Polisi Pasuruan Bongkar Kasus Perdagangan Anak di Tretes

Pasuruan, Kabarpas.com – Kelompok mucikari prostitusi anak di bawah umur di kawasan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan berhasil ditangkap Polres Pasuruan sebanyak tiga orang tersangka.

Mirisnya satu orang tersangka perdagangan anak ini juga masih remaja dibawah umur berinisial D (17), asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto yang berpindah domisili di Prigen.

Adapun dua tersangka lain adalah wanita pemilik wisma sekaligus mucikari berinisial SA (23) alias RR (23), serta laki-laki penjaga wisma berinisial KS (21), keduanya asal Kelurahan Prigen, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

AKBP Bayu Pratama Gubunagi Kapolres Pasuruan, mengungkapkan jika tiga tersangka prostitusi anak dibawah umur ini berhasil ditangkap pada Jumat (14/10/2022) lalu.

“Tiga tersangka kami tangkap di
di sebuah wisma di Gang Sono, lingkungan Tretes, Prigen,” ujar Bayu pada Senin (31/10/2022).

Dari Tiga tersangka prostitusi dan perdagangan anak di bawah umur ini mempunya peran yang berbeda-beda.

Tersangka D (17) berperan sebagai perekrut anak-anak perempuan  yang akan dijadikan sebagai PSK.
Kemudian tersangka SA (23) alias RR (23) bertugas sebagai mucikari sekaligus pemilik wisma yang diduga kerap dijadikan sebagai tempat prostitisi anak dibawah umur.

Adapun tersangka KS (21) berperan sebagai penjaga wisma sekaligus perantara yang mencarikan pria hidung belang.

“Modusnya para tersangka memperdagangkan anak dengan cara dijadikan LC dan PSK yang di wisma tersebut,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, polisi mendapati dua anak remaja putri dibawah umur yang dipekerjakan sebagai PSK di wisma milik tersangka.

Dua korban diantaranya berinisial AR (13), asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, dan NA (13) asal Kelurahan Prajurit Kulon, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

“Selain mengamankan dua korban yang kita dapati berada di wisma, kita juga menyita barang bukti berupa buku catatan transaksi dan uang hasil transaksi senilai Rp 480 ribu,” imbuhnya.

Sementara itu, dr Ugik Setyo Darmoko, perwakilan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT- PPA) Kabupaten Pasuruan, menyatakan jika pihaknya sudah melakukan asesmen psikologi kepada kedua korban.

Hasilnya baik AR (13) dan NA (13) mengalami trauma psikis diduga akibat dijebak dan dipaksa menjadi PSK.

“Kami asesmen ada trauma dikarenakan bukan ada niatan dia melakukan itu, ini murni jebakan, tindak pidana, kami mendorong pelaku harus mendapat suatu hukuman,” ujar Ugik.

Dijelaskan Ugik jika pihaknya akan terus melakukan pendampingan psikologis kepada kedua korban.
Pendampingan dilakukan hingga kondisi mental korban pulih dan bisa kembali beraktivitas di masyarakat.

“Kami beri pendampingan, pemeriksaan medis, visum dan sebagainya. Pendampingan dilakukan hingga traumatiknya hilang dan anak ini percaya diri lagi baru kita kembali ke orang tua, warga dan masyarakat,” terangnya.

Akibat perbuatannya ketiga tersangka  terjerat Pasal 2 UU RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang  subsidair Pasal 88 jo Pasal 76 UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU NO. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara,” pungkasnya. (emn/ida).