Jakarta, Kabarpas.com – Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan perusahaan, CEO Miskat Alam group, Islana Jati Waluya baru saja menandai tonggak sejarah baru dalam perjalanan hidupnya. Perayaan ulang tahun yang ke-48 tahun ini digelar dengan penuh kehangatan dan kesederhanaan, dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang menjadi pilar pendukung selama ini: keluarga inti, tim kerja yang loyal, hingga teman-teman seperjuangan sejak masa kuliah.
Dalam momen reflektif yang digelar di Hachi Grill Ampera tersebut, sang CEO menyampaikan harapan yang mendalam seiring bertambahnya usia. Bagi beliau, angka 48 bukan sekadar pergantian kalender, melainkan pengingat untuk terus menjaga raga agar tetap sehat dan yang paling utama menjadi sosok yang semakin bermanfaat bagi orang banyak.
Satu hal yang menarik perhatian dalam perayaan ini adalah filosofi hidup yang beliau tuangkan dalam sebuah karya literasi berjudul “Bedjoisme: Laku Bedjo”. Banyak yang bertanya, mengapa nama tersebut yang dipilih sebagai judul?
Menurut beliau, “Bedjoisme” bukan sekadar permainan kata dari nama tokohnya, melainkan sebuah pandangan hidup untuk meyakinkan pembaca bahwa keberuntungan bisa diraih melalui “laku” atau tindakan batin yang benar.
“Keberuntungan bukanlah koin emas yang jatuh secara kebetulan dari langit. Sebaliknya, keberuntungan adalah hasil nyata dari disiplin jiwa, sikap batin yang matang, serta tindakan konkrit dalam menjalani kehidupan,” ujar CEO Miskat Alam group, Islana Jati Waluya kepada Kabarpas.com. Rabu, (14/01/2026)

Lebih lanjut disampaikan, Buku Bedjoisme ini mengajak pembaca menelusuri “jalan sunyi” menuju pemahaman diri. Melalui tokoh Bedjo, buku ini membedah seni menata hati di tengah kerasnya dunia.
Beberapa poin inti yang menarik dari buku ini antara lain:
- Keberuntungan sebagai Hasil Laku: Buku ini mengajarkan bahwa keberuntungan adalah buah dari kesetiaan pada perjalanan, bukan sekadar hadiah acak. Bedjo memilih nama yang berarti “beruntung” justru saat ia merasa paling tidak beruntung, sebagai simbol tujuan hidup, bukan keadaan saat ini.
- Mantra Sehari-hari: Bedjoisme menawarkan “mantra” atau laku batin harian seperti diam, syukur, dan keberanian. Syukur dalam pandangan Bedjo bukan hanya saat hidup terasa manis, tapi juga saat hidup terasa “menggigit” melalui luka-lukanya.
- Pertapaan di Tengah Keramaian: Salah satu konsep paling kuat adalah ajaran untuk tidak melarikan diri dari dunia. Menjadi “pertapa” bagi Bedjo berarti mampu menemukan keheningan batin meskipun sedang duduk di tempat paling bising di dunia.
Melalui buku ini, pembaca diingatkan bahwa setiap kegagalan dan kekalahan adalah guru yang mencerahkan. Bedjoisme hadir sebagai jawaban atas kegelisahan zaman, mengajak kita untuk tetap tenang dan menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap tindakan.
”Hidup sejati ditemukan dalam keseimbangan antara dunia dan batin,” sebagaimana tertulis dalam salah satu babnya—sebuah pesan yang selaras dengan misi sang CEO di usianya yang ke-48. (***).



















