Mbah Kiai Hamid, Sosok Ulama Bersahaja yang Dekat dengan Siapa Saja

Oleh : Michael Noer, pria pecinta kopi asal Rembang

(Kabarpas.com) – HAMPIR setiap hari Kota Pasuruan seakan tak pernah sepi dari hilir mudik para penziarah ke makam KH Abdul Hamid bin Abdullah. Tak sedikit diantara penziarah ini, memilih menggunakan becak wisata untuk menuju makam yang berada di belakang Masjid Agung Al-Anwar Kota Pasuruan.

Namun, ada juga beberapa dari para penziarah yang lebih memilih jalan kaki sambil berduyun duyun untuk menuju ke makam Waliyullah, KH Abdul Hamid bin Abdullah yang sudah dikenal masyarakat luas memiliki banyak karomah tersebut.

Kiai Hamid memang istimewa. Makamnya menjadi salah satu tujuan utama para penziarah yang datang ke Kota Pasuruan , Sama dengan makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, dan Maulana Malik Ibrahim.

Keistimewaan itu membuat komplek Masjid Agung Al-Anwar selalu ramai sepanjang siang dan malam, khususnya di malam jumat. Kiai Hamid sudah dikenal luas tidak hanya di wilayah Pasuruan dan sekitarnya saja.

Melainkan juga dikenal di seluruh Indonesia. Bahkan, sampai di luar negeri. Hal itu tak lepas dari karomah beliau sebagai salah satu Waliyullah yang dikenal masyarakat sebagai sosok seorang ulama yang dekat dengan siapa saja.

Namun, beliau juga manusia biasa, yang pastinya akan menghembuskan nafas terakhirnya. Kala itu, Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi masyarakat muslim.

Ketika itu saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di dalam rumah yang berada di komplek Pondok Pesantren Salafiyah, Jalan Jawa (kini berubah menjadi Jalan KH Abdul Hamid.red) Kota Pasuruan.

Kiai Abdul Hamid menghembuskan nafas terakhirnya, dengan meninggalkan tiga orang putra. Yakni, Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris. Masyarakat pun menangis, tat kala mendengar kabar wafatnya sang waliyullah tersebut.

Kala itu, gerak hidup di Kota Pasuruan seakan berhenti, bisu, oleh duka yang begitu dalam dengan kepergian sang wali dan ulama yang semasa hidupnya menjadi jujugan sejumlah orang untuk meminta doa, barokah, dan konsultasi tentang kehidupan mereka.

Ratusan ribu Umat Islam berduyun-duyun membanjiri Kota Pasuruan, memenuhi relung-relung masjid Agung Al-Anwar, dan alun-alun kota. Mereka memadati ruas-ruas dan gang-gang jalan yang membentang di sekelilingnya.

Mereka dalam gerak serentak, mengangkat tangan sambil mengucapkan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat jenazah yang diikuti jamaah dengan jumlah yang sangat luar biasa. (***/sym).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *