Pemkab Probolinggo Bantah Bantuan untuk Keluarga Tuna Netra Diblokir

Reporter : Moch Wildanov

Editor : Titin Sukmawati

Probolinggo, Kabarpas.com – Viral Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), pasangan suami istri Sono, 53 dan Ati, warga Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo diblokir, dibantah oleh pemkab setempat. Dipastikan mereka masih tetap terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Pangan Nontunai (BPNT).

Wakil Bupati Probolinggo, Timbul Prihanjoko, menjelaskan, viral postingan tersebut, pemkab Probolinggo turun langsung ke TKP dan kroscek kebenarannya.

“Kunjungan saya ke rumah pak Sono ini ingin memastikan kebenaran beredarnya postingan di media sosial (medsos), yang menyebutkan adanya pemblokiran KKS yang biasanya digunakan oleh lam Sono untuk mencairkan BPNT,” ujar Wabup Timbul. Kamis (18/2/2021).

Dari hasil klarifikasi tersebut, lanjut Timbul, didapatkan bahwa Sono masih menerima BPNT dan tidak ada pemblokiran KKS yang dimilikinya. Hanya saja saat akan mengecek dan ingin mencairkan, hak yang harusnya diterima masih belum masuk ke rekeningnya.

“Lokasi rumah pak Sono di dataran tinggi, bisa saja ada gangguan koneksi internet, sehingga ada keterlambatan saat verifikasi dan kemudian dikira diblokir dan kemudian diposting di medsos,” tambahnya.

Wabup Timbul meminta kepada segenap masyarakat agar tidak mudah membuat postingan di medsos sebelum melakukan klarifikasi terlebih dahulu.

“Jadikan ini sebagai pelajaran agar jangan sampai terulang lagi di masa-masa yang akan datang. Sebelum memposting, klarifikasi terlebih dahulu kebenarannya, bisa melalui instansi terkait atau kepala desa,” imbuhnya.

Sementara itu, pengunggah postingan di medsos , Suyit, mengaku bahwa postingan itu berawal saat Sono mau mengambil beras dan saat mengecek rekening ternyata bantuannya belum masuk. Kemudian Sono mengaku jika kartunya diblokir. Oleh karena itu diapun langsung memposting kata-kata yang disampaikan oleh Sono.

“Saya mohon maaf kepada semua atas postingan yang saya lakukan. Ternyata beras yang harus diterima oleh Pak Sono tersebut masih aktif. Saat memposting saya belum klarifikasi ke desa tetapi langsung diposting. Apalagi waktu itu Pak Sono bilang kartunya mau dirusak,” pungkasnya. (Wil/Tin).