Ijazah Fatihah 100 Kali dari Mbah Hamid Pasuruan

Oleh: Abdur Rozaq

KABARPAS.COM – RASULULLAH SAW wafat sekitar 14 abad yang lalu. Namun hingga kini, beliau tetap “hidup”, bahkan lebih hidup dari manusia yang benar-benar hidup. Nama Rasulullah tetap disebut-sebut oleh jutaan lisan, dirindukan jutaan hati. Demikianlah manusia-manusia pilihan, tetap hidup meski jasadnya telah terpisah dengan ruh.

Tepat hari ini, empat puluh tahun lalu Mbah Abdul Hamid Pasuruan mangkat. Namun hingga kini, beliau tetap hidup di hati umat. Manusia seperti Nabi Muhammad hanya sekali terlahir, manusia seperti Mbah Hamid, mungkin terlahir seratus, dua ratus atau bahkan tiga ratus tahun sekali dalam siklus kehidupan ini.

Mbah Hamid Pasuruan adalah seorang wali, yang insya Allah termasuk dalam golongan abdal. Terbukti, kewalian beliau berjalan dengan “wajar-wajar” saja tidak seperti wali mastur yang disembunyikan Allah derajatnya. Tidak pula seperti wali jadab yang mabuk cinta, hingga lupa segalanya selain Allah. Mbah Abdul Hamid, selain begitu pengasih terhadap siapa pun, juga menjalankan tugas kewaliannya dengan “wajar-wajar” saja.

Ya mengajar ngaji, mengajar pengajian, menerima tamu dan segenap aktivitas lain layaknya seorang kiai pada umumnya. Alangkah beruntung umat Islam yang menangi atau hidup sezaman dengan beliau, karena hampir segala problematika hidup bisa dicarikan solusi melalui beliau.

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin, beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang.

Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.

Mbah Abdul Hamid adalah “orang dalam” di kerajaan langit, sehingga hampir segenap permasalahan pelik bisa “dirundingkan” melalui beliau. Para tamu yang silih berganti sowan dengan membawa berbagai masalah pelik, oleh Mbah Abdul Hamid dimohonkan amnesti kepada Allah.

Dan dengan kemurahan-Nya, masalah-masalah tersebut terpecahkan dengan ending yang menggembirakan.
Sehari menjelang pelaksaan haul beliau tahun ini, di masjid Abdul Hamid di kompleks Pesantren Baytul Hikmah digelar temu alumni nasional. Dan alhamdulillah, penulis yang saat itu hadir dalam rangka mengikuti vaksinasi Covid, mendapat ijazah umum dari al maghfurlah.

Alkisah, salah satu alumni pesantren Salafiyah mendapat ijazah langsung dari beliau. Ijazah tersebut adalah membaca Alfatihah seratus kali dalam sehari semalam. Amalan tersebut bisa dicicil sebagai wirid selepas sholat. Yaitu setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.

Sang santri yang mengamalkan ijazah tersebut mengaku “saya tak pernah punya uang, tapi jika butuh apapun, pasti punya uang yang cukup untuk mewujudkan hajat tersebut,” katanya. (***).