Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 6 Nov 2017 07:36 WIB ·

Ini Tips Agar Terhindar “Virus” BAPER


Ini Tips Agar Terhindar “Virus” BAPER Perbesar

Oleh : Firman Nurdin, Konsultan Kautsar Management

(Kabarpas.com) – BAPER? Siapa yang tidak kenal dengan istilah baper? Sebuah istilah yang sering sekali disebut-sebut oleh masyarakat banyak di Indonesia. Familiar terdengar di hampir seluruh media terebih media sosial saat ini.Sebuah kata yang berarti ‘bawa perasaan’ digunakan untuk mengekspresikan perasaan yang ikut terbawa pada suatu kondisi atau keadaan yang tidak mengenakkan hati.

Tentunya perasaan hati yang kita inginkan selalu dalam keadaan sukacita, agar apa yang kita alami pada diri sendiri hadir dalam suasanya happy. Akan tetapi inilah kehidupan yang tidak selamanya sesuai dengan harapan. Terlebih saat kita berinteraksi sosial dengan orang lain yang tentunya dengan backgroud orang yang berdeba-beda, pola pikir, pendidikan, sikap dan karakter seseorang.

Suatu ketika saat diri kita timbul perasaan yang menggores hati dari kata maupun perbuatan orang lain, ada yang sulit mengobati yang berakibat timbul rasa benci hingga menyimpan dendam, namun ada pula yang merespn dengan dia tidak menganggapnya sama sekali. Ibarat pribahasa berkata, anjing menggonggong kafilah berlalu. Biar sajalah! Karena susah-senang diri kita sendirilah yang menjalankannya, adapun orang lain hanya menjadi pengamat dan pemberi komentar sebagai bagian dari faktor yang akan menentukan bagaimana kita berhasil melewatinya sebagai cobaan. Kita bertanggungjawab atas kehidupan diri sendiri,menjalani kehidupan adalah hak kita sendiri, dan kesuksesan kehidupan kita adalah tujuan yang kita dambakan.

Pernah mendengarkah cerita yang sangat tidak asing ditelinga kita? Kisah seorang ayah, anak dan keledai yang dibawanya. Mereka yang dalam perjalanannya berkali-kali menjadi pembicaraan orang lain yang dilaluinya, dikomentari dan dikritisi tentang apa saja yang dilakukannya saat berjalan ditengah permukiman. Hingga akhirnya sang ayah dan anak tersebut melakukan sebah tindakan yang tidak sewajarnya sangat ‘tidak normal’ dengan malah si keledainyalah yang mereka pikul berdua saat melakukan perjalanan. Kita dapat mengambil intisari dari kisah tersebut adalah bahwa memutuskan sesuatu di dalam kehidupan ini ada pada diri kita sendiri, bukan pada apa yang dikatakan orang lain atas diri kita terlebih hal yang menjerumus kepada penilaian negatif yang akhirnya kita bawa perasaan alias baper.

Berikut agar kita terhindar dari ‘virus’ baper, atara lain:

Pertama, memiliki prinsip hidup. Seperti apakah prinsip hidup yang kita miliki saat ini? Lalu apakah prinsip hidup itu sudah dapat memandu kita dalam menentukan arah? Dan apakah kita sudah berusaha menjalankan prinsip hidup itu dengan tepat terlebih saat mengatasi suatu hal dalam kondisi kita yang sulit? Temukan dan peganglah prinsip dengan penuh keyakinan diri kita bahwa semakin banyak orang yang mengomentari, mengkiriti hingga mungkin mencaci, apabila itu benar ditujukan kepada diri kita atas segala kekurangan atau belum berkemampuannya diri kita maka sebaiknya kita menyadari atas ketidaksempurna diri dan koreksilah tak perlu dijadikan sebagai kekecewaan atau kesakithatian. Dan segeralah lakukan langkah terbaik untuk diri kita dengan terus menempa kepercayaan diri untuk terus melakukan yang terbaik dengan benar.

