Puluhan Kader Posyandu dan Puskesmas Antusias Ikuti Pelatihan Cegah Stunting

Probolinggo, Kabarpas.com – PT Sasa Inti bersama Rotary International District 3410, dan Yayasan Cakrawala Kesehatan (F2H) menggelar pelatihan konseling pencegahan stunting bertajuk “Ayo Cegah Stunting” untuk mencegah dan memberantas stunting dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya kekurangan gizi pada anak.

Acara pelatihan ini diselenggarakan pada 23-24 November 2021 di aula pabrik PT. Sasa Inti di Jalan Raya Gending KM. 12, Krajan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Acara ini diikuti oleh puluhan kader Posyandu dan Puskesmas di wilayah setempat.

Pelatihan cegah stunting ini dibuka oleh perwakilan PT Sasa Inti Bapak Thomas, Rozy Wiguna dari Rotary, perwakilan Dinas Kesehatan Sutilah, dan Ketua PKK Kecamatan Gending Dewi. Hadir sebagai pemateri pelatihan “Ayo Cegah Stunting” adalah dr. Lies Zakaria MARS dari Frontier for Health (F2H) dan Psikolog Kori Dyah M.Psi.

Dr. Lies Zakaria menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader pendamping pencegahan stunting untuk pesan-pesan penting dan cara mencampaikannya melalui komunikasi efektif agar terjadi perubahan perilaku.

“Pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan interaktif dan partisipatif dimana seluruh peserta ikut aktif dan dengan berbagi pengalaman di lapangan,” ujarnya.

Menurut dia, metode ini berhasil membuat peserta tetap bersemangat selama dua hari mengikuti pelatihan.

“Selain peningkatan pengetahuan peserta juga melakukan praktik di kelas sebelum terjun mendampingi keluarga dengan risiko stunting di lapangan,” katanya.

Melalui pelatihan ini, dirinya berharap dapat bermanfaat untuk Kabupaten Probolinggo, khususnya Kecamatan Gending sehingga berhasil menurunkan angka stunting secepatnya.

Sementara Advisor ACS Rotary International D3410 atau District Governor D3410 Budi Soehardi menegaskan pihaknya sangat fokus untuk bersama dan bertindak menciptakan perubahan yang berkesinambungan, baik di dunia, di komunitas, maupun dalam diri sendiri.

Rotary adalah organisasi kemanusiaan sedunia yang ada di lebih dari 200 negara dengan anggota inklusif tanpa memandang suku, agama, ras, umur, gender, dengan tujuan “to do good in the world” dan motto pelayanan di atas kepentingan diri.

“Pelatihan Ayo Cegah Stunting adalah kerja sama Rotary International dan PT Sasa Inti dengan kepedulian yang sama terhadap keluarga Indonesia, sebab ibu dan anak yg sehat dan cerdas, sumber daya yang mumpuni untuk masa depan,” ujarnya.

Rotary bersama PT Sasa Inti, lanjut dia, berkomitmen untuk melatih kader-kader posyandu supaya dapat menjadi pendamping yang baik untuk keluarga-keluarga di desanya sehingga nutrisi, stimulasi, hidup bersih dan sehat dapat tercipta di desa, dan 1.000 hari pertama kelahiran (HPK) bisa berlangsung dengan baik.

Rida Atmiyanti selaku Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh pemerintah dalam pemberantasan stunting terutama di masa pandemi COVID-19 dengan mengadakan pelatihan bagi kader posyandu dan puskesmas di Kabupaten Probolinggo mengenai pola makan dan pengasuhan anak mulai dari 0-1.000 hari.

Menurut Rida, kegiatan ini sejalan dengan misi Sasa yaitu menciptakan kebahagiaan melalui makanan yang mudah disajikan, lezat, dan sehat, seperti slogannya juga “Happiness is Sasa”. “Kebahagiaan bisa tercipta jika kita memperolah asupan gizi yang cukup,” kata Rida.

Intervensi gizi seimbang sangat penting pada saat 1.000 hari pertama kehidupan yaitu dimulai saat ibu hamil sampai anak berusia dua tahun.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo Sri Wahyu Utami SKM, MMRS, menambahkan, pihaknya mengapresiasi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan pencegahan stunting di wilayah Kabupaten Probolinggo.

“Kegiatan yang begitu luar biasa ini mampu memotivasi dan bekal buat kader stunting kami lebih semangat dalam turut serta berperan aktif dalam edukasi cegah stunting. Ilmu yang didapat kiranya bisa diaplikasikan ke masyarakat, kader cerdas cegah stunting,” ujarnya.

Setiap peserta pelatihan mendapat sertifikat dan bingkisan, serta bagi yang aktif memperoleh tas cantik dari penyelenggara.

Untuk sekadar diketahui, dalam jurnal yang diterbitkan oleh WHO tahun 2019, Indonesia sendiri menduduki urutan ke-4 dengan angka stunting tertinggi di dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Tahun 2019 sebanyak 6,3 juta balita dari populasi 23 juta atau 27,7 persen balita di Indonesia mengalami gizi kurang dan gizi buruk hingga terindikasi stunting.

Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kekurangan akses pangan bergizi, ketidaktahuan mengenai gizi, hingga kurangnya akses air bersih, sanitasi, dan perilaku hidup bersih sehat. Asupan gizi seimbang berperan penting dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak. (***/ida).