Jember, Kabarpas.com – Banjir besar yang melanda Kabupaten Jember sejak Kamis petang (12/2/2026) hingga Jumat sore (13/2/2026) berdampak luas di sembilan kecamatan dan puluhan desa. Sedikitnya 7.249 kepala keluarga terdampak, satu warga dilaporkan meninggal dunia, serta ratusan lainnya sempat mengungsi akibat luapan sungai yang merendam permukiman dan merusak infrastruktur.
Kepala BPBD Jember Edi Budi Susilo mengatakan, bencana dipicu hujan ekstrem berjam-jam yang menyebabkan sejumlah sungai meluap hampir bersamaan. Air bahkan sempat mencapai ketinggian hingga dua meter di beberapa titik.
“Curah hujan tinggi membuat debit air di banyak sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman. Tim gabungan langsung melakukan evakuasi dan penanganan darurat sejak Kamis malam,” ujarnya.
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Panti, Sukorambi, Rambipuji, Kalisat, Kaliwates, Bangsalsari, Ajung, Balung, hingga Wuluhan. Kecamatan Rambipuji menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah, disusul Balung dan Wuluhan. Selain merendam ribuan rumah, banjir juga menyebabkan tiga jembatan ambruk, satu masjid roboh, pondok pesantren serta sejumlah fasilitas pendidikan terendam.
Korban meninggal dunia tercatat seorang perempuan berusia 55 tahun warga Desa Kaliwining, Rambipuji. Korban diduga tersengat aliran listrik saat membersihkan rumah yang terendam banjir.
Di tengah kondisi darurat, sebanyak 557 warga sempat mengungsi di berbagai lokasi, termasuk masjid, balai desa, rumah warga, hingga sekolah. Kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penyandang disabilitas turut menjadi perhatian utama dalam proses evakuasi. Namun BPBD memastikan seluruh pengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing setelah air berangsur surut.
Upaya penanganan dilakukan secara intensif sejak awal kejadian. Tim Reaksi Cepat BPBD bersama Basarnas, TNI-Polri, relawan, tenaga kesehatan, serta perangkat kecamatan dan desa dikerahkan untuk mengevakuasi warga, terutama kelompok rentan, sekaligus melakukan pemantauan di titik-titik rawan. Petugas juga membersihkan sisa genangan dan lumpur di permukiman, termasuk di kawasan padat penduduk seperti Kampung Ledok, Kaliwates.
Pemerintah daerah mendirikan sejumlah posko tanggap darurat dan dapur umum di wilayah terdampak parah, di antaranya di Kecamatan Rambipuji, Balung, dan Wuluhan. Bantuan logistik, makanan siap saji, selimut, serta kebutuhan dasar lainnya didistribusikan kepada warga. Untuk mengatasi krisis air bersih akibat sumur tercemar, BPBD bekerja sama dengan PDAM menyalurkan puluhan ribu liter air bersih serta mengirim tandon penampungan ke desa-desa terdampak.
“Kami juga mendirikan dapur umum dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi, termasuk air bersih dan layanan kesehatan. Penanganan difokuskan pada wilayah yang paling parah,” kata Edi.
Selain penanganan darurat, petugas turut melakukan pendataan kerusakan rumah dan fasilitas umum sebagai dasar penyaluran bantuan lanjutan. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan dinas terkait untuk distribusi logistik tambahan dan rencana pemulihan pascabencana, terutama di wilayah Rambipuji yang menjadi prioritas.
BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat potensi cuaca ekstrem masih berlangsung di Jawa Timur hingga beberapa hari ke depan. (dan/ian).



















