Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Kampus · 12 Des 2018

Kalau Konsumen Rem Konsumsi, Pemerintah Akan Rem Ekspansi


Kalau Konsumen Rem Konsumsi, Pemerintah Akan Rem Ekspansi Perbesar

Pengirim : Yuyan Anggrainy, Mahasiswi UMM

 

 

KABARPAS.COM – PELAKU usaha ritel akan menahan ekspansi bisnisnya apabila daya beli konsumen turun, kekhawatiran daya beli melemah menyusul kenaikan suku bunga acuan bank Indonesia yang akan memicu kenaikan bunga fasilitas pinjaman dari perbankan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey memproyeksi sector perbankan segera menyesuaikan bunga mereka dalam satu kuartal hingga satu semester ke depan.

“Kalau konsumen mengerem konsumsi pengusaha mengerem ekspansi,” ujarnya.

Roy tidak khawatir sendirian. Ketua Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo juga merasa cemas jika daya beli kembali turun. Namun, ia lebih mengeluhkan depresiasi rupiah yang masih berkelanjutan ketimbang kenaikan suku bunga acuan. Toh, bunga acuan dirasa belum berpengaruh kepada industri dalam waktu dekat.

Meskipun, momentum natal dan tahun baru 2019 sudah di depan mata. Asal tahu saja, momentum di akhir tahun tersebut biasanya digunakan pelaku usaha untuk menggejot penjuakan. Jika beli terus lesu akibat depresiasi rupiah, dapat dipastikan pelaku usaha akan kehilangan momentum itu.

“Kekhwatiran pasti ada, kalau pelemahan rupiah terus terjadi, maka tekanan atas cost (biaya) akan terus naik,” terang Triyono.

Berbeda dengan Roy yang cendrung menahan ekspansi, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S.Lukman mengungkapkan, masih menunggu dan mengamati (wait and see) perkembangan dari industri dan kebijakan pemerintah sebelum memutuskan ekspansi. Dengan bergulirnya kebijakan moneter, ia melanjutkan, pemerintah terus member kompensasi kepada pelaku usaha. Salah satunya pembenahan regulasi perizinan impor yang masih berbelit.

Langkah itu dinilai efektif memberikan efisiensi biaya dan waktu bagi pelaku usaha.

“Karena kalau tidak (dilakukan efeiensi), dunia usaha terbebani, mau tidak mau nanti daya saingmakin turun dan ujungnya deficit makin bertambah ,” katanya.

Saat survei dilakukan pada kuartal terakhir tahun lalu itu, sebanyak 53% konsumen berpendapat bahwa Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Persentasenya meningkat dibandingkan kuartal III 2017, yaitu sebanyak 47% konsumen yang menjadi responden survei tersebut percaya akan terjadi krisis.  (***).

Artikel ini telah dibaca 174 kali

Baca Lainnya

Dari Pekarangan Jadi Peluang: Mahasiswa UNNES GIAT 15 Olah Kelor Jadi Puding Sehat, Lawan Stunting dan Bangkitkan Ekonomi Desa Karangtengah

14 Februari 2026 - 12:56

Tim Pengabdian Dosen dan Mahasiswa UM Sukses Ciptakan Inovasi MANGROVEX, Sistem EKOMANG dan Revitalisasi Mangrove

8 Desember 2025 - 18:20

673 Mahasiswa Universitas Yudharta Diwisuda, Rektor Tekankan Lulusan Unggul Berdaya Saing Global 

18 Oktober 2025 - 13:29

Tim PKM Uniwara Berikan Pemberdayaan Guru SD di Wilayah Rural

12 Oktober 2025 - 06:44

Kementerian UMKM Gelar Program Startup Acceleration 2025 di Makassar, Ajak Startup Indonesia Naik Kelas

1 September 2025 - 11:38

Mahasiswa Uniwara Ciptakan Tantera: Permainan Literasi Inovatif Berbasis Ular Tangga untuk Tingkatkan Kemampuan Baca dan Bicara Siswa

20 Agustus 2025 - 08:05

Trending di Kabar Kampus