Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 2 Sep 2014 19:55 WIB ·

Pasuruan dan Dai Selebritis


Pasuruan dan Dai Selebritis Perbesar

Oleh Dr. Moch. Syarif Hidayatullah (Cendekiawan Pasuruan)

Pada dekade belakangan, semua stasiun televisi menayangkan ceramah, renungan, dan tausiah dari para dai. Sebagian dai memang muka lama, tetapi sebagian lagi adalah dai muka baru. Dai yang terakhir ini umumnya mendadak beken karena terdongkrak popularitasnya setelah mengisi salah satu acara di televisi yang selama setahun ini memberi banyak ruang untuk para dai, termasuk dalam sinetron-sinetron yang bernuansakan religi. Atau, dai muda hasil dari acara pencarian bakat.

Dai-dai ini pada banyak hal memenuhi selera yang diingini industri hiburan: muda, tampan, modis, bersuara bagus, dan pandai mengolah kata. Bekal ini pula yang turut memperlancar mereka memasuki industri hiburan. Sebagai bagian dari industri hiburan seperti televisi, para dai itu telah menjadi selebriti baru dengan komoditi bernama dakwah. Mereka terkenal, dipuja, dan diperlakukan istimewa. Karenanya, pelaku dunia usaha pun tak ragu memasang para dai sebagai citra produknya. Apalagi belakangan beberapa di antaranya mampu menjadi trendsetter atas produk yang menjadikan mereka sebagai maskotnya.

Sebagai selebriti, mereka harus patuh pada aturan-aturan baku industri hiburan. Sebelum berdakwah, mereka harus di-make up supaya enak dilihat. Tampilan fisik juga harus proporsional. Busana yang dipakai pun harus dari perancang ternama, atau busana yang disediakan para pengiklan. Ini lalu didukung dengan kecanggihan tata panggung, tata suara, dan tata cahaya yang memadai agar semuanya berjalan sempurna. Para pengawal profesional melengkapi pula citra mereka sebagai bintang. Ini belum termasuk dai yang melengkapi kegiatan dakwahnya dengan manajemen dan patokan tarif tertentu.

Nah, semua karisma artifisial ini ternyata telah menggantikan karisma dai tradisional yang disimbolkan dengan kefasihan membaca Alquran, kepiawaian mengutip sabda Nabi Muhammad, dan menyitir petuah-petuah bijak para ulama pendahulu. Saya tidak hendak mengatakan bahwa dai-dai selebriti tidak mampu menunjukkan karisma dai tradisional. Perbedaan karisma keduanya justru terletak pada pengamalan apa yang sudah didakwahkan. Karisma dai tradisional baru akan muncul bila kesalehan verbal yang mereka sampaikan berbanding lurus dengan kesalehan aksional yang ditunjukkan dalam keseharian mereka, sementara dai selebriti tidak banyak dituntut untuk menyeimbangkan dua kesalehan ini dalam mendapatkan karismanya.

Pergeseran besar di dunia dakwah tidak bisa dipungkiri memang tengah berlangsung. Dakwah kini tak lagi berada di wilayah sakral yang bebas nilai. Ia dipaksa masuk menjadi bagian dari budaya pop. Dakwah bahkan sudah bukan melulu panggilan hati, tetapi sudah dianggap sebagai profesi. Sajiannya pun terjebak pada kemasan, bukan lagi pada isi. Yang utama ditonjolkan justru unsur tontonannya. Tuntunannya hanya menjadi pengisi antarwaktu saja.

Dengan pergeseran itu, fungsi dakwah menjadi tereduksi. Kemampuan menghibur seorang dai dijadikan ukuran utama keberhasilan berdakwah. Dakwah tidak lagi bermakna bagaimana menunjukkan masyarakat ke jalan yang sesuai dengan materi dakwah, tetapi ia lebih bermakna bagaimana memenuhi keinginan produser untuk mendapat rating tinggi. Berdakwah seolah hanya keahlian menyampaikan kesalehan verbal yang patut dikomoditikan, tanpa ada label amanah ilahiah di belakangnya. Padahal, amanah inilah yang sebetulnya menuntut mereka untuk mempraktikkan materi dakwahnya dalam kesalehan aksional sebagai wujud pertanggungjawaban sosial.

Belakangan pengutamaan kesalehan verbal ini juga semakin dianggap wajar setelah muncul acara pencarian bakat berdakwah, yang konsepnya mirip dengan acara pencarian bakat yang lain di televisi. Lazimnya acara pencarian bakat, layanan pesan singkat (SMS) dari pemirsa dijadikan sebagai patokan utama untuk mengukur kehebatan seorang dai. Fakta ini juga menambah kepercayaan diri para dai bahwa umat saat ini memang hanya membutuhkan kesalehan verbal, bukan kesalehan aksional. Apalagi secara kebetulan, rating acara-acara itu cukup bagus, karenanya ditayangkan di jam-jam utama (prime time).

