas.”

Aku pun kemudian menjawab ucapan ibu.

“Aira akan selalu mengingat pesan Ibu, Aira pamit bu..Ibu jaga diri baik-baik di Jogja, Aira akan selalu kirim surat untuk Ibu.”

Tangan Ibu perlahan-lahan melepaskanku.
“Pergilah nak, pergilah untuk sesuatu yang akan kamu banggakan dan sepulangnya kamu nanti, ceritakan pada Ibu semua yang kamu banggakan, Ibu akan mendengarkan dengan sebaik-baik-nya.”

Genta peron 3 statsiun tugu Yogyakarta sudah berbunyi, itu tandanya aku harus masuk kereta, dan sebentar lagi kereta akan beranjak meninggalkan Jogja. Aku masuk ke dalam gerbong kereta, Ibu memandangiku dari luar jendela kereta, melambaikan tangan secara perlahan, sesekali aku melihat Ibu mengusap air matanya dan secara perlahan bibir Ibu mengucapkan kalimat hati-hati di sana secara perlahan-lahan, aku bisa melihatnya dengan jelas, masih bisa melihatnya.

Perlahan-lahan kereta mulai beranjak meninggalkan Jogja, aku duduk di kursi kereta, sisi kanan kiriku gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Namun, bayangan Ibu masih sangat jelas. Hanya beberapa detik saja aku meninggalkan Ibu, rasa rindu akan pulang ke pelukan Ibu masih sangat terasa.

Aku mengeluarkan buku harianku. Aku mulai menuangkan isi hatiku malam ini, di dalam kereta, aku tak perduli kereta beranjak sampai mana, yang aku ingin malam ini hanya Ibu dan selalu mendampingi Ibu setia waktu.

Maka kuyakini engkau sebagai takdir, tempat segala desir mengalir hingga pemberhentian terakhir, Karena bagi musim, air matamu adalah larik kesedihan, maka ijinkan aku menjadi setitik hangat bagi lebam luka-lukamu. karena engkaulah ombak bagi perahu sunyiku, menuntun kembara ini, menuju palung hatimu.
Ibu…

Dalam hening telaga pagi adalah altar suci, tempat doa-doa menjelmakan diri merupa puisi. Aku menemukan kilau senja di matamu yang surga, merupa jingga juga merah saga bertabur wangi cinta.

Halimun moksa di bukit rimba meninggalkan jejak embun, dan sebait kidung lirih tertinggal di basah daun-daun dan tenang malamku berhias debur rindu, serupa ombak yang meriak di kedalaman matamu.

Dan aku pun lelah harus menanti pertemuan selanjutnya dengan Ibu, aku seakan terdampar di pantai tanpa ujung, siangnya membakarku dan malamnya mensunyikan hatiku. Ibu sahabat terbaikku, Ibu memberikan aku segala kasih sayang, Ibu akan senantiasa ada dalam setiap nafasku..Ibu…aku akan kembali pulang..nanti…

Aku menutup buku harianku, dan aku mencoba memejamkan mata ini, berharap dalam mimpi Ibu memelukku dengan erat dan berkata “Jangan pergi anakku,”. (bersambung).
____________________________________________________
*Setiap Minggu Kabarpas.com akan memuat rubrik khusus “Ruang Sastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com. Untuk setiap karya yang dimuat dalam rubrik “Ruang Sastra” akan mendapatkan merchandise menarik dari Kabarpas.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *