Mengenal Kampung Toga di Kota Probolinggo, Kampung Tangguh yang Bermanfaat dan Bernilai Ekonomis Saat Pandemi 

Reporter : Moch Wildanov

Editor : Agus Hariyanto

 

 

Probolinggo, kabarpas.com – Sebutan kampung Tanaman Obat Keluarga atau akrab dikenal dengan istilah Toga ini berada di Perumahan Umum Bromo Permai, Rw 3, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Tepatnya di jalan Kinibalu I, sekitar puluhan Kepala Keluarga memanfaatkan lahan sempit di setiap rumahnya untuk ditanami tanaman obat, seperti jahe, kunyit, mangkuto dewo, sambiroto, buah tin dan masih banyak jenis lainya.

Kampung toga ini digagas oleh Soetjiani Poer (76) atau akrab dipanggil suci. Sejak belasan tahun lamanya dan pada tahun 2006, karang kitri ini mulai digalakan dan ditularkan ke tetangga di kampungnnya.

Perempuan pensiunan ASN ini menuturkan dirinya mencintai dan menanam tanaman obat ini karena dirinya tidak bisa mengkonsumsi obat pabrikan.

“Saya tidak bisa minum obat kimia, sehingga saya memanfaatkan tanaman obat bila mengalami sakit,” ujar Suci kepada wartawan Kabarpas.com biro Probolinggo. Minggu (18/10/2020).

Suci menambahkan, seiring perkembangan jaman. Kini kampung Toga dikoordinasi oleh RT /RW setempat, dan sekarang hampir semua warga di perumahan ini sudah memiiki karang kitri sendiri dan sudah ada 200 jenis tanaman obat di kampung toga ini. “Sudah mencapai kurang lebih 200 jenis tanaman obat di sini,” imbuhnya.

Untuk komposisi dan manfaat tanaman obat, suci menimba ilmu dari rekan – rekanya baik melalui seminar, ilmu getok tular dan literasi buku yang dibacanya di saat senggang.

Sementara itu, Ketua RW III, Perum Bromo Permai, Solihin, menambahkan awal mula digagas kampung Toga, masyarakat menyambut baik dan hingga kini berkembang, bahkan sudah bisa menambah nilai ekonomis buat masyarakat.

Di massa pandemi Covid -19 ini, ajuran untuk meningkatkan imun dengan banyak mengkonsumsi asupan gizi yang berimbang dan meminum ramuan dari empon-empon warga sudah tidak ada kesulitan dan hanya memetik di halaman rumahnya.

“Untuk membuat minuman empon-empon dan memetik sayuran tinggal ambil, dan masyarakat saling mempersilahkan bila ada tetangga tidak memiliki tanaman yang dibutuhkan,” ujar Solihin.

Dari segi ekonomi, hasil olahan warga seperti minuman herbal untuk meningkatkan imun bentuk kemasan sudah laku di pasaran.

“Ada sales yang mengambil produk dan dipasarkan ke Lumajang, Pasuruan, Malang. Untuk nominal, masing-masing warga mendapatkan keuntungan berbeda-beda, dan tiap bulanya dari terendah Rp 200 ribu hingga terbesar mencapai Rp 4 juta,” ucapnya.

Berkat ketangguhanya kampung ini, mendapat julukan kampung Toga dan di massa pandemi dicetuskan menjadi Kampung Tangguh Semeru dan meraih 10 besar kampung tematik Toga se – Kota Probolinggo pada awal maret 2020.

“Alhamdulillah berkat kerja sama yang baik antar warga, kampung ini menjadi kampung tangguh semeru dan mendapat nominasi 10 besar kampung tematik se-Kota Probolinggo. Bahkan, sempat ada tamu dari negara Swedia yang menimba ilmu di kampung toga ini,” pungkasnya. (wil/gus).