Kedua, nikmatilah perjalanan kehidupan ini untuk berbahagia. Adalah sifat manusiawi apabila kita merasa sakit hati saat ada orang yang menyinggung perasaan kita. Namun akan lebih hebat lagi apabila kita bisa menyadari akan hakikat kualitas diri ini yang mampu menghadirkan sifat sebagai ‘malaikat’ yang penuh dengan tindakan kebenaran. Tak perlu kita anggap dan kemudian disimpan dalam-dalam di hati hingga bisa membekas sebagai luka atau bahkan selalu termemori untuk melakukan pembalasan kepada orang yang melukai diri kita. Tetap semangat, teruslah berjalan mengarungi samudera kehidupan ini dengan penuh keceriaan dan kegembiraan. Nikmatilah kehidupan ini dengan cara yang benar dan raihkah kebahagiaan hidup tanpa berpusing-pusing dengan hal-hal yang negatif yang orang lain suntikkan kepada diri kita.

Ketiga, sadarlah setiap orang diciptakan berbeda. Masing-masing manusia memiliki latar belakang yang berbeda, kepribadian yang berbeda, sikap dan perilaku yang berbeda, terlebih bertutur kata yang sangat berbeda sesuai dengan karakter dirinya masing-masing. Dan itulah manusia itu terlahir sebagai keunikannya masing-masing atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Cukup itu saja yang perlu kita pahami sebagai kesadaran diri yang tidak akan mungkin kita punya kuasa atas setiap diri orang lain.

Keempat, ingatlah perjalanan para orang-orang sukses baik dalam hal kehidupan, karir maupun bisnisnya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dulunya tak lepas dari segala underestimateterhadapnya, meremehan hingga mengecam negatif terhadap apa yang dilakukannya. Pada dasarnya memang orang sukses akan konsentrasi penuh pada semua aspek dalam kehidupannya. Entah itu pada dirinya sendiri maupun orang lain. Menjadi sibuk, produktif dan kemudian berbuah kesuksesan itu sangat luar biasa, namun yang lebih penting lagi adalah kita bisa mendapatkan semua itu dengan menemukan kebahagiaan di dalam diri kita. Adapun orang lain, apabila mereka berikan hal yang positif maka ia jadikan sebagai tambahan spirit. Namun apabila mereka yang memberikah berupa hal-hal yang negatif yang cenderung menjatuhkan, maka itu diabaikan sajalah. Malah kita harus terus berusaha untuk membuktikan keyakinan diri ini kepada dunia yang akan membuat kita menjadi orang yang hebat.

Kelima, hadapilah semua dengan senyuman. Senyuman membawakan diri manusia dalam ketenangan. Dengan ketenangan akan membuahkan hasil yang terbaik dan dapat membawa kita pada keberhasilan. Sehigga kita bisa merasakan, melihar dan mendengar sesuatu hal secara jernih dengan menghadirkan wajah yang selalu kita pastikan penuh dengan senyuman. Meskipun terkadang pada saat hati tidak dalam bersukacita, akan tetapi berupayalah tetap tersenyum hingga suasana hatipun akan bersahabat dengan senyuman itu dan akhirnya antara hati dan bibir diwajahmu akan sepakat untuk memancarkan senyum yang penuh dengan kebaikan untuk pribadi kita sendiri dan juga orang lain yang berada disekitar kita. Adapun pada akhirnya urusan hati sepatutnya kita hanya bisa berserah diri kepada Tuhan yang menciptakan setiap diri kita yang memiliki kewenangan untuk membolak-balikan hati.

______________________________________________________________

 * Rubrik Inspirasi dan Motivasi hidup ini adalah kerjasama antara Kabarpas.com (PT. Media Masyah Publika) dengan kautsarmanagement.id (Kautsar Management) yang berkantor di Jakarta.
Artikel ini telah dibaca 16 kali

Baca Lainnya

Makna Mendekat

20 Juli 2024 - 08:57 WIB

Makna Karunia

12 Juli 2024 - 09:40 WIB

Ancaman Judi Online di Zaman Digital

9 Juli 2024 - 06:25 WIB

Money Politic? Why Not! Honest And Fair Politic? Nonsense!

9 Juni 2024 - 13:09 WIB

Menyelami Kajian Politik Pragmatis Versus Politik dalam Perspektif Psikologi Islam

6 Juni 2024 - 08:13 WIB

Jaga Kesehatan Mental di Masa Perhelatan Politik yang Mulai Memanas

31 Mei 2024 - 18:09 WIB

Trending di Kabar Terkini