DP3AP2KB Gelar Workshop Kesehatan Reproduksi
Probolinggo, Kabarpas.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Probolinggo menggelar workshop kesehatan reproduksi (kespro) di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo.
Kegiatan yang mengambil tema “Edukasi Gizi, Pencegahan Anemia dan Lifeskill pada Remaja” ini diikuti oleh Poktan PIK Remaja dan Forum Anak pada 24 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Ketua LK3A Fatayat NU Cabang Kota Kraksaan Siti Munawaroh dan Kepala Unit IDIK 4 Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Probolinggo Ipda Aris Santoso.
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo dr Anang Budi Yoelijanto menyampaikan kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja dan bahaya pernikahan dini.
“Tujuannya meningkatkan pemahaman remaja berkaitan dengan kesiapan remaja untuk merencanakan kehidupan berkeluarga dan menurunkan angka stunting melalui pencegahan pernikahan dan menjaga status gizi calon pengantin,” ungkapnya.
Anang menerangkan bahwa kabupaten dan kota di Indonesia dalam rangka percepatan penurunan stunting oleh Presiden RI ditarget bahwa harus dibawah 14 persen. Oleh karena itu Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) melakukan serangkaian kegiatan dalam konteks pendekatan disisi kemasyarakatan di sektor calon pengantin, penguatan orang tua dan penguatan insan generasi remaja (GenRe).
“Harapannya nanti tidak putus disini informasinya tetapi bisa disebarluaskan dalam kegiatan level kecamatan dan desa sebagai kerangka dari Kecamatan Layak Anak dan Desa Layak Anak. Paling tidak menyampaikan informasi ini ke lembaga masing-masing kepada pemuda dan organisasi kemasyarakatan,” jelasnya.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan bahwa pada intinya generasi muda atau yang biasa disebut dengan generasi Z atau generasi milenial sekarang berbeda dengan generasi muda tahun-tahun sebelumnya.
“Adik-adik ini merupakan generasi yang diharapkan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Minimal menjadi pemimpin di dalam keluarga. Oleh karena itu, generasi muda ini harus menjadi generasi yang benar-benar berkualitas,” katanya.
Hanya saja jelas Sekda Ugas, saat ini ada budaya yang susah untuk dihilangkan di tengah-tengah masyarakat. Dimana ketika anak perempuannya dilamar susah ditolak karena takut nantinya tidak laku.
“Akibatnya merekapun tidak melanjutkan pendidikan atau tidak sampai lulus. Hal ini yang menjadikan Kabupaten Probolinggo untuk IPM (Indek Pembangunan Manusia), khususnya di bidang pendidikan masih rendah di Jawa Timur. Banyak anak-anak muda kita yang masih SMP sudah banyak yang menikah,” jelasnya.
Oleh karena itu Sekda Ugas meminta agar generasi muda ini mulai harus berfikir berbeda dengan sebelumnya. Harus punya pikiran agar memiliki masa depan yang bagus. Sekarang bukan zamannya lulus SMP menikah. Minimal lulus SMA, walaupun lulusan SMA masih belum waktunya.
“Jika menikah di usia yang belum siap, tentunya dampaknya banyak. Anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan dini ini biasanya kurang sehat, beresiko stunting dan sebagainya. Mungkin juga kondisi badan ibunya akan terganggu. Selain itu tingkat perceraian akibat pernikahan dini juga meningkat. Sebab mereka sebenarnya masih belum siap untuk menikah,” terangnya.
Menurut Sekda Ugas, bagi yang lulus SMA bisa terus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Banyak peluang yang bisa digunakan. Oleh karenanya jangan pesimis dan harus optimis. Jika melihat masa depan, maka tidak akan tergesa-gesa untuk menikah.
“Saya berharap kepada generasi muda khususnya siswa dan siswi di Kabupaten Probolinggo menjadi generasi muda yang betul-bet sehat, cita-citanya tercapai serta bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Minimal SMA ijazahnya,” pungkasnya. (len/ian).

