Kesalehan verbal pun lalu menjadi industri yang berkembang sangat pesat. Ia berkembang dengan dukungan para dai yang semakin kreatif mengembangkan media dakwahnya untuk menebar kesalehan verbal yang mereka miliki. Selain secara tradisional menjadi penceramah, mereka juga menebar kesalehan itu dengan berperan sebagai pembaca berita, pemberi tausiah di akhir sinetron, penyanyi, dan pencipta lagu. Belakangan juga sudah lumrah dai yang menjadi bintang iklan dan bintang sinetron. Bahkan, ada yang sibuk menyelipkan dagangan MLM-nya di sela-sela dakwahnya.

Lalu, apa pentingnya membicarakan ini dalam konteks Pasuruan? Sepertinya memang tidak ada hubungan langsung. Namun, bila jeli, kita akan paham bahwa memang telah terjadi pergeseran yang besar dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk masyarakat Pasuruan. Pergeseran itu utamanya dipengaruhi oleh televisi dan juga tentu saja media sosial. Nah, dua benda inilah yang memberi pengaruh kuat terhadap pola hidup, pola pikir, dan pola berinteraksi masyarakat kita, termasuk dalam urusan belajar agama.

Bila masyarakat kita (baca: Pasuruan) tidak segera diingatkan betapa pentingnya kembali menghidupkan atau merevitalisasi ngaji bakda magrib, ngaji di langgar, ngaji di pondok, ngaji di Masjid Jami’, ikut ngaji Reboan, ngaji Mingguan, dan pengajian-pengajian lainnya yang diadakan di sekitar Pasuruan, maka generasi mendatang akan tercerabut akar ke-Pasuruan-annya.

Mengapa? Karena bila mereka menganggap bahwa ustad-ustad di televisi atau di media sosial lebih hebat dan lebih patut diteladani daripada ustad-ustad di lingkungannya, maka mereka telah terperdaya oleh tipuan kemasan daripada substansi. Pada titik tertentu ini amat berbahaya, karena langgar akan sepi, masjid akan sepi, pondok akan sepi, bahkan pengajen Reboan bisa saja tak ada lagi yang mau datang. Sebagai gantinya mereka nyaman mendengar wejangan dan tausiah di televisi atau media sosial, lalu menganggap mereka sudah tahu banyak soal agama, padahal di sekelilingnya banyak sekali ahli agama yang dicueki tanpa dijadikan rujukan dalam beragama yang sesuai kultur ke-Pasuruan-an.

Tulisan saya sebelumnya tentang brand “kota seribu santri” menjadi cocok dikaitkan dalam pembicaraan ini. Karena bagi saya, kultur Pasuruan adalah kultur santri. Dalam kultur santri, kyai menempati posisi penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Secara berseloroh,di tulisan sebelumnya saya menyebut kalau dulu di Pasuruan, kyai itu sudah setengah wali. Karena dulu para kyai di Pasuruan menjadi rujukan hampir semua aspek kehidupan dan keseharian masyarakat Pasuruan, bahkan soal nama anak, hari pernikahan, hari baik dalam membuka usaha, dan sebagainya.

Nah, bila akar kultur seperti ini digantikan oleh televisi, maka Pasuruan tak akan punya ciri khas. Ia tak ubahnya kota lain yang tak punya kultur santri. Maka, selain menghidupkan kembali kultur santri dan kultur ngaji, masyarakat penting juga diedukasi agar tidak menghebatkan ustad-ustad di televisi itu. Jangan undang mereka datang ke Pasuruan untuk memberi pengajian, tausiah, atau tablig akbar, sebelum mereka tahu seperti apa kesalehan yang bersangkutan di dunia nyata.

Masyarakat harus diberi informasi bahwa yang terpenting adalah teladan, bukan omongannya. Dan, teladan itu hanya bisa kita ambil dari orang-orang yang betul-betul kita tahu kesehariannya. Karena, dakwah itu bukan acara dangdutan atau konser musik, yang hanya untuk hiburan sesaat. Dakwah adalah soal menanamkan nilai yang mengakar di kepala lalu bisa diamalkan di dunia nyata.

Para kyai dan ustad di Pasuruan pun juga harus berbenah. Tak usahlah beliau-beliau itu sibuk di partai politik, jadi tim sukses, atau ikut dukung-mendukung. Monggo kembali ke habitat masing-masing sebagai pendidik, pengayom, dan pengarah bagi semua. Jangan juga latah ikut-ikutan menjadi dai selebritis dengan hanya mengutamakan casing daripada isi. Monggo meneladani Romo Kyai Hamid atau Kyai Kholil Sidogiri. Nama dan teladan beliau melekat di benak masyarakat Pasuruan sebagai pendidik dan pengayom umat.

Adakah yang lebih mulia dari itu?

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Merajut Mimpi Wujudkan Wisata Heritage Terintegrasi

2 April 2024 - 11:04 WIB

Pemilih dalam Pemilu

14 Maret 2024 - 09:34 WIB

Prof Muhibin Zuhri: Teologi Kebhinnekaan Menjadi Pendekatan Alternatif untuk Jawab Problem Kemanusiaan

19 Desember 2023 - 20:29 WIB

Work Life Balance 

18 Desember 2023 - 12:55 WIB

Politik Uang & Dampaknya Bagi Kualitas PEMILU

9 Oktober 2023 - 05:19 WIB

Wisata Integritas Berbasis Ekonomi Hijau

31 Mei 2023 - 06:50 WIB

Trending di Pojokan