Membersamaimu dengan Ikhlas Part-1

0 0
Read Time:3 Minute, 37 Second

By Novia El Rahma

KABARPAS.COM – PANDANGAN mataku masih berkunang-kunang, air mataku masih sembab dan kurasakan begitu
berat kepalaku “ Ya Rabb, begitu berat ujian hamba ini”
Masih teringat betul bagaimana suamiku yang sabar dan cerdas itu membawakan cemilan
mochi untuk disantap dengan teh hijau sepulang dari Laboratorium Tokyo Institute of
Technology.


“Hilya, Hilya…” suara khas ibuku dengan mengusap-usap pundakku. Tak membuatku
bergeming sedikitpun dari posisi ku dengan mata sembab. Mahendra bayi berusia 10 bulan itu
menangis dengan sangat melengking, seakan membutuhkan gendonganku dan senyum sapaku
kepada bocah kecil dan bertubuh ringkih itu. Putra bungsuku dari buah cinta ke tiga dengan
suamiku yang sabar, murah senyum dan cerdas, seakan merasakan runtuhnya separuh jiwaku
saat suamiku tercinta dipanggil kesisi Rabb-Nya.


Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membina rumah tangga dengan mas
Ridwan seorang dosen muda, sekaligus pembimbing skripsiku dalam jurusan yang kuenyam
selama 4 tahun disalah satu Universitas Negeri. Dalam perjalanan hidup suamiku sebagai dosen
muda, aku bukanlah satu-satunya kandidat yang akan diperistrinya. Sebelumnya seorang rekan
sejawat suamiku telah memperkenalkan seorang mahasiswi yang tinggi dan cantik yang
barusan lulus wisuda saat saya sedang proses PPL. Karena Allah tidak menggerakkan hati
mahasiswi kakak tingkatku yang baru lulus wisuda, maka suamiku kala itu mulai melupakan
dan mempersiapkan program doktoralnya ke negara bunga sakura.

Jepang merupakan salah satu negara impian suamiku sebagai dosen muda yang humble dan
cerdas. Mas Ridwan menyukai budaya Jepang yang terkenal disiplin serta sistem pendidikan
dan standar kompetensinya yang sudah teruji mampu menghasilkan penemuan dan ilmuwan.
Suamiku dengan mengantongi list S3 di Tokyo institute of Technologi, datang kerumah
menemui bapakku untuk meminang dan segera melakukan akad nikah dalam waktu yang dekat.
Karena saat pengumuman lolos S3, saya sebagai pengantin muda yang fresh graduate bakal
diboyong ke negara bunga sakura.


Musim dingin menyelimuti kota Tokyo dan desiran angin yang berhembus kencang
menandai kedatangan kami sebagai pasangan pengantin baru. Sekaligus aku mendampingi
suamiku mas Ridwan yang mendapatkan beasiswa studi doktoral di Tokyo. Suamiku sudah
memberi penjelasan terkait S3 nya yang berbasis penelitian, yang mana artinya waktu dikelas
hampir tidak ada karena lebih banyak dihabiskan di laboratorium. Sekelebat sebagai istri yang
mendampingi suaminya menempuh program doktoral, maka harus memiliki aktivitas sendiri
sambil menunggu suami tercinta pulang dari laboratorium.


Awal pagi di Tokyo, mas Ridwan mengajakku pergi keluar untuk menikmati musim dingin,
meski beberapa kota seperti Osaka, Tokyo dan Fukuoka jarang sekali untuk turun salju. Kami
hanya berjalan-jalan sekitar apartemen saja sambil menikmati pemandangan salju yang
menyegarkan dengan menyantap makanan khas musim dingin yang lezat. Oh yaa, dan tak kalah
romantis, suamiku yang humble dan cerdas ini memakaikan syal, sarung tangan dan jaket
hangat bak drakor winter sonata.


“Hilya,” ucap lirih suamiku sambil menyodorkan semacam surat perjanjian untuk membuat
kesepakatan awal dalam manajemen waktu kami. Kuambil secarik kertas dari tangan suamiku,
disana tertuliskan jadwal penelitian di laboratorium hari Senin-Jum’at dari jam 10.00 pagi
hingga jam 22.00 malam. Sabtu-Minggu waktunya untuk keluarga dengan Muroja’ah AlQur’an merupakan rutinitas sabtu pagi bagi keluarga kecil dan harmonis kami. Dan Minggu adalah waktu kami menghabiskan waktu bersama setelah suamiku berkutat di loboratorium
dan membutuhkan energi semangat untuk penelitian dilaboratorium pada Senin-Jum’at
berikutnya dan sharing dengan Profesor terkait perkembangan penelitian.


Dengan kesabaran suamiku dalam membimbing, kami bisa menjalankan adaptasi yang
begitu tidak mudah dengan tenang di negara bunga sakura ini. Karakter sederhana yang tidak
gengsi untuk membantu istri dalam hal memasak dan mengatur keuangan selama jenjang
doktoralnya, merupakan sinergi kami berdua sebagai pasangan baru untuk menuju keluarga
Rabbani.


Untuk mengisi kegiatan waktu luang menunggu kedatangan suamiku dari laboratorium, aku
mengisi waktu luang dengan mengenal pendidikan anak lebih dekat, dimulai dari daycare yang
sangat aman dikantong mahasiswa doktoral dengan istrinya yang sangat muda belia, hingga
jenjang Sekolah Dasar yang gratis ini sangat menggiurkan jika anak pertama kami nanti lahir.
Sesuai kesepakatan dengan suamiku tercinta bahwa minggu adalah waktu untuk
kebersamaan kami, Kyoto sebagai destinasi pertama.

Suamiku sudah mengantongi dua tiket Japan Rail Pass untuk bebas naik semua jenis kereta termasuk Shinkansen yang terasa tenang
dan minim goncangan, selain itu kursinya nyaman dan terjaga kebersihannya. Sehingga sangat
recommended bagi kami yang tidak ingin membuang waktu dan tenaga diperjalanan. Dengan
tersenyum lebar pada pipi lesungku, perjalanan menyenangkan sambil berhemat ala mahasiswa
beasiswa doktoral dengan menyesuaikan rencana perjalanan.
Kyoto memberikan suasana dan budaya khas Jepang, dikarenakan masih banyak terdapat
kuil Shinto dan Budda yang mempresentasikan Jepang sebagai salah satu destinasi wisata
utama yang ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. (***)

___________________________________

*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %