Laporan : Rosy Adim, wartawan Kabarpas biro Pasuruan
Pasuruan, Kabarpas.com – Guna memanfaatkan sebagian area lahan yang sempit di dalam rumah tahanan (Rutan) kelas II B Bangil, warga binaan di Lapas setempat melakukan olah hasil panen dari sistem tanam hidroponik menjadi camilan.
Wahyu Indarto yang menjabat sebagai Kepala Rutan kelas II B Bangil menerangkan bahwa adanya tanaman dengan sistem hidroponik sangat mudah dan tidak membutuhkan lahan yang sangat luas untuk pemanfaatannya.
Ide yang berawal dari salah seorang pegawainya setelah usai menjalani tugas di Bontang tersebut, hidroponik dibuat untuk memperoleh hasil serta kesibukan tersendiri bagi para warga binaannya.
Tak hanya membuat kesibukan untuk para warga binaan, bahkan adanya hasil dari tanaman hidroponik tersebut dapat diolah menjadi berbagai olahan yang jarang ditemui di rumah tahanan lainnya.
Tanaman yang diolah dari hasil cocok tanam hidroponik tersebut yakni bayam merah, sawi dan selada.
Hidroponik yang dibuat sejak 2 bulan tersebut dapat dikatakan berhasil, dikarenakan sudah dapat dipanen setiap minggu sekali oleh para warga binaan yang ada di dalam Rutan tersebut.
“Dari tanaman hidroponik tersebut dapat diolah menjadi keripik, serta hasil penjualan yang dihasilkan dapat sedikit meringankan beban para warga binaan yang jarang dikunjungi oleh keluarganya,” terang Wahyu Indarto, Kepala Rutan Kelas II B Bangil.
Selain itu, hasil yang diperoleh dalam bertanam dengan sistem hidroponik dapat dipanen dalam waktu 1 minggu sekali, dengan olahan keripik bayam mencapai 50 bungkus di setiap minggunya.
Namun, hasil dari olahan keripik yang dihasilkan masih belum dapat dipasarkan hingga ke toko atau pasar, sayangnya hanya dapat dikonsumsi dan diperjual belikan kepada pengunjung dan warga binaan di dalam Rutan Bangil saja.
Tak hanya olahan keripik bayam, sawi dan selada, bahkan Rutan yang dihuni sebanyak 554 orang warga binaan tersebut juga memproduksi tempe untuk dijual dan untuk bahan makanan setiap hari kepada seluruh warga binaan Rutan Bangil.
“Dari hasil per kwintal tempe, kita diberi uang Rp 100 ribu. Warga binaan memiliki kesibukan sehingga dapat melepas penat selama berada di dalam rumah tahanan,” terang Ato’illah, salah satu warga binaan.
Alhasil, makanan ringan yang diproduksi oleh warga binaan Rutan kelas II B Bangil tersebut sangat laris diserbu para pengunjung Rutan dalam setiap kunjungannya.
Adanya kegiatan yang positif tersebut juga diharapkan membuat seluruh warga binaan di Rutan Bangil dapat meneruskan keterampilan dan jiwa kewirausahaannya selama mereka berada di dalam rumah tahanan tersebut. (***/Titin Sukmawati).



















