Kamis, 09 Oktober 2025 – 06.11 | 1281 kali dilihat
Jember, Kabarpas.com – Semangat pengabdian tanpa pamrih tercermin kuat dalam sosok Abah Irfan Asmuni, seorang guru ngaji asal Dusun Sumbersari, Desa Glendengan, Kabupaten Jember. Di usianya yang menginjak 55 tahun, pria kelahiran 1970 ini masih setia mengajar para santri setiap hari di Musala As Sulaimani.
Sejak tahun 1993, hanya 21 hari setelah menikah, Abah Irfan mulai mengabdikan diri mengajar Al-Qur’an. Ia tak pernah memungut biaya sepeser pun dari para santri. “Kegiatan mengaji di musala ini gratis. Tidak ada iuran, semua semata-mata untuk ibadah,” ujarnya dengan senyum saat ditemui kala menerima insentif, Rabu (8/10/2025).
Kini, musala yang diasuhnya menampung sekitar 83 santri dari berbagai usia. Kegiatan mengaji dimulai sejak sore, kadang setelah Zuhur, dan berlanjut hingga malam hari selepas salat Magrib. “Untuk anak-anak SMP biasanya malam, biar mereka bisa tetap belajar di sekolah pagi harinya,” kata Abah Irfan.
Meski pengabdian sebagai guru ngaji dijalaninya dengan penuh keikhlasan, kebutuhan hidup tentu tetap harus dipenuhi. Abah Irfan tidak bergantung pada donasi atau bantuan, melainkan mencari nafkah dari hasil bertani dan beternak. Ia dikenal di lingkungannya sebagai petani yang tekun sekaligus peternak kambing berpengalaman.
“Sudah sekitar sepuluh tahun saya jadi peternak kambing,” tuturnya.
Di lahan pertaniannya, ia menanam rumput gajah di sekeliling ladang sebagai pakan ternak. Strategi sederhana itu membuatnya tak perlu repot mencari rumput di tempat lain. “Kalau pulang dari ladang, rumputnya sudah siap di pinggir lahan. Tinggal dipotong dan dibawa pulang,” ungkapnya.
Dedikasi dan kerja keras Abah Irfan akhirnya mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Jember. Melalui program insentif guru ngaji, ia menerima bantuan sebesar Rp1.500.000 sebagai bentuk penghargaan atas jasa para pengabdi keagamaan di tingkat desa. Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga wujud kepedulian pemerintah terhadap perjuangan para guru ngaji di pelosok.
“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Terima kasih kepada Gus Bupati atas perhatian dan bantuannya,” ungkap Abah Irfan. Ia menuturkan, sebagian dana tersebut akan digunakan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di musala, dan sisanya untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.
Yang membuatnya semakin bersyukur, proses penyaluran insentif kali ini dinilai lebih cepat dan efisien. Tak perlu lagi antre lama di bank, karena penyalurannya langsung dilakukan di balai desa. “Sekarang jauh lebih mudah dan cepat. Kami tidak perlu meninggalkan ladang atau musala terlalu lama,” katanya.
Sosok Abah Irfan menjadi contoh nyata bahwa dedikasi dan ketulusan masih hidup di tengah masyarakat. Ia bukan hanya guru ngaji yang membimbing generasi muda dengan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga sosok pekerja keras yang menjaga kemandirian melalui pertanian dan peternakan. (dan/ian).



















